MAKASSAR, BKM– Derita buruh bangunan yang dipekerjakan oleh kontraktor PT Mitra Aiyangga Nusantara terus berlanjut. Pemenang tender proyek renovasi bangunan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar belum juga memberikan upah para buruh hingga memasuki pekan ketiga.
Alhasil, para buruh asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini-pun mengancam akan membongkar kembali ruangan yang telah direnovasi bila hingga akhir minggu ketiga hasil keringatnya itu belum juga dibayarkan.”Kalau gaji kami tidak juga dibayarkan hingga minggu ketiga, kami sepakat akan membongkar kembali apa yang telah kami bangun,” tegas Paul salah seorang buruh, Rabu (25/11).
Paul menambahkan, meski upahnya Rp85 ribu per hari belum diberikan termasuk upah untuk 10 rekannya sesama buruh, ia tetap saja bekerja.”Ini sudah masuk minggu ketiga upah kami masih ditahan-tahan oleh kontraktor dengan berbagai alasan,” ujarnya.
Olehnya itu, ia berharap pihak kontraktor bisa memberikan upah hasil keringat mereka. Pasalnya selain untuk membeli kebutuhan mereka di Makassar, ada anak dan istri yang mereka harus biayai.” Kasian anak dan istri kami di kampung, sudah dua pekan kami tidak kirimi uang, kami juga disini sudah tidak tahu lagi mau makan apa,” keluhnya.
Untuk bisa bertahan hidup, sejumlah buruh bangunan ini terpaksa harus mencuri daun ubi dan makan daun pepaya yang ditanam sekitar kantor DPRD Makassar karena tidak bisa lagi menahan lapar.“Daun pepaya kami rebus kemudian dicampur dengan mie, cuma itu yang kita makan untuk bertahan hidup,” katanya.
Paul juga mengakui perlakuan kontraktor sangat diskriminatif terhadap tukang asal NTT ini, sebab dari puluhan tukang yang dipekerjakan, hanya buruh luar Makassar saja yang upahnya tidak dibayarkan.” Kami merasa perlakuan kontraktor tidak adil dengan pekerja di luar Makassar, sebab pekerja asal Makassar tidak pernah bermasalah soal penggajiannya,” terang Paul.
Bahkan, jelas Paul, ia sempat diintimidasi berupa ancaman dari pihak kontraktor lantaran membeberkan masalah ini ke publik. Tak hanya itu, berbagai tudingan dan fitnah juga dialamatkan kepada pekerja yang dituduh telah mencuri sejumlah peralatan pekerja.”Kami ini jauh-jauh ke Makassar untuk mencari penghidupan yang halal, tidak mungkin kami curi alat-alat itu,” akunya.
Sementara itu, buruh asal Makassar, Sabar, mengakui, tidak pernah bersoal dengan gajinya, upah yang diterimanya sama besar dengan upah pekerja lainnya yang berpendudukan dari luar Makassar.” Besarannya sama, Rp85 ribu per minggu, kita terima upah selalu tepat waktu yakni diberikan saat hari Minggu.” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Makassar, Adi Rasyid Ali yang sebelumnya berjanji akan meminta keterangan dari pihak PT Mitra Aiyangga Nusantara belum juga dilakukan. Pasalnya, pihak kontraktor belum juga datang.
Sebelumnya Ketua Komisi A, Abdul Wahab Tahir mengungkapkan, pengerjaan renovasi gedung DPRD harus rampung sebelum masuk tahun baru, bila tidak selesai maka pihak perusahaan akan difinalti.” Tunggu saja, kontraktor ini akan kena finalti bila hingga akhir Desember tidak juga menyelesaikan pekerjaannya.(ita/war/c)