Site icon Berita Kota Makassar

Lebarkan Sayab Usaha Hingga ke Gowa

SELAIN mengandalkan keuntungan menjual kopi di Kantin Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sulsel serta mengandalkan kemampuan meracik kopi, Makmur berusaha melebarkan usahanya.

Laporan: ARIF AL QADRY

Makmur mulai berfikir untuk membuat warung kopi sendiri, tetapi tidak di Kota Makassar. Alasannya, bersaing membuka usaha warkop di Kota Makassar sudah berat, sebab disamping membutuhkan modal besar juga bersaing promosi. Kalau tidak mampu bersaing pasti akan tumbang dengan sendirinya.”Sudah banyak usaha warkop di Makassar yang gulung tikar tidak tidak mampu bersaing,” ujar Makmur.
Makmur ingin memulai membuka usaha di Kabupaten Gowa. Menurutnya, masyarakat di Gowa juga banyak pecinta dan penikmat kopi di warkop.
Dengan memberanikan diri meminjam modal di salah bank, dia mulai membuka usaha warkop di Jalan KH Wahid Hasyim, Kabupaten Gowa. Warkopnya diberi nama “Warkop Makmur”.
Alhasil, baru seminggu membuka warkop konsumen mulai berdatangan satu persatu untuk mencoba menikmati kopi hasil racikannya.
Sejak awal buka dihari pertama, Makmur mengaku memberikan kopi gratis kepada semua pengunjung warkop miliknya dan mencari komentar para pengunjung mengenai cita rasa kopi yang ditawarkan di warkop miliknya.
Bahkan untuk dapat menyajikan racikan kopi yang lebih nikmat, dia juga setiap hari meminta tanggapan semua pegunjung warkopnya.
“Awal saya membuka warkop, para pengunjung disuguhkan kopi gratis untuk lebih memperkenalkan kopi racikan saya. Alhamdulillah, para pengunjung memberikan respon baik. Bahkan, seminggu membuka warkop, para pengunjung mulai ramai singgah di warkop saya,” ujarnya.
Hanya jangka waktu empat bulan dia merintis Warkopnya, dia telah mendapat omset yang ditaksir ratusan ribu perhari. Namun, omset yang didapatkan ia simpan hingga akhir bulan dan menyisihkan antara keuntungan, gaji karyawan dan modal usahanya.
Saat ini, dia baru mempekerjakan dua orang karyawan di warkopnya yang masing masing memiliki peran sebagai kasir dan pelayan. Sementara, untuk jam kerja karyawannya mulai pukul 07:00 Wita sampai pukul 05:00 Wita.
“Keuntungan bukan segalanya dalam berbisnis. Tetapi bagaimana bisnis yang kita geluti dapat dikenal dan bertahan sampai saat ini. Apalagi, persaingan usaha warkop makim sulit, sehingga dibutuhkan kunci sukses yakni pelayanan, kenyamanan dan cita rasa kopi yang racik dengan baik,” ujarnya.
Dia juga menambahkan, semenjak membuka usaha warkop, dia mengaku memiliki banyak keuntungan seperti bisa bertahan hidup bersama istri dan kedua anaknya.
“Saya sudah punya anak dua orang yang masih kecil kecil. Jadi, saya memiliki kesempatan untuk menabung demi masa depan keluarga saya dan anak anak saya,” tuturnya.
Pria kelahiran Makassar 8 Februari 1981 tersebut juga mengisahkan kalau dulunya dia hanya berprofesi sebagai juru parkir (Jukir) di depan warung kopi warkop di kawasan ruko Boulevard.
Beberapa bulan menggeluti profesi jukir, sang pemilik warkop menawarkannya berhenti menjadi jukir dan bekerja sebagai Clening Service (CS) di warkop tersebut pada tahun 2005.
Tidak berfikir panjang, dia langsung menerima tawaran itu dan beradaptasi dengan pekerjaan barunya tanpa rasa malu.
Setiap pagi, dia memulai turinitas membersihkan warkop dengan cara menyapu lantai, mengepel dan membersihkan noda yang ada di lantai serta di atas meja.
Hanya berselang beberapa bulan menjadi CS, dia kembali mendapatkan tawaran menjadi pelayan hingga beralih menjadi peracik kopi di dalam dapur.
Saat itulah, dia mengasah pengalamannya untuk meracik kopi yang begitu nikmat di lidah konsumen. Pengetahuan tentang cara meracik kopi dia dapatkan setiap hari dan terus dipelajarinya. Takaran demi takaran ia pelajari, sajian kopi yang dia buat ternyata cukup disenangi dan dinikmati semua orang yang datang berkunjung. (arf/b)

Exit mobile version