Site icon Berita Kota Makassar

Pemkab Gelar Prosesi Adat Mapacekke Wanua

LUWU, BKM — Jelang hari jadi Belopa ke 10 yang diperingati 13 Februari 2016,pemerintah Kabupaten Luwu bersama elemen masyarakat Adat menggelar Prosesi adat Mapacekke Wanua Jumat (5/2) yang dipusatkan di Baruga Arung Senga Belopa.
Sejumlah pejabat Pemkab Luwu nampak menghadiri prosesi Mapacekke Wanua kemarin. Sekkab Luwu Syaiful Alam, Ketua DPRD Andi Muharir, Madika Ponrang Andi Sana Kira, Kadis Tanaman Pangan Andi Pangeran, Kadis Bina Marga Ridwan Tumbalolo, Kadis Pendidikan Andi Pahri, Kepala BPBD Luwu dan Kepala SKPD lainya termasuk para Camat dan Tokoh Adat lingkup Kabupaten Luwu.
Dalam prosesi Mapacekke Wanua sejak Jumat (5/2) pukul 07.00 wita Baruga Arung Senga Belopa nampak begitu ramai.
Balutan pakaian adat setiap rombongan dari ina – ina lili maupun pejabat Pemkab Luwu dan warga yang datang membuat suasana semakin meriah seiring mentari yang semakin meninggi. Ini menunjukkan tingginya nilai-nilai budaya dan bagaimana kebesaran kekuasaan prosesi Mapacekke anua yang airnya di ambil dari bungung Parani di kelurahan Senga,Belopa.
Suasana adat dengan menyalakan obor yang khas menyambut kehadiran Sekkab Luwu Syaiful Alam, Ketua DPRD Luwu Andi Muharir dan Madika Ponrang Andio Sana Kira serta para kepala SKPD, Camat dan para tamu lainnya.
Di dalam Baruga Arung Senga beberapa dewan adat duduk disemailah kiri Madika Ponrang sedangkan para tamu berada di sisi kanan Madika sementar di Kawasan Baruga Arung Senga beberapa warga memadati Baruga beralaskan karpet merah.
Sebuah hajatan (prosesi adat) yang di gelar pemkab Luwu , kembali terukir dalam catatan sejarah perjalanan panjang masyarakat adat Luwu, yang disebut “Mappacekke Wanua”. Acara seperti ini biasanya dilakukan setelah ada hajatan besar yang dilakukan di seluruh wilayah kedatuan saat zaman kerajaan Luwu .
Sekkab Luwu Syaiful Alam menuturkan Secara harfiah “mappacekke” berarti mendinginkan. Maksudnya ialah untuk mendinginkan suasana atau menghilangkan ketegangan-ketegangan dan keretakan-keretakan yang mungkin terjadi selama proses pelaksanaan hajatan yang bisa berakibat melonggarkan komitmen kesatuan masseddi siri antara mereka.
“Ritual adat yang bertujuan melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan keseimbangan (equilibrium) kesatuan ikatan “masseddi siri” antara seluruh kopmponen di dalam masyarakat. Keseimbangan persatuan dan kesatuan ikatan masseddi siri di dalam masyarakat diharapkan secara adikrodati akan menciptakan suasana harmonis dan dinamis yang akan mendatangkan berkah berupa kedamaian dan kesejahteraan bersama bagi seluruh lapisan masyarakat Luwu,” jelas Sekkab
Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Luwu, Luther Bija menyebut melalui prosesi adat “Mappacekke Wanua” diharapkan keretakan baik yang bersifat pribadi maupun kelompok yang terjadi di kabupaten Luwu dapat terhindarkan dalam keseimbangan kesatuan ikatan “Masseddi Siri’’ yang suci dan kokoh serta dinamis bisa seperti sedia kala.
Usai prosesi adat Mapacekke Wanua yang di kemas dalam prosesi” Maleko Wae” yang di gelar Jumat (5/2) pagi dilanjutkan dengan prosesi Madoja Roja dengkan kemasan prosesi adat “lalu Mangepi”malam harinya yang di gelar di Baruga Arung Senga, Belopa. (wan/C)

Exit mobile version