PAREPARE, BKM — Duka mendalam masih menaungi keluarga korban kecelakaan maut Eza Aldillah Majid, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Ia tewas terlindas truk di Gowa, pada Rabu siang (25/11).
Pihak keluarga mengaku sangat kehilangan atas musibah yang dialami korban. Sang ayah, Abd Majid, mengenang bagaimana anak sulungnya itu terakhir berkomunikasi dan bertemu dengan dirinya.
Abd Majid mengaku tidak merasakan firasat apapun sebelum anak kesayangannya itu pergi. Maklum, anak gadisnya itu cukup dekat dengan dia dibanding ibunya, Ondeng.
“Memang Dillah sangat dekat dengan saya. Terakhir itu dia (Dillah) telepon dan bilang, pak jemputka di Makassar, mauka pulang urus KTP. Hilang KTPku, Pak,” tutur Abd Majid, kemarin.
Diapun kemudian langsung menjemput anaknya, Selasa (23/11). Setibanya di Parepare, Dilla, sapaan akrab almarhumah, meminta agar penerbitan KTPnya dipercepat.
“Pas selesai, hari itu juga Dillah minta segera diantar untuk kembali ke kampusnya di Makasar. Saya bilang kenapa terlalu cepat, tapi dia mendesak. Saya kemudian mengantarnya sampai ke terminal Patas, Parepare,” terang Abd Majid lagi.
Abd Majid mengaku, Dillah sempat meneleponnya saat tiba di Makasar. “Dillah bilang dia sudah sampai di Makassar. Saya bilang ke dia, janganki keluar-keluar nak. Itu terakhir percakapan kami melalui telepon,” ungkapnya penuh haru.
Karenanya, diapun kaget ketika salah seorang teman kuliahnya mengabarkan jika Dillah kecelakaan pada Rabu pagi. ”Kami sangat kehilangan,” ujarnya.
Pihak keluarga meyakini tanda-tanda sebelum Eza Aldillah Majid berpulang untuk selama-lamanya. Ia tak henti-hentinya memotret foto-fotonya semasa kecil.
Selain itu, korban yang mengaku kepada ayahnya bercita-cita sebagai praktisi hukum tersebut, sempat makan bareng bersama keluarga.
“Wajahnya berseri-seri. Kami perhatikan saat berada di Parepare, Dillah rajin meminta maaf sama kami dan rekannya. Dillah juga rajin memotret foto semasa kecilnya,” tutur Rukayya, tante Dillah.
Anak sulung dari tiga bersaudara itu, tambah Rukayya, juga sempat makan bareng di rumah keluarga.
“Mungkin ini juga pertanda saat Dillah bilang, kenapa makanan ini tidak ada rasanya. Itu beberapa kali dia keluhkan,” kata Rukayya.
Rukayya mengaku, ibu korban, Ondeng sejauh ini masih merasakan kesedihan yang mendalam.
“Ibunya itu kan saudara saya. Sampai sekarang dia masih tidak percaya anaknya pergi untuk selamanya,” ujar Rukayya sedih. (smr/rus/b)