MAKASSAR,BKM — Haedar Ali alias Clara (32) warga Jalan Abdullah Daeng Sirua akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Minggu (29/11). Kematian Haedar menuai tanda tanya dari keluarga korban. Mereka menduga kuat kalau Haedar tewas karena dibunuh.
Haedar ditemukan terkapar bersimbah darah di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya depan Mapolda Sulsel, Kamis (26/11) dini hari. Korban saat itu dalam perjalan pulang dari tempat mangkalnya di Panaikang menuju ke rumah kosnya di Mandai.
Korban ditemukan oleh seorang anggota Mapolda Sulsel Kompol Achmad. Sang polisi kemudian mengontak Unit Lakalantas Citra Sudiang untuk menyerahkan motor Honda Beat DD 3313 XY. Korban yang dalam kondisi kritis dibawa ke RS Wahidin. Saat itu, polisi dan warga menduga kalau Haedar korban kecelakaan lalu lintas.
Korban menderita luka memar di mata kiri, ada luka sayatan di depan dan belakang telinga. Tulang hidung retak dan ada luka goreran di bibir. Helm korban pecah, dan motor korban pada bodi depan hingga belakang tidak terlihat lecet, kaca spion bagian kiri lepas, stand kaki sebelah kiri terlihat bengkok.
“Saya terima laporan dari anggota Kepolisian bernama Kompol Achmad dan saat pula ia menyerahkan kendaraan korban kepada saya lalu menyampaikan bila korban sudah berada di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo,” kata anggota Lantas Citra Sudiang, Aiptu Syamsir.
Kematian Haedar menjadi tanda tanya bagi keluarga dan rekan-rekannya. Soalnya, banyak luka sayatan yang ditemukan di tubuh korban. Luka tersebut, tidak seperti kebanyakan orang yang mengalami kecelakaan lalulintas.
“Saya melapor kasus ini ke polisi Pak. Petugas medis juga heran soal luka di tubuh Haedar yang sepertinya tidak mirip dengan korban kecelakaan. Kami pihak keluarga akhirnya melapor ke Polsek Biringkanaya,”ujar Rosmiati, tante korban kepada BKM, Minggu kemarin.
Lena (43), ibu korban mengaku saat kejadian dia sedang berada di Palopo. Mendengar, Haedar meninggal dunia, dia pun langsung menuju Makassar.
“Kami saat itu menolak otopsi karena belum ada indikasi. Namun pihak medis juga mempertayakan soal luka di sekujur tubuh korban yang banyak bekas sayatan. Luka itu tidak seperti biasanya korban kecelakaan,” kata Lena.
Malik (40),penjual martabak Panaikang yang juga rekan Haedar mengaku kehilangan. Menurut Malik, dia sudah menganggap Haedar seperti keluarganya sendiri. “Saya sama korban sudah seperti keluarga,” kata Malik.
Menurut Malik, malam sebelum kejadian dia heran melihat sikap Haedar. Saat itu dia ingin mengantar korban ke Mandai namun menolak.
“Saya heran kok korban saat saya ingin antar pulang dia menolak. Baru kali ini dia menolak. Janganmi antarka pulang ayah. Masih mauka antar pelanggan dulu. Soalnya butuhka uang Rp750.000,” kata Malik meniru ucapan Haedar.
Sementara itu, Anto yang mengaku pacar korban mengaku baru tiga bulan menjalin kasih dengan Clara. “Korban dan saya pacaran baru tiga bulan. Namun saya baru tahu dari ibu korban kalau Clara punya pacar lain. Ini baru saya ketahui setelah kejadian ini,” ujar Anto.
Sementara itu, Kaddu (45), paman korban curiga dengan banyaknya luka sayatan seperti senjata tajam. “Tidak ada tanda-tada lakalantas. Saya curiga, keponakan saya dibunuh,” katanya.
Kapolsek Biringkanaya Kompol Azis Yunus mengaku telah menerima laporan dari keluarga korban. Terkait kasus ini, kata Azis, pihaknya masih melakukan penyelidikan.
“Kami akan memanggil saksi-saksi. Korban adalah seorang waria yang ditemukan sekarat di tepi jalan. Dugaan awal korban tewas karena kecelakaan. Namun keluarga korban curiga dengan sejumlah luka sayatan di tubuh korban. Karena kematian korban dinilai janggal, makanya keluarga korban lapor polisi,” katanya. (ish/cha/b)
