MAROS, BKM — Meski belum ditemukan kasusnya di Kabuoaten Maros maupun Sulsel, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Maros telah melakukan antisipasi terhadap penyakit zika yang dibawa oleh nyamuk. Penyakit ini telah mewabah di Amerika Latin.
Kepala Dinkes Maros, dr Firman Jaya saat ditemui di ruangannya, kemarin menuturkan, langkah antisipasi telah dilakukan Dinkes Maros seperti fogging, abatesasi dan menggalakkan kembali gerakan mengubur, menutup dan menguras (3M) di masyarakat.
Firman menjelaskan, penyebab penyakit zika sama dengan demam berdarah yakni nyamuk aedes aegepty sehingga langkah-langkah pencegahannya pun sama dengan pencegahan demam berdarah.
“Kita menggalakkan kembali gerakan 3M, kemudian abatesasi yang kami drop di puskesmas-puskesmas untuk disebar ke masyarakat serta fogging di beberapa tempat,” paparnya.
Gejala yang ditunjukkan zika, kata dr Firman juga sama dengan gejala yang ditunjukkan demam berdarah. Tapi efek yang dihasilkan oleh virus zika lebih ganas dan
lebih luas karena dapat menyebabkan infeksi jaringan selaput otak hingga pengecilan volume otak.
“Gejalanya sama dengan demam berdarah misalnya bintik-bintik merah, demam hanya saja efek virus zika lebih ganas,” katanya.
Makanya, kata dia, Dinkes juga telah melakukan antisipasi karena masyarakat Maros mobilitasnya tinggi. Apalagi Maros memiliki bandara internasional yang bisa saja menjadi tempat masuk virus zika dari wisatawan asing misalnya dari Amerika Latin dan Afrika.
“Saya belum tahu apakah bandara akan dipasangi alat pendeteksi seperti saat terjadi wabah MERS sehingga jika ada yang terdeteksi mengalami gejala virus zika bisa langsung dikarantina,” bebernya.
Firman menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinkes Pemprov Sulsel dan sejauh ini belum ada laporan kejadian luar biasa (KLB) di Sulsel maupun Maros. (ari/c)