Site icon Berita Kota Makassar

Aku dan Ibuku Mencintai Pria yang Sama

Sebenarnya hubunganku dengan Thamrin telah berusaha aku sembunyikan dari ibuku. Kendati demikian, toh akhirnya ketahuan juga.

Sepandai-pandainya aku menyembunyikan pil KB itu, ibuku menemukannya di tumpukan bajuku ketika dia mencari sesuatu dalam lemari. “Ini pil siapa? Kenapa bisa ada di sini,” kata ibu.
Akupun berlagak bloon dan mengaku tidak tahu. “Itu obat apa? Saya tidak tahu,” jelasku.
Thamrin pun membelaku dengan mengatakan bisa saja itu pil ibuku yang tercecer.
Kecurigaan ibukupun berakhir sampai disitu. Akupun tetap bisa melanjutkan hubungan terlarangku dengan Thamrin.
Namun, lagi-lagi, ibarat pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat bisa jatuh juga.
Sepandai-pandainya aku dan Thamrin menyembunyikan hubungan, akhirnya ibuku tahu juga.
Itu terjadi di suatu malam. Ketika itu, kami sedang berhubungan laiknya suami isteri. Sama sekali kami tidak menyangka ibu akan pulang cepat. Dia tidak jadi masuk kerja karena perutnya tiba-tiba sakit. Yang biasanya ketika ingin pulang, ibu menelpon Thamrin untuk dijemput, kali ini ibu pulang sendiri menggunakan taksi.
Karena suasana agak sunyi di kontrakan, aku dan Thamrin tidak mengunci pintu kamar. Ibu tiba-tiba masuk ke kamar dan menemukanku sedang bergumul dengan Thamrin. Alangkah murkanya melihat perbuatan kami. Diapun langsung mengusir kami berdua. Malah bajuku dan baju Thamrin dibuang ke halaman rumah dan dengan nada mengancam mengusir kami untuk tidak kembali lagi. Dengan menangis, akupun pergi dengan Thamrin tanpa tujuan yang jelas. Hingga kami bertemu dengan temannya yang mengijinkan kami untuk tinggal di kontrakannya. Seminggu di kontrakan temannya yang bernama Ahmed, aku merasa risih karena harus mengandalkan hidup pada orang lain. Sehingga kuputuskan untuk menjadi PSK mengikuti jejak ibuku. Itu jalan pintas yang paling gampang untuk memperoleh uang. Thamrin pun mengurus agar aku bisa diterima di salah satu tempat hiburan malam (THM). Tentu, dia memilihkan THM yang jauh dari tempat ibuku bekerja agar kami tidak bertemu muka. Sejak saat itu, akupun bekerja sebagai wanita penghibur dan Thamrin bisa dibilang menjadi ‘dampengku’ atau germo. Kamipun mengontrak kamar yang cukup laik di daerah pinggiran Kota Makassar.
Kendati merasa ada ganjalan namun profesi itu tetap kujalani karena Thamrin tidak punya pekerjaan tetap. Selama hidup berdua, dia kelihatan lebih bertanggung jawab dan semakin sayang padaku. Diapun mulai mencari-cari pekerjaan agar aku tidak lagi menjadi PSK. Sebenarnya, Thamrin lulusan D3 sebuah universitas swasta. Ijazahnya selama ini tidak digunakannya. Dia mengaku ingin menjalani hidup normal bersamaku sebagai suami isteri. Karena itu dia berusaha untuk mencari kerja.
“Setelah saya dapat kerja, kita menikah secara resmi,” jelasnya padaku suatu malam.
Namun takdir berkata lain. Keesokan harinya, ketika dirinya memenuhi panggilan wawancara suatu perusahaan, dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Nyawanya tidak bisa tertolong. Akupun sangat sedih dengan kejadian itu. Semua impian yang kami bangun sirna seketika. Akupun tidak bisa terlepas dari jerat sebagai perempuan penghibur. Entah sampai kapan profesi ini akan kutinggalkan. (rhm/c)

Exit mobile version