Site icon Berita Kota Makassar

Cakka Pantau Proyek Jembatan Rp1,2 Miliar

Cakka Pantau Proyek Jembatan Rp1,2 Miliar

LUWU, BKM — Bupati Luwu Andi Mudzakkar melihat dari dekat kondisi jembatan dan drainase yang telah rampung pengerjaannya di Desa Tampumia, Kecamatan Bupon, Minggu (17/1). Dua proyek infratruktur ini dikerjakan CV Alonso.
Jembatan yang dibangun di desa terpencil ini sepanjang 25 meter, sementara drainase 3,300 meter.
Dihadapan warga Desa Tampumia, Bupati yang akrab disapa Cakka itu menuturkan, membangun infrastruktur itu mudah. Namun untuk memelihara hasil pembangunan itu yang sulit.
Menurutnya, untuk majunya sebuah desa, masyarakatnya harus mengedepankan sikap gotong royong. Cakka mengapresiasi kebersihan wilayah desa ini, meskipun masuk kategori desa pedalaman.
Dalam perjalanan menuju ke Tampumia, Cakka sempat melihat kondisi lokasi tempat ibadah yang dia anggap kurang bersih. ”Saya prihatin melihat kondisi masjid di Desa Tampumia,” ujarnya di depan Kades Tampumia Mustika Sanggana dan warganya.
”Saran saya, setiap minggu warga harus gotong royong dan dituangkan dalam peraturan desa (perdes). Sikap gotong royong itu wajib, dan dalam pelaksanaannya jika ada warga yang tak sempat gotong royong kita denda Rp5 ribu. Jika kadesnya tak ikut juga didenda Rp 25 ribu,” terangnya.
Dijelaskan Cakka, selain jembatan dan drainase, program pembangunan irigasi memang merupakan fasilitas pertanian yang dibutuhkan. Karena itu, di tahun anggaran 2016 diluncurkan program asuransi pertanian.
”Setiap hektar membayar Rp38 ribu, dan jika gagal panen atau fuso akan diberikan ganti rugi Rp 6 juta. Ini untuk membantu masyarakat petani. Karena di tahun 2016, diprediksi akan terjadi kemarau selama lima bulan. Karena itu perlu penanganan dan antisipasi khusus,” beber Bupati Luwu dua periode ini.
Rekanan pelaksana CV Alonso Yamin Annas dalam penjelasannya, mengatakan syukuran yang dilaksanakan atas selesainya pembangunan jembatan dan drainase ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat.
”Pembangunan jembatan dan drainae dilaksanakan selama empat bulan, walaupun mengalami kendala sumber materia,” kata Yamin Annas.
Dijelaskan pula bahwa hampir 50 persen penduduk laki-laki di Desa Tampumia bekerja sebagai tukang batu. Kualitas pekerjaan mereka mampu bersaing dengan tenaga tukang batu dari luar Tampumia.
Proyek jembatan dan drainase yang dikerjakan ini menghabiskan anggaran Rp1,2 miliar yang dikucur dari APBN tahun 2015. (wan/rus/c)

Exit mobile version