MAKASSAR, BKM — Menjelang hari hari raya Imlek, Senin (8/2) mendatang, warga Tionghoa tengah mempersiapkan segala sesuatunya. Seperti hanya warga Tionghoa yang bermukim di Jalan Sulawesi yang terlihat sibuk membenahi Klenteng. Dalam pembenahan itu, mereka (Tionghoa) bahkan menyewa khusus pekerja untuk membenahi tempat ibadah mereka.
Para pekerja yang disewa sementara membenahi rumah ibadah mulai dari dinding, meja, lemari dan lain-lain dengan cat warna merah.
Selain itu, mereka juga membersihkan tempat dewa dan dewa itu sendiri diantaranya dewa Langit, Bumi, kesehatan, Kuda, Rejeki, Pintu, Bintang, Macan.
Salah seorang pekerja Klenteng, Abdurrahman mengatakan, warga tionghoa sementara sibuk membenahi klanteng.”Saat ini mereka membenahi klanteng. Saya ini hanya kerja disini,” kata pria asal Sinjai itu saat disambangi BKM di Klenteng Kwang Kong.
Dia menjelaskan ada tiga Klenteng yang sementara dibenahi saat ini di Jalan Sulawesi yakni Klenteng Kwan Kong, Klenteng Xion Ma dan Klenteng Agong Bahari. Selain Klenteng, Pihara yang jumlahnya lebih banyak juga tidak luput dari pembenahan.
Bukan hanya itu, mereka juga membenahi rumah mereka dengan mengecat halaman rumah. Intinya mereka memperindah rumahagar lebih indah.
Pada hari H nanti, seluruh warga Tionghoa memadati Klenteng dan vihara, tidak pandang status, jabatan dan strata sosial.
Sementara itu, menjelang Imlek salah satu pasar tradisional yang berada di kawasan pecinan, yakni Pasar Bacan, terlihat lebih ramai. Aneka barang, utamanya berbagai kebutuhan Imlek ditawarkan di sana. Mulai dari kue keranjang (dodol khas China), aneka buah untuk persembahyangan dan dikonsumsi, aneka manisan, permen, ikan bandeng, hingga tebu, ditawarkan di sana.
Warga keturunan dari berbagai lapisan, menjadikan Pasar Bacan sebagai referensi untuk membeli aneka keperluan.
Namun, berbeda dengan pasar tradisional lainnya, Pasar Bacan bisa disebut pasar pagi karena aktifitas di sana hanya berlangsung pagi hingga siang hari.
Salah seorang warga Tionghoa, David menjelaskan, perayaan Imlek jika di daratan China merupakan perayaan musim semi.
“Semua bersuka cita menyambutnya. Semua warga Tionghoa harus berbahagia merayakannya,” jelas David.
Karena itu, lanjutnya, setiap perkumpulan warga Tionghoa, menjelang perayaan Imlek, juga memanfaatkan momen itu untuk beramal. Warga keturunan yang mampu dan mapan, akan membagikan sumbangan ke kalangan yang tidak mampu agar mereka juga ikut merasakan suka cita Imlek.
“Biasanya itu, di setiap perkumpulan atau lembaga, sudah ada data warga keturunan yang akan diberikan sumbangan,” jelasnya.
Bantuan yang diberikan bervariasi. Mulai dari aneka penganan dan makanan khas yang biasa disajikan saat Imlek seperti kue keranjang dan kue kering, serta tak lupa ang paonya.
Selain mempersiapkan aneka makanan untuk sajian Imlek dan persembahyangan, beberapa ritual juga kerap dilakukan warga keturunan. Diantaranya, membuat altar di depan pintu menghadap keluar atau ke langit. Yang punya patung dewa dan foto leluhur pun dibersihkan dan dipajang, dan tak lupa memasang sesaji berupa buah untuk mengenang keluarga yang sudah meninggal. Selain itu, keluara juga kerap membuat menu spesial, biasanya makanan yang menjadi kegemaran para leluhur dan keluarga yang sudah meninggal, untuk disajikan.
Saat Imlek tiba, warga keturunan pun beramai-ramai melakukan sembahyang di Klenteng, ziarah kubur, berkumpul untuk makan-makan bersama, serta bersilaturrahmi antarkeluarga. (rhm-man/war/c)