JENEPONTO, BKM — Proyek kantor Bupati Jeneponto yang menghabiskan anggaran ratusan miliar rupiah dan telah rampung sejak tahun 2008 silam mulai menyisakan sejumlah masalah.
Beberapa diantaranya kondisi atap kantor yang kini mengalami kebocoran. Seperti di ruang Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Asset dan ruang Badan Kesbanglinmas.
Tak hanya itu, kebocoran juga bahkan terjadi di ruang Wakil Bupati Jeneponto.
Kondisi ini memaksa wakil bupati mengungsi ke ruang pegawai.
“Terpaksa saya tempati ruang pegawai, karena ruangan utama bocor-bocor. Saya sudah sampaikan ke Bappeda agar ada anggaran perbaikan untuk tahun ini,” Wakil Bupati Jeneponto, Mulyadi Mustamu, Selasa (12/1).
Mulyadi menceritakan, saat hujan turun, sejumlah staf yang ada diruangannya terpaksa menggulung karpet, untuk menghindari tampias air dari atap yang bocor.
“Soalnya kalau tidak dipindahkan, terus airnya kena karpet dan lembab bisa bau. Saya kasian sama staf karena harus gulung karpet kalau hujan,” katanya.
Senada Mulyadi, Kepala Keuangan Badan Kesbanglinmas, M Lallo mengatakan, atap di ruangannya mengalami tiga kebocoran. Kondisi ini membuat M Lallo kadang panik karena khawatir dokumen penting yang ada di ruang kerjanya basah akibat rembesan air hujan.
“Di ruangan ku tiga bocor. Kalau hujan staf biasa sibuk pindahkan berkas penting karena takutnya basah. Kalau tidak segera di renovasi saya takut atap di ruangan kami bisa roboh, karena kondisinya juga mulai rapuh,” beber M Lallo. (krk-ril/b)