MAROS, BKM — Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Maros kembali melakukan penertiban terhadap pengemis yang beroperasi di traffic light Patung Kuda di Jalan Jenderal Sudirman, Kabupaten Maros, Selasa (2/2).
Dari operasi penertiban itu, Dinsos berhasil mengamankan tiga orang pengemis. Satu diantaranya, yakni MF berusia 12, bocah mualaf dari Kota Ambon.
“Fadillah membawa kotak amal dan mengaku dari yayasan masjid Almarkaz Makassar,” jelas Kepala Bidang Pembinaan Sosial, Hj Nurani, Rabu (3/2).
Sedangkan, dua orang lainnya, yakni Amir (31) bersama mertuanya Yanti (40). Keduanya mengaku dari Lombok.
Menurut Nurani, dari hasil pemeriksaan pihaknya, pengemis yang diamankan mengaku dapat meraih keuntungan hingga Rp4,5 juta per bulan.
“Penghasilan mereka mengalahkan gaji PNS Gol II. Setiap hari mereka mengaku mendapat Rp150 sehari. Kalau dikali dalam satu bulan sekitar Rp4,5 juta,” kata Nurani.
Ketiga pengemis tersebut, mengaku tinggal di Kota Makassar sekitar sebulan terakhir. MF mengaku pernah tinggal di Kota Bekasi dan sempat menyelesaikan sekolahnya (SD) di Jatih Rahayu.
“Dia ke Makassar bersama ibunya yang berprofesi sebagai pemulung di Makassar. Ayahnya sudah meninggal tahun lalu. Anak ini pintar bicara. Rata- rata (pengemis) yang kami tangkap ini bicaranya sama. Pasti dari luar daerah. Memang dia pintar dan berusaha mengelabui kami,” beber Nurani.
Sedangkan Fadillah mengaku berinisiatif sendiri untuk menjadi pengemis. Pasalnya, ibunya berpenghasilan Rp2 ribu sehari sebagai pemulung sampah.
Selain itu, dia mengaku tidak dikontrol oleh bosnya. Dia tidak memiliki bos. Anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku menjadi pengemis untuk makan dan biaya sehari- harinya.”Saya tidak punya bos. Saya hanya mencari rejeki untuk biaya sehari- hari kami. Saya juga tidak mau ditampung maupun dikembalikan (Dinsos) ke Ambon,” katanya.
Selain itu, MF juga tidak mau tinggal di panti asuhan. Dia mau membantu ibunya untuk mencari uang.
Sebelum beroperasi di Maros, MF juga pernah menjadi pengemis di Jakarta, namun penghasilannya hanya sedikit dan kerap dipalak preman.”Saya pernah di Jakarta Timur, saya juga sekolah di SD Jatih Rahayu Bekasi sampai kelas enam. Tapi saya sering dipalak. Makanya saya sama ibu saya ke Makassar,” ujarnya.
Sementara Amir mengatakan, dirinya terpaksa harus menjadi pengemis lantaran mertuanya memaksanya.
Dia juga sudah keliling Susel, setahun pernah mengemis di di Palopo dan Masamba, kemudian ke Makassar dan Maros.”Saya dipaksa sama mertuaku juga. Masalahnya tidak ada pekerjaan lain. Dulu saya jadi tukang batu tapi tidak adami panggilan,” ujarnya.
Dinas Sosial menimbau warga, jika menemukan pengemis melakukan aktifitas minta-minta di wilayah Maros untuk segera menghubungi nomor telepon 081342255067.”Kami harap, jik ada yang mendapatkan pengemis tolong hubungi kami secepatnya,” kata Kepala Dinas Sosial Maros, Muhammad Alwi. (ari-ril/b)