SEWAKTU kecil pasti sering menjumpai jajanan tradisional khas Bugis-Makassar, Buroncong. Selain harganya relatif murah, juga sangat mudah dijumpai di setiap ruas jalan dalam Kota Makassar.
Penjual buroncong biasanya menjajakan jualannya di pagi hari. Tampilan kue ini sangat sederhana namun mengundang selera. Apalagi saat melihat proses pembuatannya.
Untuk membuat buroncong bahan yang digunakan terdiri dari tepung terigu, santan dari parutan kelapa muda, gula pasir, dan garam.
Setelah adonan dicampur lalu dimasukkan ke cetakan khusus yang dipanaskan dengan bara api. Buroncong diproses dan dijajakan langsung di gerobak sang penjual.
Jadi selalu fresh dan bisa dinikmati dalam keadaan panas atau hangat. Apabila dingin sensasi nikmatnya akan hilang.
Hanya saja, jajanan kue buroncong ternyata bukan lagi satu-satunya kue tradisional yang bisa dinikmati anak-anak masa sekarang, sudah banyak model dan bentuk kue yang lebih modern yang digemari anak-anak seperti kue donat berbagai rasa, pizza, martabak, roti serta jajanan modern lainnya.
Bahkan, penjual kue buroncong yang sangat banyak kita jumpai di era tahun 80-90 an satu-persatu mulai hilang dan tergerus oleh banyaknya jajanan anak-anak yang lebih modern.
Dan yang ada sekarang, mereka tetap bertahan untuk hidup. Seperti halnya yang dilakoni, Suhardi, penjual kue buroncong keliling itu.
Menurut Suhardi, dia memulai aktifitas berjualan usai salat Subuh, hingga pukul 10.00 Wita di Anjungan Pantai Losari. Setelah itu, dia lanjut lagi pada sore harinya hingga pulang larut malam pukul 22.30 Wita.
Pria yang sudah puluhan tahun berjualan buroncong di Pantai Losari mengaku, dia tetap memilih berjualan kue buroncong agar makanan tradisional ini tetap bertahan dan jangan sampai dilupakan oleh anak-anak saat ini.
Yang lebih utama lagi, jelas Sapri, menjual kue buroncong untuk mempertahankan hidup bersama keluarganya.
Baginya, berjualan di Pantai Losari merupakan lokasi yang menjanjikan. Apalagi, kawasan Pantai Losari jarang sepi pengunjung baik wisatawan lokal maupun manca negara.
Sambil mengangkat kue buroncong yang sudah berwarna coklat menggunakan gancu, Sapri mengaku menjual buroncong tidak selamanya untung, kadangkala jualannya juga sepi. Biasanya keuntungan lumayan pada hari Minggu, di saat warga berada di Pantai Losari untuk berolah raga dan senam.”Menjual buroncong tidak selamanya untung. Kadangkala jika apes, saya tidak membawa pulang uang lebih, itupun hanya kembali modal saja. Setiap subuh saya meninggalkan rumah rumah kontrakan di Jalan Gusung, Pasar Pattingaloang,” katanya sambil sesekali mengusap keringat yang bercucuran di lehernya.
Ya, meski dipaksa keadaan, Sapri mengaku tak ingin menyerah begitu saja. Dia jalani hidup dengan ikhlas, tanpa mengenal kata menyerah. Dia percaya, suatu saat hidupnya pasti lebih baik dari yang sekarang.
Dia menambahkan, menekuni usaha kue buroncong sudah berpuluh tahun sejak masih bujangan hingga sudah berkeluarga.”Saya tidak punya keahlian untuk bekerja di tempat lain, sehingga mau tidak mau saya jualan buroncong saja yang penting halal,” ujarnya.
Menurut dia, untuk membuat buroncong sepintas gampang karena cukup menyediakan terigu, kelapa lalu diaduk dengan garam dan gula serta dicampur air secukupnya, setelah itu dipanggang dalam cetakan. Tetapi disinilah dituntut keahlian untuk mengaduk campuran bahan dengan benar.
“Campuran tidak boleh terlalu kental atau encer karena hasilnya bisa keras atau lembek. Kalau adonanya seperti itu pasti mempengeruhi selera pembeli,” katanya.(jun/b)