MALILI, BKM — Even Festival Danau Matano (FDM) telah resmi ditutup oleh Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Minggu (29/11) malam lalu. Namun, warga yang ada di sekitar pesisir danau Matano menilai kegiatan itu tidak berhasil mengangkat budaya lokasl yang ada.
Makole Nuha Andi Baso Mappaware mengatakan, Festival Danau Matano bukan menampilkan budaya, namun meninggalkan kesan memalukan. Sebab acara yang bertujuan untuk menjadikan danau Matano menuju warisan dunia, tidak memiliki konsep dan persiapan yang maksimal. Bahkan berujung pada acara hura-hura.
“Tidak ada budaya kami yang ditampilkan, semua dari luar. Penari itu, sekurang-kurangnya satu bulan butuh latihan. Kalau mereka tampil tidak sesuai yang sebenarnya, itu adalah pembohongan,” ungkap Andi Baso di rumah tudang sipulung Bantaea Terisoato, Desa Soroako, Kecamatan Nuha, kemarin.
Menurutnya, kegiatan Festival Danau Matano itu merupakan ide dan gagasan dari masyarakat lokal yang ada di Soroako, dengan dasar ketertarikan melihat danau-danau di luar daerah yang sudah sangat berkembang karena kepedulian warga lokal dan pemerintah. Namun, setelah ide tersebut telah disetujui dan dianggarkan, warga lokal sudah tidak lagi dilibatkan.
“Waktu itu, saya sangat tertarik dengan danau yang telah berkembang, sehingga saya dan anak-anak saya yang ada di Soroako ini mendukung Festival Dana Matano. Namun kenyataannya bukan betul-betul untuk menjadikan danau Matano menuju warisan dunia. Kami tercoreng. Budaya kami sudah dikebiri,” cetusnya.
Dia menilai, kegiatan yang telah berlangsung selama tiga hari itu merupakan kegiatan orang luar, bukan Festival Danau Matano seperti harapan masyarakat lokal dan undangan yang telah hadir.
“Kita mau Festival Danau Matano itu direncanakan dengan maksimal dan memberdayakan warga lokal. Karena warga lokal sendiri yang paham tentang budayanya. Tolong diluruskan, itu bukan Festival Danau Matano, tetapi festival orang luar,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Andi Baso bersama-sama dengan warga pesisir danau Matano telah menggagas untuk membuat pagelaran masyarakat pesisir danau Matano dengan menggunakan anggaran yang bersumber dari sukarela. “Insya Allah, pagelaran itu kita rencanakan pada bulan Maret (2016) mendatang,” ujarnya.
Terpisah, Penjabat Bupati Luwu Timur Irman Yasin Limpo mengatakan, Festival Dana Matano yang dilaksanakan baru-baru ini, telah memperkenalkan danau Matano sebagai sebuah destinasi dan ikon untuk menjadi salah satu rujukan tempat kunjungan dunia.
”Kita pikir festival ini merupakan awal mula agar dunia lebih tahu bahwa danau Matano itu ada. Mungkin saja banyak masyarakat dunia yang tidak mengetahui danau Matano ini dibanding dengan danau-danau yang ada. Karena itu, langkah berikutnya adalah memberikan pemahaman kepada dunia bahwa ikon dan destinasi Matano ini berbeda dengan danau lainnya di dunia,” ungkap None, sapaan akrab Irman.
Terkait adanya penolakan, None menilai pentinganya komunikasi dan sosialisasi, serta bagaimana budaya ditempatkan di dalam festival ini.
“Kan ini pertama, pasti banyak yang salah karena kita tidak punya pengalaman terhadap itu. Ke depan mungkin lebih pada bagaimana memasukan semua cara berpikir yang berbeda itu menjadi sama. Jadi jangan dilihat itu pada perbedaan. Jangan selalu mencari perbedaan. Yang harus kita cari bagaimana menyamakannya,” tandasnya.
Sekadar diketahui, Festival Danau Matano menghabiskan anggaran Rp6,5 miliar dari APBD tahun 2015. Rinciannya, Rp1,8 miliar untuk acara launching dan Rp4,7 miliar untuk kegiatan. (alp/rus/c)