MAKASSAR, BKM –Sulawesi Selatan khususnya Kota Makassar dianggap telah siap menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), terutama dari segi sumber daya alam (SDA).
“Saya melihat Makassar sudah siap menghadapi MEA, khususnya sumber daya alam,” kata Kepala Perwakilan Taipe Economic and Trade Office in Indonesia (TETO), Chang, saat menghadiri seminar Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi (IPTEK) yang bertema Seminar on Agricultural and Aquacultural Development in South Sulawesi.
Seminar tersebut digelar di gedung Sain dan Teknologi (Saintek), Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Sabtu, (23/1).
Untuk itu, Chang memboyong para kolega (24 orang) dalam menjajaki kerjasama dibidang agri cultere.” Kita menitikberatkan pada bidang agri culture dan beras,” lanjutnya.
Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Abd Haris yang mewakili Gubernur Sulawesi Selatan menuturkan bahwa, pihaknya siap melakukan kerjasama dengan negara lain terutama Taiwan.
Apalagi, kerjasama tersebut tentunya memajukan Sulsel dan kesejahteraan masyarakat, serta mewujudkan visi Sulsel sebagai penyedia pangan nasional berkelanjutan dan berdaya saing.”Kita semua senantiasa meningkatkan koordinasi untuk bersama-sama mendorong komoditas unggulan,” jelas Abd Haris.
Pada kesempatan itu, Abd Haris juga membeberkan potensi SDA Sulsel seperti beras, jagung, kedelai, udang, rumput laut dan lain-lain. SDA tersebut sambungnya mengalami peningkat dari tahun ke tahun.”Potensi SDA Sulsel sangat menggembirakan dan selalu mengalami peningkatan seperti padi dari 5,43 ton meningkat menjadi 290, 265 (7,7 persen),” bebernya.
Di tempat yang sama, Chairman PT Media Fajar Group, HM Alwi Hamu sangat merespon baik kedatangan pengusaha Taiwan. Alwi Hamu juga memuji keunggulan Taiwan terutama dalam tekhnologi pertanian, seperti mampu meningkatkan produksi dari 6 ton hingga 11 ton lebih.
Dia juga mengatakan bahwa, Taiwan yang notabene memiliki lahan yang tergolong sempit (2/3 dari Jawa), namun mampu meningkatkan tekhnologi pertanian diwilayahnya. Belum lagi, Taiwan merupakan negara penyuplai tekhnologi ke negara lain seperti vietnam.
Dengan alasan itu, pihaknya juga tertarik melakukan kerjasama Taiwan. Saat ini lanjut, Alwi Hamu, Sulsel memiliki tehnologi pembibitan padi yang telah diujicobakan di Kabupaten Pinrang dan menyusul Bantaeng. Tekhnologi tersebut juga sementara digunakan di sebagai daerah di Jawa Timur.”Sekarang percobaan di Pinrang berupa pembimbitan padi, dan juga di Bantaeng. Beberapa daerah di Jawa Timur juga telah menggunakan pabrik pembibitan padi,” kata Alwi Hamu.
Dia berharap bahwa momen tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat Sulsel, apalagi mereka (Taiwan) memiliki keseriusan untuk mengembangkan Sulsel.”Saya berharap bahwa momen ini bisa dimanfaatkan dengan baik,” harapnya.
Selain kerjasama di bidang pertanian, Taiwan juga menawarkan beasiswa ke masyarakat Indonesia terutama untuk Kota Makassar.
Hal ini disampaikan Ketua Umum Kehormatan Alumni Taiwan Indonesia, Rini Lestari. Leni mengatakan bahwa, Taiwan membuka peluang besar melalui beasiswa kepada masyarakat Indonesia, hanya saja tidak banyak diketahui publik.”Banyak beasiswa Taiwan yang tidak diketahui orang,” kata Leni saat berada di lantai 19 Gedung Graha Pena, Minggu (24/1).
Di sela-sela makan siang, Leni juga memuji perkembangan pendidikan di Taiwan yang cukup pesat. Taiwan memiliki kualiatas pendidikan yang tinggi.”Mutu pendidikan disana (Taiwan) sangat bagus,” lanjutnya.
Sebagai seorang alumni mahasiswi Taiwan yang konsen pada dunia pendidikan, dia mengaku terpanggil untuk memberikan informasi ke publik tentang peluang yang besar tersebut. Dia pun mengajak masyarakat untuk melihat dan mengambil peluang beasiswa itu.
Untuk mengetahui peluang beasiswa, masyarakat Indonesia bisa mengakses lewat internet dan melalui organisasi alumni Taiwan Indonesia. Dia sendiri mengaku, jika organisasi alumni Taiwan bisa memamfasilitasi, minimal membeberikan informasi seputar pendidikan di Taiwan.
Saat ini oranganisasi alumni tersebut sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti di Jakarta, Palembang, Bandung, Medan, Riau, Sulawesi dan lain-lain.
Hanya saja, untuk ke Taiwan, ujar Leni, harus mengasai bahasa Mandarin karna kebanyakan jurusan disana menggunakan bahasa pengantar dengan bahasa Mandarin. Namun S1, S2 dan kebanyakan menggunakan bahasa pengantar yakni bahasa inggris terutama untuk jurusan ekonomi dan manajemen.
Jumlah alumni Taiwan seluruh Indonesia sudah sekitar 6 ribuan dan sekitar 1.300 orang yang ke Taiwan pertahun.(man/war/c)
Sulsel Siap Hadapi MEA

BKM/RAHMAN RESPON-Chairman PT Media Fajar Gorup, HM Alwi Hamu saat berada di Unhas memrespon positif kedatangan perwakilan Taipe Economic and Trade Office in Indonrsia (TETO), Sabtu (23/1). Alwi Hamu juga berfoto bersama dengan Leni Lestari di lantai 15, Gedung Graha Pena, Minggu (24/1).