KASIH sayang seorang ibu dan ayah tidak akan pernah habisnya, ikatan batin antara seorang anak dan ibu serta ayahnya tidak bisa diukur dengan materi. Kehadiran seorang Ibu adalah tempat mendapatkan kasih sayang sejati.
Laporan: ARIF AL QADRY
Tapi tidak semua orang beruntung dan mendapatkan kasih sayang dari ibu dan ayah kandungnya itu. Seperti halnya yang dialami Kiki (18), gadis penyemir sepatu dari kantor ke kantor.
Kedua orang tuanya meninggal dunia saat ia masih berusia dua bulan. Keduanya meninggal karena sakit.
Ia-pun dirawat dan dipelihara oleh tantenya yang juga saudara kandung dari ibunya. Kiki merasa tantenya sangat berjasa memelihara dan menghidupinya hingga saat ini.”Tante saya seperti ibu kandung saya sendiri. Saya belum berniat menikah sebelum membahagiakan tante saya. Saya selalu berdoa, apapun yang diinginkan tante saya bisa dikabulkan oleh Allah,” ujar Kiki sambil sesekali mengusap air mata yang menetes dipipinya itu.
Gadis yang hanya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas tiga itu, terpaksa menggadaikan masa remajanya untuk mencari uang dengan jalan menyemir sepatu.
Cara itulah yang ia tempuh untuk bisa tetap bertahan hidup bersama seorang tantenya di sebuah rumah kecil di Jalan Abdul Kadir.
Anak bungsu dari empat bersaudara itu, bukanya terbantu oleh ketiga kakaknya. Justru ia mengaku kadang merasa sedih melihat saudaranya yang jarang datang mengunjungi atau menengoknya bersama tantenya yang hidup hanya pas-pasan. Ia tidak berharap saudaranya datang membawa bingkisan atau sekoper uang, namun ia hanya berharap layaknya orang lain yang memiliki saudara yang begitu harmonis bisa saling menjaga, mengasihi dan saling membantu.”Saya punya saudara tapi seakan tidak punya saudara. Disitu saya merasa sangat sedih apalagi sudah beberapa kali saya jatuh sakit tapi tidak ada satupun saudara saya yang datang menengok apalagi mendoakan saya. Hanya tante ku yang rawatka itupun kondisinya juga kurang sehat,” ucap Kiki dengan suara terbata-bata.
Setiap hari bukan hanya kantor Balai Kota yang ia datangi. Setiap pagi, Kiki berkeliling menawarkan jasanya menyemir sepatu di cafe, warkop, rumah makan, pelabuhan dan juga di kantor polisi yang sudah menjadi tempat favorit. Untuk itu, sejak pukul 07.00 Wita, Kiki sudah harus meninggalkan rumahnya untuk mencari rezeki dengan berjalan kaki atau sesekali menggunakan angkot menuju ke beberapa tempat yang ramai dikunjungi hingga pukul 05.00 Wita.
Meski tawaran dan rayuannya kadang ditolak dengan santun. Ia sama sekali tidak berputus asa. Bahkan, ia terlihat lebih semangat dengan menengok ke kiri dan ke kanan menawarkan jasanya dengan harapan ada yang ingin disemirsepatunya.
Untuk upah, sekali menyemir Kiki meminta biaya Rp10 ribu yang bukan langganan, dan Rp6 ribu bagi langganan.
Meski demikian, Kiki juga mengaku sering diberikan uang lebih ke langganan khususnya para pejabat di kantor Balai Kota Makassar.”Murahji saya pasang harga, kalau untuk langgananku hanya Rp6 ribu, sedangkan untuk orang lain Rp10 ribu. Kadang saya diberi bonus oleh pejabat yang memiliki uang lebih,” ujar Kiki.
Kiki juga mengaku, tidak selamanya perjuangan mencari rezeki melalui semir sepatu berjalan lancar. Di musim hujan atau dihari libur yang cukup panjang seringkali tidak membawa pulang uang. Orang kebanyakan lebih memilih menggunakan sendal daripada menggunakan sepatu kulitnya. “Kalau bagus rezeki ku, saya biasa bawa pulang uang Rp100 ribu atau Rp150 ribu. Tapi biasa juga sama sekali tidak ada seperti saat musim hujan dan pas bertepatan libur panjang. Disitu biasa saya pusing tidak tau dimanaka lagi mau semir sepatu,” katannya.
Adapun rezeki yang ia didapatkan dari hasil menyemir sepatu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan membeli beras, lauk, biaya transpor dan tabungan untuk masa depannya.(arf/b)