MAKASSAR, BKM — Progres proyek middle ring road (MRR) sejauh ini terkesan lamban. Alasannya, karena pembebasan lahan yang dikoordinir Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar hingga saat belum maksimal.
Menyikapi persoalan itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Pemprov akan mengasistensi, mendorong, dan membantu Pemkot Makassar dalam penyelesaian pembebasan lahan.
Dia melanjutkan, persoalan pembebasan lahan memang kerap berjalan lamban. Butuh pendekatan kepada pemilik lahan, namun tetap harus dibarengi dengan ketegasan.
Sebagai koordinator pembebasan lahan, lanjut orang nomor satu di Sulsel itu, Pemkot harus bisa membangun kesadaran jika pembangunan jalan sangat penting karena untuk kepentingan umum.
Kepala Satuan Kerja (Satker) Jalan Metropolitan Makassar, Balai Besar Jalan Nasional (BBJN) Wilayah VI, Rahman Jamil mengatakan tahap pertama pengerjaan, ditargetkan MRR yang bisa selesaikan sepanjang 3 km dengan lebar 42 km. Sementara lahan yang sudah dibebaskan hingga saat ini baru sepanjang 500 meter.
Tahun 2016 ini, disiapkan anggaran sebesar Rp40 miliar untuk pengerjaan fisik jalan dari nilai kontrak MRR sebesar Rp174,7 milar. Untuk pembebasan lahan sendiri, pemkot mengajukan dana sebesar Rp15 miliar.
Sementara itu, Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel, Abdul Latif berjanji akan membantu Pemkot Makassar mendapatkan anggaran untuk pembebasan lahan tahun ini. Pasalnya, anggaran pembebasan lahan untuk MRR tahun 2015 lalu sebesar Rp15 miliar dialihkan ke pembebasan lahan Bypass Mammimasata karena anggaran itu tidak terserap secara maksimal.
Dia menegaskan, proyek MRR memang harus disikapi secara serius. Jika tidak, impian untuk menghadirkan jalan alternatif pemecah kemacetan di Kota Makassar itu akan jalan di tempat.
Menurut design yang ada, MRR
akan melintasi empat aliran air sehingga akan ada empat jembatan yang akan dibangun.
Diantaranya Sungai Tello 2, PDAM, Kanal Batua, dan Kanal Borong. (rhm/war/b)