Site icon Berita Kota Makassar

Aku Serumah dengan Pasangan Gay Suamiku

Aku Serumah dengan Pasangan Gay Suamiku

Aku Serumah dengan Pasangan Gay Suamiku

Semua penjelasan suamiku tentang Ray saya telan bulat-bulat. Saya percaya begitu saja.
Hingga pada suatu hari, diusia perkawinanku yang kedua, timbul kecurigaan terhadap suamiku dan Ray.
Saat itu, Ray sedang nginap di rumah. Kebetulan dia sedang demam.
Karena punya kerjaan di kantor, sebelum berangkat, dia tak sempat mengantar Ray ke dokter. Dia menyuruhku membeli obat demam di warung terdekat. Akupun ke warung. Ketika obat itu ingin kuserahkan ke Ray, darahku terkesiap melihat Ray dan suamiku sekilas terlihat seperti berpelukan.

Laporan: Rahma Amri

Kuserahkan obat ke Ray dan berlari ke kamarku. Suamiku pun menyusul dan menanyakan kenapa sikapku begitu. Kuceritakan kecurigaanku. Dia pun menampiknya. Joko mengatakan jika dia berusaha membangunkan Ray yang kondisinya sedang lemah untuk dibantu ke kamar kecil.Alasannya itu akhirnya mematahkan kecurigaanku.
Sebenarnya hubungan dengan suamiku selalu harmonis. Dia selalu berusaha memenuhi kebutuhanku dan anakku.
Sebagai adik angkat suamiku, Ray juga sangat baik dan kerap membantuku melaksanakan pekerjaan rumah tangga.
Hingga suatu hari, aku menyaksikan pemandangan yang tidak bisa kumaafkan darinya.
Waktu itu aku ke pasar berbelanja. Suamiku tinggal di rumah bersama Ray menjaga anakku. Kebetulan waktu itu, Joko dan Ray sedang tidak bekerja.
Pulang dari pasar, aku melihat anakku bermain sendirian di ruang tamu. Tak kulihat suamiku dan Ray. Akupun ke belakang menaruh belanjaan. Kebetulan dapur dan kamar Ray berdekatan. Kudengar ada suara mendesah dari balik pintu kamar Ray. Kudorong pintu itu untuk mengetahui apa yang terjadi. Jantungku terkesiap. Hatiku hancur luluh. Mukaku memucat. Kulihat Ray dan suamiku sedang berciuman layaknya suami isteri. Keduanya kaget karena tidak menyangka kehadiranku.
Tanpa butuh penjelasan keduanya, akupun membereskan pakaianku dan memasukkannya ke koper. Kugendong anakku dan keluar rumah menyetop taksi. Suamiku yang berusaha mencegah tidak kuhiraukan. Sejak melihat aksi keduanya, aku merasa merasa jijik. Rasa cintaku pada Joko pupus seketika. Kubawa anakku ke rumah orang tuaku. Kujelaskan ke mereka apa yang terjadi.
Orang tuaku pun murka. Mereka mendorongku untuk bercerai. Hidupku tak ingin kuhabiskan dengan lelaki laknat itu. Berkali-kali Joko menelponku tak kuhiraukan. Ketika dia datang ke rumahku, orang tuaku langsung mengusirnya. Kini, aku sudah terlepas dari lelaki itu. Kutatap hidupku ke depan dengan optimis. Aku ingin membesarkan anakku dengan baik tanpa terkontaminasi dengan perbuatan bejat ayahnya. (rhm/cha/b)

Exit mobile version