Site icon Berita Kota Makassar

Jepang Dukung Program Budidaya Sagu di Luwu

LUWU, BKM — Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang untuk Makassar Masaki Tani bersama Prof Wosozawa menyatakan ketertarikannya terhadap komiditas sagu yang banyak diproduksi di Kabupaten Luwu. Bahkan, Jepang siap membangun kerja sama untuk budidaya tanaman ini.
”Kita ingin membangun kerja sama dan mendukung program budidaya tanaman sagu di Luwu,” kata Masaki Tani ketika menemui Bupati Luwu Andi Mudzakkar di rumah jabatan, Jumat (13/11).
Akademisi asal Jepang Prof Wosozawa yang menyertai Konjen Jepang, menambahkan bahwa kerja sama yang dijajaki dengan Pemkab Luwu bukan hanya untuk komoditi sagu. Jepang, kata Prof Wosozawa, sangat tertarik dengan potensi sumber daya alam Kabupaten luwu
“Negara saya berharap bukan saja budidaya sagu yang dikerjasamakan. Tetapi potensi lain yang ada di Luwu bisa kita kerjasamakan,” tutur Wosozawa dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih.
Menanggapi tawaran kerja sama tersebut, Bupati Luwu Andi Mudzakkar menjelaskan, sagu sudah menjadi makanan pokok warga Luwu sejak dahulu selain beras. Namun setelah pengembangan area persawahan, banyak lahan sagu yang tergerus. Sebab tidak ada jaminan pengembangan sagu menjadi konsumsi pangan bagi warga Luwu.
“Dengan kedatangan Konjen Jepang Masakai Tani dan Prof Wosozawa, dengan dukungan Ketua DPRD Andi Muharir dan anggota dewan, maka program budidaya sagu akan kita sikapi dalam bentuk kerja sama dengan negara Jepang,” kata Cakka, sapaan akrab Bupati yang ditemui di rujab Bukit Limpujang, Minggu (15/11).
Dijelaskan Cakka, saat ini pemkab bersama DPRD Luwu sedang merancang peraturan daerah terkait budidaya sagu. Namun ada beberapa item usulan pihak Konjen Jepang yang tidak sertamerta disepakati, karena harus dibicarakan lagi dan disepakati oleh legislatif jika perda budidaya sagu ini telah diparipurnakan.
”Perda budidaya sagu harus sinergi dengan perda tata ruang. Sebab dalam perda tata ruang sudah ditetapkan zona kawasan pertanian, perkebunan, industri dan zona perdagangan,” jelas Cakka.
Terkait usulan dalam perda untuk menyiapkan satu hektar lahan tiap kecamatan di Kabupaten Luwu sebagai lokasi budidaya sagu, Cakka mengatakan, akan melakukan pembahasan ulang. Sebab berdasarkan data, pohon sagu hanya bisa dibudidayakan di sembilan wilayah perkebunan kecamatan dari 22 kecamatan di Luwu. “Ini berdasarkan acuan pengusulan perda tata ruang,” tandasnya.
Menurut Bupati Luwu dua periode ini, selama ini komiditi sagu telah diolah melalui industri rumah tangga. Salah satunya yang cukup terkenal saat ini adalah kue bagea. (wan/rus/c)

Exit mobile version