MAMUJU, BKM — Setelah dilantik menjadi karateker bupati Mamuju beberapa waktu lalu, Bebas Manggazali terus turun ke lapangan untuk melihat secara langsung berbagai persoalan masyarakat. Baik itu mengenai persoalan pelayanan kepada masyarakat maupun dampak lingkungan hidup. Di antaranya persoalan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang ada di Desa Pattidi, Kabupaten Mamuju.
Bupati Bebas pun menyambangi langsung TPA ini, Jumat (27/11). Didampingi Kepala Dinas Kebersihan dan Tata Ruang Mamuju, Hamdan, bupati mengatakan, persoalan TPA sampah ini harus juga diperhatikan dan harus dikelola secara baik pula. Sehingga nantinya tidak akan merusak lingkungan di wilayah ini.
Bupati pun berjanji nantinya akan mencoba mengusulkan untuk dilakukan studi banding ke daerah lain. Sehingga petugas kebersihan juga belajar tentang tata cara pengolahan sampah. ”Saya juga sudah menyarankan kepada kepala dinas Tata Ruang dan Kebersihan Mamuju untuk diusulkan mengenai anggaran pengolahan sampah,” ujarnya.
Dijelaskan, untuk soal anggaran kebersihan, saat ini pihaknya masih sedang mengkalkulasi mengenai besaran anggaran yang nantinya akan terserap dalam penanganan masalah TPA tersebut. Soalnya, ketika sampah kering ini dapat dikelola secara baik, yakni bisa dijadikan pengelolaan industri, maka akan memberikan hasil yang baik. Juga termasuk bisa dikelola menjadi pupuk dan bisa juga menghasilkan biogas ketika ini dikelola dengan baik.
”Jika sampah dikelola secara baik, nantinya bisa menghasilkan uang. Karena itu, penting dilakukan studi perbandingan. Dan hasil dari studi banding itu nantinya bisa diterapkan mengenai cara mengelola sampah di Kabupaten Mamuju ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan dan Tata Ruang Mamuju, Hamdan Malik, menjelaskan, untuk memaksimalkan pengangkutan sampah di Mamuju, pihaknya membutuhkan tambahan armada pengangkutan sampah. Karena armada sampah yang ada sekarang hanya sepuluh unit. Sedangkan dua unit di antaranya sudah kurang maksimal untuk digunakan karena sudah tua. Sehingga hampir tidak bisa lagi difungsikan.
”Kami sangat membutuhkan armada tambahan untuk digunakan pengangkutan sampah ke lokasi TPA ini. Jarak dari kota ke lokasi TPA cukup jauh. Dan jalur yang ditempuh itu banyak pendakian. Dua unit dari sepuluh unit armada mobil pengangkutan sampah yang ada sekarang, sudah tidak maksimal lagi untuk digunakan. Karena kondisinya yang sudah tua, otomatis sering mengalami kerusakan. Jadi praktis hanya delapan unit yang bisa dimaksimalkan. Untuk itu, kami sangat membutuhkan adanya tambahan armada baru untuk mengangkut sampah ke TPA,” katanya. (ala/mir/c)