HIDUP adalah perjuangan. Kata itu tampaknya cocok disematkan untuk pahlawan kebersihan Ratih, Ria, Rahmah, Duni, Rosma, Syamsul, Jaya dan teman-teman seprofesi lainnya.
Laporan: JUNI SEWANG
Betapa tidak, mereka semua-lah yang setiap hari menyapu ruas ruas jalan, seperti AP Patttari, Jalan Monumen Emmy Saelan, Sultan Alauddin, Hertasning serta ruas jalan lainnya. Pada subuh hari mereka mulai bertugas, dimana orang masih tidur terlelap dengan mimpi indahnya.
Srikandi Jalanan, Ratih (44) tahun yang ditemui di lokasi kerjanya di Jalan AP Pettarani mengaku ia adalah satu dari sekian banyak perempuan yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di Kota Makassar. “Saya sudah lama bekerja seperti ini,” ujar Ratih.
Dorongan menjadi penyapu jalan hanya untuk menyambung hidup keluarganya dan menginginkan Kota Makassar terbebas dari sampah, meski upah yang ia terima tak sebanding dengan pekerjaan yang ia lakoni.
“Terkadang gaji dan upah yang kita terima setiap bulan tidak-lah cukup. Karena setiap bulannya kita sudah mempunyai hutang untuk biaya keperluan rumah tangga. Jadi begitu kita terima upah, uang-nya sebagian habis untuk membayar hutang,” ujarnya.
Petugas penyapu jalan ini memang terkesan takut untuk menyampaikan keluhan mereka ke Pemerintah Kota Makassar. Sebab mereka takut dipecat.
Padahal jasa para penyapu jalan ini cukup besar terhadap kebersihan kota. Mereka bekerja tidak mengindahkan rasa lelahnya, baik pagi hari, siang dan malam. Baik itu saat udara dingin dan panas, serta ketika hari hujan mereka tetap melaksanakan tugasnya.
Memang sangat diharapkan Pemkot Makassar dapat memberikan perhatian yang cukup serius terhadap keluhan para srikandi jalanan ini. Mereka hanya menerima gaji pokok Rp500.000,- dan upah per hari Rp40.000, tanpa adanya embel embel tunjangan lain nya.
Selain gaji dan upah minim, mereka juga rentang dengan bahaya yakni kecelakaan saat melakukan bertugas.”Biasa ada kendaraan balap-balap, sudah adami berapa teman yang ditabrak,” ungkap Syamsul petugas penyapu jalan di AP Pettarani.
Sambil sesekali memunguti satu atau dua buah sampah yang ada di jalan, seperti daun yang terjatuh, Syamsul menambahkan, gaji dan upah yang ia terimah cukup untuk hidup sehari-hari.”Gaji yang kita terima cukup-lah untuk hidup bersama keluarga. Kadangkala kita diberi uang dan makanan dari para pengguna jalan. Mau bagaimana, tidak ada keterampilan lain,” jelasnya.
Apalagi, kata bapak dua anak ini, bagian keuangan di kecamatan kadangkala membantu petugas kebersihan untuk dipinjamkan uang, setelah terima gaji baru diganti.
Terkait Kota Makassar raih Piala Adipura, Ratih dan Syamsul mengaku sangat senang, karena tugas yang diembannya tidak sia-sia.”Saya bersyukur kota kita terima Piala Adipura. Ini tak lepas dari perjuangan Pak Wali Kota, Wakil Wali Kota dan Sekda, kadis, camat serta petugas kebersihan seperti kami. Mudah-mudahan dengan piala ini, kami bisa bekerja maksimal mungkin,” jelas keduanya. (b)
