Site icon Berita Kota Makassar

Higienitas Diragukan, Lebih Banyak Dipakai Cuci Muka

BKM/ARIF AL-QADRI ISI BOTOL-Seorang warga tengah mengisi botol plastiknya di KASM Anjungan Pantai Losari. KASM di tempat ini lebih banyak digunakan untuk cuci muka dibanding langsung diminum oleh pengunjung.

SEJAK Senin, 9 November 2015 lalu masyarakat Kota Makassar ‘dimanjakan’ dengan disediakannya layanan air siap minum untuk umum. Kran Air Siap Minum (KASM) ini disediakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Kini, bagaimana kabar fasilitas umum itu?

Laporan: Arif Al-Qadri

SEBAGAI tahap awal, PDAM menyiapkan dua KASN, yakni di Taman Macan dan Anjungan Pantai Losari. Peresmiannya dilakukan oleh Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto, kurang lebih dua bulan lalu di Taman Macan Jalan Slamet Riyadi.
Ketika itu, Wali Kota yang akrab disapa Danny ini berharap banyak dengan disediakannya KASM oleh PDAM. ”Kalau semua perusda membuat inovasi terbaru seperti apa yang telah dilakukan PDAM Makassar, saya yakin Makassar menjadi kota dunia,” kata Danny saat itu.
Namun, dari pantauan Minggu (10/1), KASM di dua tempat tersebut kurang direspon masyarakat. Kalaupun ada yang memanfaatkannya, itupun jumlahnya masih sangat sedikit.
Sebagian pengunjung Taman Macan dan Anjungan Pantai Losari yang ditemui, mengaku masih ragu dengan higienitas air yang keluar dari KASM.
Meskipun peralatan seperti pipa dan kran warna silver masih mengilap, serta air yang jernih lancar mengalir, tetap saja pengunjung tidak berani meminumnya secara langsung. Jadilah fasilitas baru ini terkesan menjadi benda pajangan dan airnya tidak layak untuk dinikmati.
Keraguan pengunjung makin ditambah dengan tidak adanya petugas khusus yang mengontrol KASM. Akibatnya, tidak jarang banyak yang memanfaatkannya sebagai tempat cuci tangan ataupun sekadar untuk cuci muka.
“Saya masih ragu minum itu airnya, karena takutka. Siapa tau air yang dikeluarkan tercemar bakteri. Apalagi saya pribadi belum pernah melihat secara langsung ada tim yang mengontrolnya,” kata Agung (25), seorang pengunjung Anjungan Pantai Losari.
Dia menyarankan agar PDAM Kota Makassar menyiapkan tenaga khusus untuk mengontrol keberadaan KASM ini. Sebab ia sering melihat ada sebagian orang yang menjadikan KSAM sebagai tempat cuci tangan dan untuk membasahi kepala, khususnya di malam hari.
“Salah satu alasan kenapa saya ragu minum air dari situ, karena sudah sering saya lihat kalau saya kesini malam hari, ada cewek ataupun cowok yang pakai itu air kran untuk cuci tangan. Jadi bagaimanami itu kalau air bekas cuci tangannya atau kepalanya jatuh kembali ke dalam wadah penampungan, itu bagaimana. Karena kita juga belum tahu sistemnya seperti apa. Saya khawatir air yang kita minum tidak difilter, terus air bekas cuci tangannyaji orang yang kita minum,” cetusnya.
Hal senada dikatakan Danny (28). Dia meminta petugas PDAM rajin mengontrol aktivitas warga yang memanfaatkan kran air siap minum agar tetap terjaga dan awet, serta kebersihan airnya benar-benar dapat dipercaya oleh masyarakat.
“Saya juga ragu minum airnya langsung. Karena biasa juga saya lihar ada pengunjung laki-laki menggunakannya untuk cuci itu tanpa ada teguran dari penjaga. Padahal jelas-jelas ada stiker himbauan tertempel, yang salah satunya melarang menjadikan kran air siap minum untuk mencuci tangan,” ujar Danny.
Berbeda dengan Wahyu (13), salah seorang murid SD yang ketika ditemui sedang mengambil air dari KASM. Dia mengaku hampir setiap hari menikmati air dari kran ini dan meminumnya langsung ketika pulang sekolah.
“Saya kalau siang pulang sekolah pasti singgahka ambil air minum disini pakai botol plastik. Enakji rasanya. Kayak air galonki. Tapi satu kali pernah saya rasa ada sedikit rasa asinnya. Tapi itu satu kaliji saya rasa,” cetusnya.
Kondisi yang tidak jauh berbeda terlihat di KASM Taman Macan. Stiker air siap minum masih menempel. Pipa, kran dan air yang keluar juga normal.
Namun warga yang berkunjung ke tempat ini sebagian besar juga masih ragu mengonsumsi langsung air yang keluar dari kran, dengan beragam alasan. Mulai takut sakit perut karena bakteri, dan penyebab sebagainya.
Di sekitar KASM yang terletak di depan kantor Lurah Baru tidak terlihat ada penjaga yang mengontrolnya. Warga yang berolahraga lebih memilih untuk membeli air mineral berkemasan botol yang dijual di dalam lokasi taman dengan harga Rp5 ribu.
Iqbal (42), salah satu pengunjung Taman Macan yang ditemui, mengatakan ia masih ragu dengan kebersihan air siap minum yang ada di Taman Macan. Karena itu ia lebih memilih mengeluarkan uang Rp1.000 untuk membeli air gelas dari pada minum air siap minum.
“Saya tidak berani meminumnya karena masih ragu saja. Mending saya keluarkan uang seribu untuk beli air gelas daripada dari kran itu,” katanya.
Hal berbeda ditunjukkan para tukang parkir, penyapu jalan dan petugas kebersihan Taman Macan. Mereka mengaku sangat terbantu dengan adanya KASM ini.
Karena dengan adanya KASM, mereka tidak perlu perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli air minum. “Saya suka minum air dari kran itu. Selain gratis, air siap minum juga rasanya segar dan seperti air masak,” kata Dg Inna, seorang petugas kebersihan.
Karena itu, Dg Inna dan rekannya yang lain mendukung rencana PDAM untuk menambah KSAM di beberapa titik strategis di Makassar.
“Bagus kalau PDAM mau tambah lagi kran air siap minum. Pasti makin lama banyakji orang yang minumki. Apalagi saya pribadi sampai sekarang juga tidak matiji konsumsi itu air, yang sejak keluarnya sampai sekarang saya konsumsi sehari-hari itu,” terangnya.
Rahman (45) juga mengaku, setiap hari minum air dari kran yang adadi Taman Macan. Biasanya, setiap hari ia mengisi botol plastik yang dibawanya dari rumah.
“Saya setiap hari isi botol plastikku, baru saya bawa ke tempat parkir dan meminumnya kalau haus. Air dari kran itu hanga. Berarti mesin di dalam kran air itu berfungsiji,” ucapnya. (*/rus/b)

Exit mobile version