Bukan hal yang baru bagi warga Kota Makassar. Jika musim buah tiba, maka sejumlah ruas jalan protokol di kota ini diserbu oleh Pedagang Kaki Lima (PK5). Tengok saja di ruas Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Hertasning dan Jalan AP Pettarani. Keberadaan pedagang dengan menggunakan mobil bak terbuka, motor serta sepeda berderet memajang tumpukan buah. Meski kerap ditertibkan, namun mereka tetap beroperasi.
Laporan: Juni Sewang-Arief Al Qadri
Dengan dalih kebersihan, kemacetan serta penataan wajah kota, aparat Pemerintah Kecematan dan petugas Satuan Polisi Pamong Praja kerap turun lapangan melakukan operasi penertiban. Anehnya, meski berkali-kali ditertibkan, namun saja para pedagang musiman ini tak pernah jera. Malah jumlahnya semakin bertambah.
Musiman (50), salah seorang pedagang buah durian yang menggunakan truk di Jalan Hertasning mengaku kerap kucing-kucingan dengan petugas penertiban. Meski demikian, mereka tetap menjual karena keuntungan yang diperoleh cukup menggiurkan. ”Jualan buah dengan barang lain beda. Kalau buah itu untungnya bisa sampai 50 persen dari harga modal,” kata Musliman. Menurut Musliman, yang kerap turun melakukan penertiban adalah petugas kelurahan dan kecamatan.
“Kalau dilarangki jualan saya tutup lagi, tapi begitu petugas pergi saya pasang lagi. Namun tidak jarang ada petugas satu sampai dua orang datang menegur, tapi kami iya iyakan saja. Saya selaku pedagang juga mengerti jadi biasa saya kasih buah sama uang rokok jadi pergimi. Kalau datang , kalau datang kasi lagi pembeli rokok sekitar Rp 50 ribu, saya bilang musiman jie ini, terkadang petugas ada yang tidak mengerti kalau kita cari rejeki, yang penting sampahnya diambil jie,” ungkap Andri, pedagang buah lainnya di Jalan Perintis Kemerdekaan.
Terpisah, Angga (27) salah seorang warga mengaku sangat tertolong dengan adanya pedagang buah dan telur di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan. Menurutnya, dia dan keluarganya tak perlu lagi repot-repot masuk mal dan suparmarket untuk membeli telur dan buah. Selain transaksinya cepat, harga buah dan telur di pinggir jalan jauh lebih murah dari yang ada di minimarket dan supermarket.
”Kalau bisa ditertibkan saja, tapi jangan sampai digusur. Mereka juga mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Pemkot harus bijak menyikapi fenomena seperti ini,” kata dia. (b)
