TAKALAR, BKM — Tim Aspura Universitas Negeri Makassar (UNM) mengecam kepemimpinan wasit Kamal saat memimpin laga di turnamen Bina Asih Cup V 2015 yang dilaksanakan di Desa Parapunganta Kecamatan Galesong Utara.
Kecamatan tersebut dilakukan atas sikap wasit yang memimpin jalannya laga dinilai berat sebelah karena banyak keputusannya merugikan Tim Aspura UNM. Pada Rabu (11/11) kemarin Aspura UNM tampil dibabak enam besar.
Manajer Tim Aspura UNM Tauhid kepada BKM, Kamis (12/11) menjelaskan Bina Asih Cup V ternoda dengan kepemimpinan wasit yang tidak profesional. Sepakbola Indonesia akan sulit maju jika panpel tidak jeli dalam memilih wasit yang mampu menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pengadil yang benar-benar adil di lapangan hijau.
”Kami dicurangi oleh wasit dengan memimpin laga yang berat sebelah,” kelas Tauhid.
Tauhid mendesak komisi wasit PSSI Sulsel untuk mencabut linsensi wasit atas nama Kamal. Bupati Takalar yang sudah banyak berkorban untuk sepakbola tapi ternyata wasit masih bermain gajah.
”Harapan kami agar wasit bernama Kamal dicabut linsensinya. Treckrecord wasit bersangkutan juga selama memimpin laga tidak bagus,” tandasnya.
Sementara Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNM Arifuddin Usman menegaskan kemempinan wasit seperti ini tidak bisa dilakukan pembiaran. Panpel semestinya harus memberikan tindakan tegas dan semestinya melakukan pergantian terhadap wasit yang tidak profesional dalam memimpin laga.
”Jangan sportivitas dan fair play dalam olahraga dirusak oleh wasit. Selaku akademisi olahraga kami tidak menghendaki model wasit seperti ini,” tegasnya.
Arifuddin menambahkan kalah menang dalam sepakbola adalah sebuah hal yang biasa tapi yang luar biasa adalah ketika pengadil lapangan tidak mampu menjalankan tugasnya secara adil. ”Kalau cara wasit memimpin laga seperti ini maka jangan heran kalau turnamen selalu berujung ricuh,” tukasnya. (ril/c)