SETIAP hari Allah SWT memberi hambanya rezeki dan kenikmatan. Untuk itu, umatnya harus mengejar kenikmatan tersebut.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
HARAPAN untuk mendapatkan rezeki dari Allah, membuat Deng Bollo (56) tahun penjual kue keliling kantor ini tetap tegar dan semangat.
Meski tak punya pekerjaan ataupun keahlian lain, kecuali sebagai ibu rumah tangga, ia tetap harus berjuang membantu menghidupi keluarganya.
Ia mencoba menjajakan kue dan menjajakan di lingkungan kantor-kantor pemerintahan. Kadangkala aktifitas dilaluinya tidak begitu menyenangkan karena seharian dagangannya tidak laku.
Namun, kondisi pahit yang dialaminya tetap ia jadikan semangat untuk terus berjualan seperti di Kantor Bupati Gowa dan Kantor DPRD Kota Makassar.
Terkadang ia juga mengeluh dengan penyakit di kakinya yang selalu muncul. Mungkin karena ia menempuh perjalanan yang jauh dengan mengayuh sendiri sepedanya.
“Sering ku rasa sakit kakiku kadang istirahat kah dulu karena sakit sekali mi. Belum lagi, kue ku kadang masih banyak,” ujarnya.
Kondisi yang dialaminya tidak menyurutkan langkahnya untuk membuat dagangannya habis terjual, meski rela berjualan hingga malam hari.
Dengan penghasilan jauh dari cukup ditambah kerjaan suami yang hanya petani bayaran, tidak cukup menghidupi kebutuhan rumah tangganya.
“Tidak cukup mi mau belanja hari-hari. Kadangkala keuntungan dibikin modal mi lagi nak,” katanya.
Setiap hari usai subuh, Dg Bollo yang tinggal di Sungguminasa, Kabupaten Gowa ini, mulai menjalankan aktifitasnya dengan mengayuh sepeda hingga berpuluh-puluh kilo menuju tempat di mana ia biasa menjajakan kuenya.
Aktifitas menjual kue dari kantor ke kantor sudah lama ia lakoni.
Mungkin saja, Dg Bollo bisa mengemis untuk mendapatkan uang, namun ia masih memiliki harga diri dan rasa hormat pada orang lain, sehingga ia lebih memilih untuk bekerja dengan segenap dirinya sendiri daripada harus mengemis di jalanan.
Ditemui saat duduk di lantai satu gedung DPRD Kota Makassar, tampak wajah Dg Bollo dibasahi oleh keringat yang menetes dari dahinya. Sesekali ia mengusap menggunakan kain yang ia simpan didepan setir sepedanya.
“Saya nak’ keliling setiap hari jual kue di tempat seperti ini dan tidak ada yang bantu kah. Anakku punya aktifitas sendiri membantu bapaknya jadi kuli bangunan,” kata Dg Bollo.
Adapun kue yang ia jual beragam bentuk dan warnanya, dan rata-rata kue yang dijual adalah kue tradisional khas Bugis Makassar seperti kue lapis, taripang, pisang goreng, pawa, pana’da dan lainnya.(ita/b)