Aku merasa kebencian anak-anak suamiku semakin membuncah ketika diriku lebih dibela dibandingkan mereka. Begitu juga dengan keluarga istri pertamaku. Padahal, saya merasa sangat tulus untuk mengabdi pada keluarga itu karena mengharapkan Ridho Ilahi.
Ketika aku pergi meninggalkan rumah dan memilih tinggal di rumah orangtua, suamiku datang menjemput. Namun ketakutan menghadapi keluarga istri pertamanya membuat aku bersikeras tidak berani pulang ke rumah. Karena persoalan itu, akhirnya suamiku membelikan satu unit rumah mungil untukku. Sementara untuk mengurus istri pertamanya, dia mempekerjakan seorang perawat.
Namun, keputusan suami membelikan rumah untukku membuat keluarga suamiku semakin menjadi-jadi. Aku kerap diteror. Baik melalui SMS maupun telepon. Bahkan, dua anak dengan saudara istri pertama suamiku datang melabrakku dan menghina diriku sebagai perempuan gila harta.
“Inimi yang kocari toh. Mau kuasai harta bapakku,” jelasnya.
Tak puas memaki-maki, mereka merusak sejumlah barang yang ada di rumah. Tidak terima hal itu, aku melapor ke polisi. Mereka sempat disel. Namun persoalan besar muncul karena istri pertama suamiku bertambah gawat sakitnya mendengar dua anaknya ditangkap. Dia dilarikan ke rumah sakit. Karena merasa tidak enak hati, akupun mencabut laporan polisi. Itupun kulakukan juga atas permintaan suamiku.
Tak berapa hari setelah anaknya keluar tahanan, maduku meninggal. Kebencian mereka padaku semakin menjadi-jadi. Keluarga maduku menuding sayalah penyebab kematian orang yang mereka sayangi. Saya diancam akan dibunuh. Malah dicarikan orang pintar agar bisa pisah dengan suamiku. Ternyata, keinginan mereka terkabul. Saya merasa sudah jauh dan putus untuk melanjutkan jalinan perkawinan dengan suamiku. Selama hidup dengannya, lebih banyak kesengsaraan yang kuhadapi. Suamiku pun angkat tangan dan mengabulkan keinginanku. Beruntung saya tidak punya anak darinya sehingga agak berkurang beban ketika kami bercerai. Dan sebagai lelaki bertanggung jawab, dia memberiku sebagian hartanya untuk modal hidup. (rhm/)
Maduku Meninggal, Aku Pun Minta Cerai

Jeritan Hati Istri yang Dimadu (2-habis)