Site icon Berita Kota Makassar

Eks Gafatar: Organisasi Itu Sudah Lama Mati

BKM/CHAIRIL DIPULANGKAN-Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto bercanda dengan seorang balita yang digedong ibunya di Asrama Haji Sudiang, Kamis (28/1). Sebanyak 139 jiwa atau 43 KK eks Gafatar asal Makassar dipulangkan dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

MAKASSAR, BKM — Sebanyak 232 jiwa eks Gafatar tiba di Makassar, Rabu (27/1) malam. Mereka berasal dari sembilan kabupaten yakni Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Maros, Sinjai, Enrekang, Pangkep, Pinrang, dan Bantaeng, dan Takalar.
Satu keluarga yang berjumlah empat jiwa dari Kabupaten Maros, langsung dijemput Pemkab Maros di Pelabuhan Soekarno-Hatta. Sementara eks Gafatar dari delapan kabupaten/kota lainnya diinapkan semalam di Asrama Haji Sudiang, Makassar.
Para eks Gafatar yang menginap di Asrama Haji, Kamis (28/1), secara bertahap dipulangkan ke daerah masing-masing.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulsel, Ilham Andi Gazaling menjelaskan, pihaknya menyiapkan dapur umum untuk logistik para eks Gafatar selama menginap di Asrama Haji.
“Kami mempersiapkan konsumsi untuk tiga kali makan yakni malam, pagi, dan siang,” jelasnya di sela-sela pemulangan eks Gafatar ke daerah masing-masing, di Asrama Haji Sudiang Makassar, Kamis (27/1).
Di tempat penampungan sementara, sambil menunggu jemputan, para eks Gafatar memilih untuk istirahat di kamar-kamar yang telah disiapkan sambil berbincang-bincang. Ada raut kelelahan, kesedihan, dan kepasrahan yang tergambar dari wajah mereka. Sementara sejumlah anak-anak, bermain dan bersenda gurau dengan temannya di area penginapan.
Djalil, salah seorang eks Gafatar yang ditemui BKM, yang juga koordinator perkampungan Kerta Jaya, mengaku dirinya dan keluarga memutuskan hijrah ke Kalimantan Agustus 2015.
Lelaki lulusan Politeknik Unhas Jurusan Teknik Sipil ini menegaskan, kepindahannya ke Kalimantan murni karena keinginan sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
“Saya berangkat ke Kalimantan dengan niat membangun ketahanan pangan. Tidak ada tujuan lain,” jelasnya.
Malah, dia mengaku sudah mengurus surat pindah serta pamit ke orang tua sebelum berangkat.
Bapak dua anak itu membeli lahan seluas dua hektare di Kerta Jaya dengan harga Rp80 juta. Lahan itulah yang dikelolanya. Selain itu, warga setempat juga memberi lahan seluas 10 hektare yang digarap bersama-sama.
Dengan teman-temannya yang lain, dia bercita-cita mewujudkan ketahanan pangan melalui aktifitas cocok tanam di sana.
Selama kurang lebih lima bulan di sana, karena belum ada penghasilan, dia menggunakan uang tabungan untuk biaya hidup.
Di sana, Djalil dipercaya mendesain pemukiman dan lahan milik para warga pendatang asal Sulsel.
“Rencananya enam bulan pertama, tanah kita garap. Panen pertanian kami gunakan untuk konsumsi pribadi. Kami tanam sayur-sayuran, singkong dan lainnya. Panen selanjutnya mulai kita ke pasar agar mendapat penghasilan. Tapi sayang, baru lima bulan sudah terjadi peristiwa ini,” ujarnya.
Dia mengaku, kehadiran mereka di Kerta Jaya mendapat sambutan yang baik dari warga lokal. Hubungan mereka sangat baik.
Makanya, dia sangat menyayangkan terjadinya peristiwa pengusiran. Secara tegas dikatakan, mereka ke Kalimantan tidak membawa nama-nama Gafatar, karena organisasi itu sudah lama mati. Mereka ke Kalimantan karena memiliki visi yang sama untuk membangun ketahanan pangan.
Diapun meluruskan anggapan masyarakat yang simpang siur jika keyakinan mereka berubah drastis.
“Saya tekankan, kami disana tak pernah mempersoalkan agama dan kepercayaan masing-masing. Semua bebas melaksanakan agamanya. Seperti saya, tetap melaksanakan kewajiban sebagai umat Islam. Salat dan puasa. Jadi, salah itu jika agama dan keyakinan kami berubah,” tegasnya.
Untuk selanjutnya, kata Djalil, dirinya akan kembali ke kontrakannya di Jalan Cokonuri, Makassar dan kembali menggeluti aktifitasnya yang dulu sebagai tenaga konsultan desain.
Namun, dia berharap, ke depan jika pemerintah mau menyiapkan lahan yang bisa digarap, dia dan teman-temannya akan siap untuk mengolahnya.
Malah. untuk meyakinkan masyarakat jika memang sebenarnya tidak ada persoalan pembelokan keyakinan pada mereka, sebelum berangkat ke Makassar, mereka menjalani ritual pertobatan, disaksikan bupati, MUI, Kemenag, dan Kapolres serta Dandim.
“Itu untuk meyakinkan jika kami pulang ke sini dalam keadaan bersih. Tidak ada masalah dengan keyakinan kami.
Rincian eks Gafatar yang sudah tiba di Sulsel yakni Makassar 139 jiwa (43 KK), Maros 4 jiwa (1 KK), Takalar 7 jiwa (2 KK), Pinrang 13 orang (2 KK), Sinjai 19 jiwa (3 KK), Bantaeng 5 jiwa (2 KK), Enrekang 13 jiwa (2 KK), Gowa 28 jiwa (7 KK) dan Pangkep 4 jiwa, (1 KK).
Khusus untuk eks Gafatar yang warga Pinrang, telaj dijemput pemerintahnya diwakili Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Muhadir, bersama Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Andi Khaidir.
”Iya, dek. Saya mendapat mandat untuk memjemput para anggota eks Gafatar. Saat ini mereka masih diberikan pencerahan di Sudiang,” kata Muhadir ketika masih berada di Asrama Haji Sudiang, Kamis (28/1).
Dari informasi yang dihimpun, eks Gafatar asal Pinrang yang berjumlah 13 orang ini semuanya berdomisili di Kelurahan Maccorawalie, Kecamatan Watang Sawitto. Mereka diserahkan secara resmi oleh Kadis Sosial Sulsel Andi Ilham Gazaling. (rhm-gun/rus/b)

Exit mobile version