IBARAT gunung es, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih sulit terdeteksi. Namun, walaupun lebih banyak yang belum diketahui, peningkatan penyakit mematikan ini sangat mengkhawatirkan.
Laporan: RAHMA AMRI
Data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sulsel, hingga Juni 2015, jumlah penderita HIV/AIDS di Sulsel mencapai 9871 orang. Angka itu mengalami peningkatan cukup pesat selama enam bulan terakhir.
Penilaian masyarakat yang negatif terhadap pengidap penyakit mematikan itu merupakan faktor utama mereka enggan memeriksakan diri.
Orang-orang yang diketahui masyarakat mengidap HIV/AIDS akan dikucilkan.
Seperti pengalaman salah satu ODHA, Bunga, nama samaran (34 tahun).
Dia mengaku, setelah divonis mengidap HIV dan status kesehatannya itu diketahui, kehidupannya sangat menyedihkan. Orang-orang menjauhinya. Yang paling menyakitkan, berdasarkan pengalamannya, ketika dirinya usai melahirkan, secara sepihak, tanpa meminta pertimbangannya, kandungannya ditutup. Padahal, saat ini sudah ada upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan HIV dari ibu hamil kepada anaknya.
Lain lagi yang dialami oleh Rambo (nama samaran). Ketika keluarganya mengetahui dia mengidap penyakit mematikan itu, dia langsung dikucilkan. Dia tidak diberi ruang untuk bebas bergerak seolah dirinya membahayakan banyak orang.
Selain itu, stigma masyarakat terhadap pengidap HIV/AIDS, adalah mereka itu orang-orang nakal secara perilaku seks dan pecandu narkoba. Padahal, ada juga yang mengidap penyakit itu karena tertular dari pasangannya.
Kepala Biro Napza dan HIV/AIDS, Sri Endang Sukarsih mengatakan, seharusnya masyarakat harus mengubah paradigma dan pandangan terhadap penderita HIV/AIDS.
Karena itu, pada peringatan hari AIDS se-dunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember mendatang, lebih difokuskan bagaimana bisa memberi ruang yang lebih baik bagi penderita HIV/AIDS.
“Kita berusaha mengubah paradigma masyarakat terhadap penderita penyakit itu. Bagaimana kita bisa memanusiakan manusia, dan jangan dikucilkan,” jelasnya.
Banyak program yang dilakukan Biro Napza dan HIV/AIDS untuk mengurangi penularan penyakit itu. Diantaranya melakukan sosialisasi dan gerakan-gerakan moral pencegahan penyakit itu. Termasul juga melakukan upaya meningkatkan kualitas hidup ODHA.
“Kami terus berupaya agar penderita penyakit itu tidak bertambah dan tingkat kehidupan ODHA semakin baik. Zero new, zero death dan stip stigma diskriminasi untuk meningkatkan kualitas hidupnya,” pungkas Sri Endang. (rhm/b)
