MARAKNYA kasus kekerasan anak menjadi perhatian serius bagi Pengda Nasyiyahtul Aisyiyah Kabupaten Barru. Pengurus mengadakan
seminar nasional dengan nara sumber Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Pusat, Putu Elvina,S.Psi, Senator RI AM Iqbal Parewangi, Ketua PW Nasyiyahtul Aisyiyah Sulsel Eka Damayanti, S.Psi dan Sekretaris Diknas Barru, H Kamaruddin Hasan,M.Pd, Jumat (29/1) di Gedung Bola Soba’e Barru.
Bertindak selaku moderator Mumtihana dan mengusung thema Cegah Kriminalisasi Anak: Penyebab dan Pencegahan.
Berdasarkan pengaduan yang masuk ke KPAI Pusat, ada 3.298 pengaduan tentang kekerasan anak dan kasus yang paling tinggi yakni kasus anak yang berhubungan dengan hukum yaitu 941 kasus. Kemudian kasus keluarga 665 dan pendidikan 403.
Putu Elviana menilai keluarga menjadi pencetus pertama munculnya kekerasan terhadap anak. Patut diketahui kalau peran keluarga sangat besar untuk mengurangi tingkat kekerasan kepada anak. Peran keluarga memiliki 5 kewajiban terhadap anak dan anak itu memiliki 31 hak dasar.
Apabila dikerucutkan hak anak itu menjadi lima, mulai dari hak agama, kesehatan, pendidikan, sosial dan perlindungan terhadap anak. Meski sudah ada UU Perlindungan anak, namun kasus anak yang berhadapan dengan hukum sangat luar biasa.
Kini banyak kekerasan anak terjadi karena orang-orang di sekitarnya yang seharusnya menjadi pelindung tapi justru sebagai predator. “Ada kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur dengan pelaku orang dewasa yang kami advokasi di Tegal, ternyata pelaku mengakui sekitar 100 anak sebagai korban seksual yang dilakukan orang dewasa tersebut. Ironisnya sang pelaku ini mendokumentasikan photo para korbannya hingga enam album foto,” aku Elvina.
Elvina juga menyoroti media televisi yang menurutnya lebih banyak membodohi masyarakat, karena seharusnya melakukan perlindungan terhadap kekerasan anak. Namun realitas dari media televisi lebih banyak mengumbar tayangan yang tidak edukatif. Makanya pihak KPAI membuka pengaduan melalui email untuk mengawasi dan mengontrol media. KPAI dalam waktu dekat akan melaporkan beberapa media ke KPI terkait pelanggaran atas tayangan yang bisa mendorong timbulnya kekerasan kepada anak.
“KPAI sangat respek dengan regulasi masa orde baru yang melakukan pembredelan media yang melakukan pelanggaran,” ucapnya.
Senator RI Iqbal Parewangi mengingatkan proses pembelajaran tidak harus dominan dengan cara menyenangkan. Pola pendidikan lama yang banyak mengajarkan penderitaan dalam hidup, malah harus menjadi bagian penting dari proses pembelajaran anak. Disini peran kearifan budaya lokal, semestinya ikut menjadi domain dalam pembelajaran yang menyenangkan itu.
Iqbal kemudian mengenang masa penderitaan ketika ikut mengaji dan belajar disekolah, lalu ada guru dari kedua kegiatan pembelajaran ini yang menerapkan sanksi jika ada murid ‘nakal’ dengan memperlihatkan sebuah alat bernama ‘epek’ semacam alat penjepit. Jadi ada siswa tidak bisa bertingkah macam-macam(Nakal) ketika melihat guru memegang alat tersebut. Sanksi belum dilakukan, namun sudah memberi efek psikologi kepada siswa. “Kearifan lokal demikian, bukan bermaksud lebih dominan, melainkan dikombain dengan quantum learning. Penyebab kriminalisasi anak, kata Eka Damayanti, ada 4 yaitu peran orang tua sangat lemah, imitasi modeling, lingkungan dan tumpulnya hukum di Indonesia. Sementara cara penanggulangan kekerasan anak dimulai dari pembentukan Caracter building dari keluarga, menciptakan lingkungan harmonis dan memperkuat regulasi. Disinilah peran Nasyiyahtul Aisyiyah dibutuhkan untuk melatih calon ibu untuk melahirkan anak yang berkarakter, melatih pendidik untuk mentransfer nilai moralitas peserta didik dan melakukan advokasi terhadap kasus kekerasan.
Sekretaris Pendidikan Barru DR H Kamaruddin Hasan dalam paparannya saat ini sudah terjadi kekacauan mental dan kecemasan moral. Makanya perlu mengencangkan strategi kepada anak.
“Di Sekolah tidak ada lagi guru ditangan kanannya ada buku dan kayu ditangan kirinya. Guru yang baik adalah guru yang dirindukan oleh muridnya. Maka guru yang demikian adalah guru yang Jannatul Naim,” kata Kamaruddin.
“Fokus kita ke depan adalah agar anak kita semakin lebih baik,”ujar Ketua PD Naisyathul Aisyiyah Barru, Satria,S.Pd. (udi/C)