MAKASSAR, BKM — Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) Sulsel menargetkan serapan beras tahun 2016 mendatang sebesar 500 ribu ton. Dengan asumsi Rp7.300 per kilogram, maka anggaran yang disiapkan mencapai Rp3 triliun lebih. Kepala Bulog Divre Sulsel, Abdul Muis, mengatakan, target tahun 2015 sekitar 400 ribu ton. Namun realisasi hingga akhir tahun ini hanya? 350.233 ton.
Realisasi tersebut dipengaruhi kondisi alam. Dimana ada beberapa lokasi yang kekeringan, hingga akhirnya gagal panen. ”Banyak juga pengusaha luar yang membeli beras di Sulsel.? Tapi kami optimistis ditahun 2016, kami bisa mencapai target dengan bantuan dari pemerintah berupa perbaikan saluran irigasi dan bantuan traktor,” kata Abdul Muis, pada Sosialisasi Pengadaan Beras Dalam Negeri Tahun 2016 Perum Bulog Divre Sulsel, Selasa (29/12).
Ia menjelaskan, jika tahun-tahun sebelumnya Bulog hanya melakukan pengadaan Public Service Obligation (PSO) dengan medium 20 persen, namun untuk tahun 2015 ini juga dilakukan pembelian harga beras komersil dengan harga Rp8.500 per kilogram sebanyak 130 ribu ton. ”Untuk tahun 2016, kami akan menyerap beras PSO dan beras komersil agar kita bisa mencapai target.? Kami juga akan memperbaiki penggilingan beras untuk mendukung pengadaan beras,” ujarnya.
Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang, pada kesempatan tersebut, mengatakan,? Sulsel merupakan daerah produsen beras di Indonesia dan merupakan penyangga pangan bagi daerah atau provinsi lainnya. Perum Bulog sebagai perusahaan negara mengemban fungsi untuk mengurusi tata niaga beras dan memiliki tugas pokok melakukan stabilisasi dan pengelolaan persediaan bahan pokok dan pangan.
”Upaya stabilisasi harga pangan sangat dipengaruhi aspek keterkaitan antar daerah. Hal itu dikarenakan tidak ada daerah yang mampu memproduksi semua kebutuhannya sendiri. Sehingga adanya ketergantungan satu daerah dengan lainnya,” terangnya.
Menurutnya, saling keterkaitan tersebut menyebabkan stabilitas harga di suatu daerah rentan terhadap kesinambungan dan kecukupan pasokan, kelancaran arus distribusi, dan tata niaga barang, serta dipengaruhi keterbatasan akses informasi. Untuk itu, kerjasama yang telah terjalin di level pemerintahan, perlu untuk lebih ditingkatkan dan diperkuat hingga pada level pelaku usaha, baik dalam provinsi maupun dengan pelaku usaha di provinsi lainnya.
”Pemprov Sulsel melalui sinergi dengan pelaku usaha dan Perum Bulog, telah melakukan kerjasama antar daerah dengan melakukan pengiriman beras Sulsel ke sebelas provinsi. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga stok beras di provinsi tujuan sehingga tidak terjadi gejolak harga, yang ternyata berdampak pada naiknya harga komoditas di Sulsel,” paparnya.
Untuk itu, lanjut Agus, Pemprov Sulsel memberikan apresiasi kepada Perum Bulog yang telah ikut serta dalam menjaga stabilitas harga, khususnya kebutuhan pangan dan pengendalian inflasi di Sulsel. Di samping itu, untuk tahun 2015, Perum Bulog Divre Sulsel telah melakukan pengiriman beras ke 16 provinsi di Indonesia.
”Tugas pokok yang diemban Perum Bulog dalam pengadaan beras dalam negeri, tentunya tidak lepas dari peran para mitra kerja pengadaan. Untuk itu, sinergi dan kerjasama yang telah terjalin dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan,” imbuhnya. (rhm/mir/b)