LUWU, BKM — Proyek pembangunan jembatan di poros jalan Keppe, Kecamatan Larimpong, Kabupaten Luwu yang dikerjakan Balai Besar Jalan dan Jembatan (BBJJ) di Makassar, terbengkalai. Padahal jembatan tersebut terletak di poros jalan trans Sulawesi. Sedang sisa waktu penyelesaian pekerjaan tinggal dua pekan di akhir tahun 2015.
Ironisnya, rekanan yang mengerjakan jembatan ini tidak diketahui dari mana asalnya. Yang lebih parah lagi, pelaksanaannya tidak disertai dengan papan proyek. Biasanya, pada papan tersebut tertera nama rekanan dan estimasi harga pembangunan jembatan. Termasuk berapa lama pengerjaannya.
Sebelumnya, pembangunan jembatan Keppe sempat diprotes warga. Sebab diduga dalam proses pembangunannya menyalahi bestek. Indikasinya, jika musim penghujan tiba, malah bisa memicu terjadinya banjir dan penumpukan sampah. Karena di bagian bawah jembatan yang sedang dibangun, terdapat banyak tiang penyanggah yang menghambat aliran air dan sampah.
Rudi, warga Keppa yang melihat langsung kondisi jembatan, menyesalkan terbengkalainya proyek ini. ”Mestinya petugas Balas Besar Jalan dan Jembatan Makassar turun memantau langsung. Jangan dibiarkan seperti ini,” cetusnya, kemarin.
Terpisah, Kepala Dinas Bina Marga Luwu Ridwan Tumbalolo, berdalih pembangunan jembatan di Keppe bukan kewenangannya. ”Itu domain Balai Besar Jalan dan Jembatan di Makassar,” kelitnya.
Sejumlah aktivis di Kabupaten Luwu menyoroti kinerja Balai Besar Jalana dan Jembatan Makassar, yang terkesan melakukan pembiaran terhadap pembangunan fasilitas publik yang menjadi akses transportasi utama di jalur trans Sulawesi di Kabupaten Luwu.
”Kami minta Kejari Belopa maupun Polres Luwu mengusut proyek pembangunan jembatan di Keppe. Jangan sampai ada indikasi korupsi dan kongkalikong, sehingga pembangunannya terbengkalai. Sementara Balai Besar Jalan dan Jembatan terkesan cuek dan melakukan pembiaran,” tandas Andi Aras, aktifis LSM Garuda. (wan/rus/b)