SIDRAP, BKM — Puluhan pedagang pasar yang beroperasi setiap hari di depan Pasar Sentral Pangkajene, Sidrap, pertanyakan nasibnya. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidrap, dalam waktu dekat ini berencana mengosongkan lahan itu alias akan menggusur lokasi yang ditempati pedagang selama ini berjualan.
Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Sidrap, melalui Kepala Bidang Retribusi, Ahmad Dollah, mengaku telah melayangkan surat pemberitahuan kepada para pedagang pasar yang melakukan aktivitas jual beli diatas lokasi itu.
Surat yang dilayangkan sejak November 2015 lalu, intinya berupa pemberitahuan yang meminta agar semua pedagang segera bersiap-siap meninggalkan atau mengosongkan lokasi itu yang batas waktunya berkahir hingga Mei 2016 yang akan datang.
“Upaya pengosongan lokasi depan Pasar Sentral itu, atas perintah langsung bupati. Karena lokasinya yang jorok dan menjadi biang kemacetan, sehingga hal itu akan dilakukan penataan dengan baik,” ujar Ahmad, di kantornya, Selasa (12/1).
Menurut Ahmad memang selama ini puluhan pedagang yang berjualan sudah menggunakan sebagian area badan jalan untuk transaksi jual beli.
“Kemacetan setiap hari pasar selalau terjadi disebabkan karena pedagang sudah meluber keluar dan menggunakan bahu jalan sebagai tempat berdagang, makanya itu akan kita tertibkan,” tegasnya, lagi.
Sementara itu, sejumlah pedagang pasar yang ditemui secara terpisah kemarin, mengatakan, rencana pengosongan lahan oleh pemerintah, dalam hal ini Dispenda Sidrap tersebut, di protes keras kalangan pedagang pasar.
Amin (42), salah seorang perwakilan pedagang yang ditemui kemarin di lokasi pasar sentral Pangkajene, mengatakan, rencana pengosongan lahan itu akan diadukan ke DPRD Sidrap untuk mencari solusi agar para pedagang tidak dikorbankan.
Menurutnya, upaya penggusuran tempat jualan para pedagang tersebut, kata Amin, sah-sah saja, sepanjang Pemkab bersedia mencarikan tempat jualan yang layak bagi pedagang.
“Terus terang, tidak sedikit uang yang kami keluarkan untuk menyewa tempat jualan itu, mulai Rp600 ribu-Rp1 juta. Bahkan sudah banyak yang membeli dengan harga sampai puluhan juta rupiah,” keluh Amin yang turut diamini sejumlah pedagang pasar lainnya. (ady/C)