MAKASSAR, BKM — Pelaksanaan proyek jalan simpang lima Tol Sutami-Bandara Internasional Sultan Hasanuddin memasuki tahap baru di tahun 2016. Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) memastikan jalan utama dan underpass akan dikerjakan tahun ini.
Kepala Satuan Kerja (Satker) Metropolitan BBPJN VI Makassar Rahman Jamil, mengakui bahwa sebenarnya progres kegiatan di lapangan untuk proyek underpass memang agak lambat, tidak seperti yang diharapkan.
”Rencananya, jalan samping sisi kiri dan kanan main road (jalan utama) sudah harus diselesaikan hingga 31 Desember lalu. Namun kita tidak mampu menyelesaikannya karena beberapa kendala. Salah satunya karena beberapa pekerjaan pemindahan utilitas, seperti tiang listrik dan pipa PDAM,” jelas Rahman Jamil, kemarin.
Meski begitu, tambah Rahman, dari dari schedule pelaksanaan sebenarnya lebih maju. Pekerjaan drainase dan pembetonan juga terus berjalan.
Setelah menyelesaikan jalan samping, tahun ini kontraktor pelaksana proyek juga akan memulai pekerjaan jalan utama dan underpass. Jika telah dikerjakan, lalulintas akan dialihkan ke jalan samping kiri kanan main road yang sudah dibuat.
Tahun ini, BBPJN VI menyiapkan anggaran sebesar Rp50 miliar untuk fisik, dari total anggaran sebesar Rp169,6 miliar. Tahun lalu, anggaran untul proyek itu sebesar Rp43 miliar.
Kendati progres pembangunan saat ini sudah kelihatan di lapangan, namun belum seluruh lahan untuk proyek ini telah dibebaskan. Rahman menyebut, masih ada tiga bidang lahan yang bersoal.
”Satu bidang lahan terletak di depan Pasar Mandai, satu di ujung tol sebelah kiri, dan satu lagi di depan pompa bensin yang tidak terpakai jalur ke Kabupaten Maros. Tapi tetap kami lakukan konsinyasi. Uangnya dititip di pengadilan,” terangnya.
Sementara untuk proyek Bypass Mamminasata, lanjut Rahman, sejauh ini masih dalam proses pembebasan lahan. Dia juga mengakui jika progres proyek ini masih berjalan agak lambat. Karena seharusnya sudah ada pekerjaan fisik di lapangan, sementara yang ada masih proses pembebasan lahan. Padahal BBPJN VI sudah menandatangani kontrak kerja dengan kontraktor pemenang tender pada akhir November 2015, bersamaan dengan penandatanganan kontrak kerja underpass simpang lima.
“Secara hukum sudah bisa jalan. Tapi karena lahan belum diakses, jadi belum ada kegiatan fisik. Hari Senin (pekan depan) saya coba hubungi Pemprov Sulsel, adakah lahan yang sudah dibebaskan. Kalau sudah, berarti pekerjaan sudah bisa dimulai,” ujar Rahman lagi.
Per 31 Desember lalu, BBPJN telah mengucurkan dana sebesar Rp70,2 miliar untuk pembebasan lahan. Anggaran itu dipersiapkan untuk membebaskan sekitar 200 bidang lahan. Total ada 500 bidang lahan yang akan dibebaskan untuk pekerjaan tahap pertama sepanjang 13 km.
Tahap pertama ditargetkan bisa rampung hingga tahun 2018 mendatang. Total anggaran yang dibutuhkan untuk pengerjaan fisik jalan Bypass Mamminasata sebesar Rp245 miliar.
Terpisah, Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel Abdul Latif, Rabu (6/1) menginformasikan kepada wartawan, bahwa untuk bypass Mamminasata, hingga saat ini masih dalam proses pembebasan lahan.
“Kita masih genjot pembebasan lahan. Memang agak lambat prosesnya. Baru dilaksanakan akhir 2015 lalu, padahal jadwal seharusnya Juli,” ungkap Abdul Latif di ruang kerjanya.
Sambil berproses pembebasan lahan, lanjutnya, pengerjaan fisik juga akan mulai dilaksanakan. Tahun ini, ditargetkan jalan Bypass Mamminasata sudah bisa dirampungkan sepanjang 13,5 km.
Untuk proyek ini, tambah Latif, pemerintah sudah membebaskan 548 bidang tanah di Kabupaten Maros, yang dilakukan akhir Desember lalu. Lahan tersebut tersebar di lima kecamatan, enam kelurahan dan dua desa.
Lahan yang sudah dibebaskan seluas 709.074,59 hektar. Total anggaran yang disiapkan pemerintah untuk pembayaran ganti rugi pembebasan lahan tersebut sekitar Rp12 miliar.
Bypass Mamminasata direncanakan terbangun sepanjang 48,1 kilometer. Tahun ini sudah akan dimulai pekerjaan sepanjang 13,7 kilometer dengan alokasi anggaran Rp251,2 miliar.
Sementara PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) proyek underpass Marlin Rahim, mengungkapkan sejauh ini sepanjang 70 meter pengecoran tahap akhir (rigid) telah diselesaikan. Diakuinya, pegecoran dikebut karena melihat cuaca yang baik.
Kendala non teknis seperti tiang listrik PLN dan pipa PDAM, sudah disepakati untuk dipindahkan sehingga tidak lagi dipersoalkan.
”Tiang listrik sebelah kiri, penggantinya sudah ada. Hanya saja belum bisa dicabut sebelum jaringan baru terpasang, karena digunakan masyarakat,” terangnya.
Sementara pemindahan jaringan PDAM yang baru, juga tengah dilaksanakan. Satu minggu ke depan menjadi waktu yang diakuinya sebagai kesepakatan. Reklame yang berada di ujung simpang lima juga ditarget 31 Januari ini dipindahkan. (rhm/rus/b)
Arus Lalulintas Simpang Lima Dialihkan

BKM/CHAIRIL DIALIHKAN-Sejumlah pekerja melakukan pengerasan di akses jalan samping untuk persiapan pengerjaan jalan utama dan underpass Simpang Lima Mandai. Arus lalulintas kendaraan akan dialihkan ke jalan ini, ketika jalan utama dan underpass dikerjakan.