Site icon Berita Kota Makassar

Kadangkala Merugi, Orang Yang Ditagih Sudah Pindah

HAMZAH termasuk sosok yang semangat menjalani hidup yang keras. Berbekal kepercayaan terhadap orang lain, dia rela memberi piutang pulsa kepada orang lain hingga puluhan ribu.

Laporan: RAHMA AMRI

Walaupun pembayaran baru akan dilakukan sehari maupun dua hari sesudahnya. Itupun jika bertemu dengan orang yang bersangkutan.”Kadang juga ada yang minta pulsa. Ditagih, ternyata orangnya sudah pindah. Tidak kerja lagi di tempatnya biasa. Ya’ pasti rugilah,” jelas Hamzah sambil tidak lepas melayani isi pulsa konsumsen.
Dia menuturkan, jika banyak yang ngutang, dirinya kerap tidak bawa uang pulang ke rumah. Namun, dia tidak pernah mengeluh dan menyesali apa yang terjadi.
Baginya, hidup harus dijalani dengan penuh semangat. Tidak ada kata putus asa. Semangat itu pula, dia rela bekerja apa saja.”Yang penting halal. Tidak pergi mencuri atau meminta-minta,” jelasnya.
Menyadari jika dari aktifitas menjual pulsa tidak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya, Hamzah juga kerap nyambi sebagai pengangkat barang di pelabuhan. Namun, aktifitas itu tidak dilakukannya setiap hari.”Nanti ada barang masuk di pelabuhan baru saya dipanggil,” ungkap Hamzah.
Dia melanjutkan, profesi angkat barang di pelabuhan dilakukan dengan sistem borongan. Bersama beberapa pengangkut barang lainnya yang sudah disepakati, Hamzah kerap dibayar hingga Rp300 ribu.
Nilai itu cukup besar untuk mengepulkan asap dapur.
Bagi lelaki berkulit hitam dan berperawakan kecil itu, kerja harus punya berkah. Karena keberkahan akan membuat apa yang dimiliki bisa lebih baik dan bermakna.
Saat ini, Hamzah sedang merintis pembangunan rumah. Dibantu sedikit-sedikit oleh orang tuanya, Hamzah sudah membangun pondasi untuk rumah masa depan bersama keluarga kecilnya. Dia tidak ingin terus-terusan numpang di rumah orang tua. Luas pondasi yang dibangun cukup lumayan, yakni 20×15 meter.
Kepada Sang Khalik, dia selalu berdoa agar terus dilimpahkan kesehatan dan kekuatan untuk mencari rejeki halal bagi keluarganya.
Aktifitas penjualan pulsa dilakoni Hamzah Sanusi sejak tahun 2009 lalu. Lelaki asal Pangkabinanga, Sungguminasa, Kabupaten Gowa itu mengambil peluang berbisnis pulsa melayani orang-orang yang sibuk.
Setiap hari, dia menyusuri sejumlah kantor pemerintah, baik yang ada di Gowa, hingga Makassar.
Pelanggan merupakan pegawai atau karyawan mulai dari Polres Gowa, Kejaksaan, Kantor Bupati, hingga melebar ke kantor gubernur.
Di Kantor Gubernur Sulsel, Hamzah kerap menjadi juru selamat para wartawan yang posting disana. Ketika kehabisan pulsa, padahal harus menelpon atau menghubungi narasumber, para kuli tinta tinggal menghubungi Hamzah.
Pulsa yang ditawarkan sangat komplit. Semua operator dilayani. Malah, dia juga menawarkan paket kuota dalam bentuk kartu kepada pelanggannya.
“Pokoknya komplit. Kita mau pulsa ada, semua ada,” katanya kepada BKM sambil melayani pelanggan yang butuh diisikan pulsa.
Dia mengaku tertarik untuk menjual pulsa keliling dengan metode jemput bola karena cukup mudah dijalani. Namun, dia tetap harus hati-hati dalam menawarkan kepada calon pelanggan, khususnya yang menggunakan sistem isi pulsa dulu, bayarnya belakangan.
Alasannya, jangan sampai bersoal. Karena untung yang diperoleh dalam bisnis isi pulsa ini cukup tipis.(rhm/b)

Exit mobile version