Site icon Berita Kota Makassar

Meninggal Diduga Mal Praktik

WATAMPONE, BKM — Salah seorang siswa SMP di Kabupaten Bone Fira Aprilia akhirnya meninggal dunia usai menjalani operasi pelepasan pen dilengan kirinya. Proses operasi dilakukan dokter Felix di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tenriawaru Watampone, Rabu (3/2) pukul 09.30-13.00 Wita.

Hanya saja ayah korban Naharuddin menyebut kematian Fira dinilainya tak wajar dan diduga telah terjadi mal praktik. Menurutnya, setelah selesai operasi hingga dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal-red) kondisi Fira masih normal.
Namun sekitar pukul 18.00 Wita di sekujur tubuh korban tiba-tiba muncul bercak merah. Mulai dari wajah hingga ke betis. Naharuddin mengaku bercak merah itu muncul setelah Fira makan bubur pemberian dari rumah sakit.
”Waktu sudah operasi masih sadar bahkan minta makan karena lapar. Soalnya, Fira nda pernah makan sejak malam rabu karena memang disuruh dokter puasa. Tapi dokter larang dulu makan sebelum magrib,” jelas Naharuddin sambil terisak. Tapi setelah makan bubur pemberian rumah sakit usai magrib, tiba-tiba badannya penuh bintik-bintik merah. Tak lama setelah itu berubah jadi kehitaman dan sesak napas.
Membuat ayah korban kesal karena perawat rumah sakit di bangsal B tidak segera mengambil tindakan. ”Saya sudah panik dan mengadu ke perawat tapi dijawab santai. Katanya itu hanya pengaruh obat. Kejadian ini berlangsung sampai jam satu dini hari. Dokter juga baru datang sekitar jam dua,”tambahnya.
Setelah dokter yang telah melakukan operasi melihat kondisi pasiennya, dia menyimpulkan kalau pasiennya keracunan. ”Waktu itu dia suntik. Katanya suntikan anti keracunan. Tapi nyatanya anak saya bukannya membaik tapi malah semakin parah. Telinga dan bibirnya sudah menghitam,” jelasnya lagi.
Mestinya kata Naharuddin sejak magrib ketika sudah ada kelainan, Fira harusnya dibawa ke ICU tapi ini malah dibiarkan. Padahal air infus sudah nda masuk lagi tapi tetap saja dilakukan pembiaran di bangsal.
Nanti setelah pukul 02.00 Kamis dini hari Fira yang baru berumur 12 tahun warga Kelurahan Cellu Kecamatan Taneteriattang Timur ini baru dibawa ke ICU. Tapi apa hendak dikata tuhan berkehendak lain. Fira menghembuskan nafas terakhir diatas kereta dorong saat di larikan ke Ruangan ICU sekitar pukul 3.00 dinihari .
Wakil Direktur RSUD Tenriawaru dr Syahrir yang ditemui BKM mengakui jika dokter yang melakukan tindakan operasi terhadap Fira adalah dr Felix. Statusnya dokter Felix masih bergilir setiap dua minggu sekali dan belum ahli. Tapi masih berstatus residen.
”Dia bukan dokter ahli dan belum difinitif. Dia itu masih sekolah untuk ahlinya,”jelas dr Syahrir.
Sementara Humas RSUD Tenriawaru Ramli yang di hubungi watawan, Kamis (4/2) ternyata tidak mengetahui siapa nama dokter ortopedi yang melakukan operasi terhadap Fira. ”Saya juga tidak tau siapa nama dokter yang operasi itu,” kelit Ramli.
Tapi setelah wartawan koran ini melakukan penelusuran lebih jauh ternyata diketahui dokter yang melakukan operasi terhadap Fira, bukanlah dokter ahli melainkan masih berstatus magang atau praktek alias residen.
Awal derita yang dialami Fira saat masih duduk di bangku SD kelas enam tahun 2015 lalu. Saat itu, teman sekelasnya mendorongnya hingga terjatuh hingga mengakibatkan lengan kirinya patah tulang.
Sempat dirawat di rumah beberapa hari lalu dilakukan operasi. Dilengannya dipasang dua pen masing-masing F CM dan 4CM. Operasi mulus dan Fira sehat. Hanya saja, bekas operasinya selalu mengaluarkan cairan .
Naharuddin menambahkan dirinya selalu membawa Fira kontrol. Dokter menyarankan agar tangan Fira difoto rontgen.
Nah hasilnya ternyata sudah bagus. Karena tulangnya sudah nyambung dokter menyarankan lagi lebih baik cepat dioperasi. Karena tulangnya juga sudah menyatu. Karena dokter yang bilang, jadi saya menurut. Tapi kenapa jadinya begini.
”Terus terang saya kecewa dan menyesalkan pelayanana pihak rumah sakit yang kesannya melakukan pembiaran. Bayangkan saja, saya yang justru meminta agar anak saya dibawa ke ruangan ICU bukan pihak dokter atau perawat,” tambahnya
Hingga di kebumikan pada kamis siang, Naharuddin masih terlihat shokc dan tidak tau siapa sebenarnya dokter spesialis tulang yang telah membedah putrinya. ”Yang saya tau hanya berambut keras lurus, kulit putih rapi dan berwajah mandarin. Saya tidak tau namanya itu dokter. Hanya yang saya tau masih muda dan seperti orang Korea,” jelasnya lagi (amr/B)

Exit mobile version