SEBAGIAN orang beranggapan bekerja menjadi tukang parkir merupakan pekerjaan rendahan yang tidak menghasilkan apa-apa, dan hanya menunggu recehan uang yang tidak bernilai. Bahkan orang menilai, bahwa tukang parkir itu hanya untuk kalangan ekonomi bawah yang tidak berpendidikan.
Laporan: ARIF AL QADRY
Padahal sesungguhnya profesi tukang parkir menjadi pelajaran berharga untuk mengukur ketabahan dan keiklasan seseorang. Tukang parkir selalu ikhlas bila ia tidak diberi uang oleh pemilik kendaraan, dan tidak merasa jengkel atau marah jika kaki dan betisnya melepuh akibat knalpot atau kakinya terkena standar motor.
Begitupun resiko dan ketabahan yang setiap hari mengisi benak hati Supardi (39), tukang parkir di halaman Ratulangi Medical Center.
Dibalik kerja kerasnya dan resiko yang kerap dihadapi selama menjadi petugas parkir, ia tetap bersyukur karena masih bisa memmberikan nafkah untuk keluarganya. “Alhamdullilah, Allah masih memberikan saya rezeki sampai hari ini,” katanya sambil tersenyum.
Ia-pun selalu berdoa dan berharap di saat menunaikan salat, untuk bisa memperoleh pekerjaan yang tetap dan lebih baik lagi.“Saya berharap suatu saat nanti bisa mendapat pekerjaan tetap,” ujarnya.
Sebenarnya Supardi masih punya kakak dan adik yang bisa diandalkan untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Tapi ia menolak tawaran itu. Pantang baginya hidup bergantung kepada saudaranya. Ia lebih memilih mengontrak rumah kecil agar lebih mudah saat bekerja.”Lebih enak hidup mandiri, nggak bergantung dengan orang lain,” terangnya di sela-sela melayani orang yang memarkirkan kendaraan.
Supardi adalah sosok bapak yang tegar. Menjadi tukang parkir bukanlah perkara mudah. Selain harus membantu memarkirkan, terkadang ia harus mengangkat motor yang cukup berat.“Apalagi kalau ada barang yang hilang, pasti saya yang tanggung,” kata dia.
Dengan penghasilan Rp35 ribu hingga Rp50 ribu tidaklah sebanding dengan kerja kerasnya setiap hari. Apalagi pendapatan yang jumlahnya jauh dari kata cukup itu harus diserahkan dulu ke PD Parkir Makassar Raya untuk dihitung.
Hanya saja, dibalik ketegaran Supardi, ada ciri khas yang tak bisa dilupakan para pemilik kendaraan yang menjadi langganan parkirnya. Pria tambung ini memiliki suara yang keras dan lantang. Kadangkala, bagi pengendara yang baru melewati jalan tersebut pasti kaget, karena suara Supardi seperti orang yang sedang berkelahi dan bertengkar.
Suara pria yang dikaruniai dua orang anak itu, mulai terdengar sejak pukul 08:30 Wita.
Sejak pukul 08:00 wita, Supardi atau akrab disapa Pardi sudah meninggalkan rumah yang ia kontrak di Jalan Bontoduri, Kecamatan Tamalate menuju lokasi kerjanya.
Berbekal sepeda motor keluaran tahun 90-an ini, ia menaruh harapan bisa mendapatkan rezeki yang banyak untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya maupun kebutuhan sekolah anaknya.
Dengan sumpritan yang sudah terlihat usang dan kotor itu ia lilitkan tali yang siap ditiup bila ada yang ingin memarkirkan kendaraan.
“Memang begini suaraku saya agak keras, memang kalau kita lama tinggal di kampung pasti besar-besar suara ta. Apalagi, jika kita tinggal di tengah sawah pasti pakai suara keras untuk memanggil orang. Beginimi suaraku kodong,” kata Pardi.
Tak pernah ada kata malu dalam menjalankan pekerjaannya. Bagi Pardi, ini merupakan profesi yang mulia.“Daripada saya mencopet atau mencuri, lebih baik jadi tukang parkir. Saya malunya hanya kepada Allah,” ungkapnya.(arf/b)