MAKASSAR, BKM — Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Sulsel merilis kabupaten/kota, sekolah, instansi pemerintah dan perusahaan yang memperoleh penghargaan di bidang lingkungan hidup.
Penghargaan tersebut diantaranya Adipura untuk kabupaten/kota, Proper untuk perusahaan, Adiwiyata untuk sekolah, kantor ramah lingkungan untuk tingkat SKPD Pemprov Sulsel.
Untuk piala Adipura, menurut Kepala BLHD Sulsel, A Hasbi Nur, kabupaten/kota yang meraih jauh dari target.”Sebenarnya ada 18 kabupaten/kota yang bisa meraih seperti yang kami usulkan ke Kementerian Lingkungan Hidup. Namun hanya delapan yang mendapat piala Adipura,” ungkap Hasbi.
Penyebab berkurangnya daerah peraih Adipura, lanjut Hasbi, karena indikator penilaian ditingkatkan. Salah satu yang sangat penting adalah pengelolaan sampah harus berbasis sanitary landfill.
“Permasalahannya disitu. Jadi dari 18 hanya 10 yang masuk. Sementara 8 jatuh. Termasuk Kabupaten Bantaeng. Dari seluruh kriteria yang ditetapkan, semua dipenuhi Bantaeng kecuali pengelolaan sampah sistem sanitary landfill,” ungkapnya.
Namun, pihaknya tidak berkecil hati karena secara perlahan, seluruh kabupaten/kota sudah mulai akan menerapkan metode pengelolaan sampah berbasis sanitary landfill.
Penerima piala Adipura untuk tahun 2015 diantaranya Makassar, Parepare, Palopo, Maros, Soppeng, Enrekang, dan Bulukumba. Sementara yang memperoleh sertifikat adipura yakni Sinjai, Takalar, dan Jeneponto.
Lebih jauh dikemukakan, untuk peraih Adiwiyata atau sekolah peduli lingkungan, Sulsel menorehkan prestasi yang cukup membanggakan. Sebanyak 20 sekolah memperoleh penghargaan tersebut masing-masing, 7 sekolah di Bulukumba, 3 Parepare, 3 Pinrang, 3 Luwu Timur, 2 Bantaeng, 1 Maros, dan satu sekolah di Kabupaten Gowa.
Dilanjutkan, perusahaan yang meraih penghargaan Proper juga cukup banyak. Dari 60 perusahaan yang diajukan, tidak ada lagi perusahaan yang masuk dalam kategori hitam alias perusak lingkungan.
Satu perusahaan yakni PT Pertamina Terminal BBM Makassar masuk kategori hijau, 25 perusahaan kategori biru, sedangkan sisanya masuk kategori merah alias tidak ramah lingkungan.
Hasbi mencatat, banyak rumah sakit daerah yang mengantongi kategori merah.
Tahun 2015, untuk pertama kalinya Sulsel menempatkan dua kampung di Kabupaten Wajo meraih penghargaan sebagai kampung iklim.
“Dari 16 yang diusulkan, dua masuk kategori yakni kampung Paniko dan Palikko di Kabupaten Wajo,” jelasnya.
Selain itu, BLHD Sulsel juga memberikan penghargaan secara khusus kepada SKPD lingkup Pemprov Sulsel yakni Kantor Ramah Lingkungan.
SKPD peraih penghargaan diantaranya Juara 1 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Juara 2 Badan Kepegawaian Daerah, dan Juara 3 Dinas Tata Ruang dan Pemukiman.
Sementara kategori biro, Juara 1 Biro Umum, Juara 2 Biro Pemerintahan Desa, dan juara 3 Biro Bina Kesejahteraan.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengapresiasi penghargaan yang diperoleh stakeholder dalam bidang lingkungan hidup.
Namun, Syahrul mengaku belum puas dengan prestasi yang diraih Sulsel dalam bidang lingkungan hidup saat ini. Dia berharap, ke depan, prestasi itu lebih ditingkatkan.
Berbeda dengan target yang ditetapkan BLHD, gubernur berharap tahun mendatang, seluruh kabupaten/kota yang ada di Sulsel minimal sudah meraih sertifikat Adipura. Dan separuh kabupaten/kota di Sulsel bisa meraih piala Adipura.
“Semua kabupaten/kota minimal harus dapat sertifikat. Tahun depan harapan kita, lebih dari setengah kabupaten/kota bisa meraih Piala Adipura,” ungkapnya. (rhm/b)