SUARA mesin gurinda mulai hilang di telinga pengendara motor yang melintasi ruas Jalan Aroepala hingga ke poros Makassar-Gowa. Suara gurinda yang terdengar hingga larut malam, memang sempat membisingkan telinga. Setahun lebih kilau batu cincin sangat digandrungi masyarakat di seluruh Indonesia.
Laporan: IRFAN
Saat ini tampaknya demam batu akik mulai meredup. Sejak empat bulan lalu, para pemburu dan kolektor baru akik mulai melupakan incarannya. Bahkan, pamor batu akik-pun sudah memudar. Hal ini membuat sejumlah penjual batu akik yang membuka lapak di sejumlah ruas jalan, kompleks perumahan hingga pusat pertokoan mulai mengeluh. Mereka mengaku, penjualan batu akik sedang sepi. Menurut mereka, pamor batu akik yang semula booming dan mencapai puncak popularitas akhirnya lenyap seketika.
Masyarakat yang seringkali kita jumpai di kompleks perumahan yang duduk asyik menggosok batu, hingga memamerkan batu-batu kebanggaannya juga tidak terlihat lagi.
“Sekarang memang sudah mulai berkurang. Kemarin-kemarin, tukang gurinda batu sama gosok batu tumbuh subur di mana-mana, tapi sekarang mulai berkurang,” ujar Obet warga Jalan Tidung VII, yang juga pecinta batu akik.
Begitupun di Kawasan Pasar Segar di Jalan Pengayoman, yang merupakan pusat sentra penjualan batu cincin terbesar di Kota Makassar. Di lokasi itu, masih terlihat berderet kios-kios penjualan batu cincin dan batu mulia lainnya. Meskipun para pencinta batu mulai kurang berdatangan. Padahal, beberapa bulan lalu, lokasi itu masih sempat disesaki pecinta batu yang datang memilih dan menerawang batu menggunakan senter, termasuk ikut kompetisi batu cincin.
Bermacam-macam jenis batu cincin dan batu mulia lainnya tersedia di Pasar Segar. Baik dari batu lokal atau dalam wilayah Sulsel, maupun dari seluruh penjuru dunia.
Kondisi ini dibenarkan, oleh salah seorang pedagang batu di Pasar Segar, Muhammad Yusuf Alfarizi. Ia mengaku, beberapa bulan lalu omset penjualan batu bisa mencapai Rp100 juta perbulan, sekarang hanya tinggal 20 juta perbulan. Bahkan, untuk melanjutkan usaha tersebut, jelas M Yusuf, ia mengobral batu cincinnya dengan harga murah.
Yusuf juga berharap, agar pemerintah ikut merespon pedagang batu.”Pelaku-pelaku atau pedagang batu belum mendapat respon dari pemerintah. Misalnya saja, pemerintah mendorong pihak perbankkan agar memberikan kredit dan pelayanan yang mudah kepada para pelaku dan pedagang batu,” harap Yusuf pemilik Gemstone Mya 27 tersebut.
Senada dengan Yusuf, Pipin pemilik Gemstone Nagakarra, mengungkapkan, pemerintah harus membantu para pelaku dan pedagang batu, mensosialisasikan potensi batu yang ada di Sulawesi Selatan.”Pemerintah harus mensosialisasikan potensi batu yang ada, agar penggemar batu semakin ramai datang disini.”
Sementara itu, salah seorang pecinta batu, Nasir daeng Erang yang ditemui BKM mengakui, jika ia tidak lagi menggunakan batu cincin. Alasannya, zaman batu sudah berlalu.”Aihh batuku kusimpan mami jadi koleksi,kah lewatmi jamannya belah.”
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Safri (22), Salah satu penggemar batu. Ia mengatakan, dulu dia sangat suka mengenakan batu cincin.”Dulu jariku selalu lengkap dengan batu cincin. Dua di kanan dan dua cincin juga di kiri, tapi sekarang jarangmi kuliat orang pakai batu, jadi malas ma’ juga pakai cincin,” katanya.
Pedagang batu cincin yang juga ditemui di Jalan Tun Abdul Razak, Rahman (37), warga Jalan Samata, mengatakan, sebelumnya pamor batu akik sempat melambung hingga harganya pun di atas ratusan ribu rupiah untuk satu buah batu akik yang belum pakai batang. Namun, belakangan ini ada batu akik yang dijual di bawah Rp50.000 per buah.“Sekarang memang sudah mulai berkurang. Kemarin-kemarin, tukang gurinda sama gosok batu tumbuh subur di mana-mana, tapi sekarang mulai berkurang,” ujar Iwan. Ia menuturkan, saat booming batu akik, dirinya bisa menyicil barang elektronik dari hasil jualan batu akik. “Tapi sekarang mati suri. Untuk makan juga susah. Penghasilan pun di bawah seratus ribu per hari, bahkan malah ada yang gulung tikar,” ucap Rahman.
Ia beranggapan, menurunnya omzet penjualan batu akik, bisa saja disebabkan karena masyarakat sudah mulai jenuh, banyak pedagang, dan bisa juga batu akik sudah bukan barang aneh atau berharga lagi.(ppl1)
