IMLEK sedianya disambut warga keturunan Tionghoa penuh suka cita. Momen hari besar itu digunakan sebagai ajang silaturrahmi dengan keluarga dan kerabat, bagi-bagi ang pao, dan ke klenteng berdoa bagi keselamatan dan kebahagiaan serta mendoakan arwah para leluhur.
Laporan: RAHMA-JUNI
Mereka juga mempersiapkan aneka makanan mulai dari manisan, kue keranjang, dan menu-menu spesial yang akan disantap bersama keluarga.
Namun sayang, tidak semua warga keturunan mampu merayakan Imlek dengan bahagia. Seperti yang dirasakan I Chum Kem.
Wanita ini terpaksa harus melewati Imlek dalam kondisi ala kadarnya karena tergolong masyarakat kurang mampu.
Saat ini, dia tinggal berdua dengan anak perempuannya di pinggiran Pasar Parang Tambung. Setahun lalu, suami I Chum Kem meninggal dunia.
Waktunya lebih banyak dihabiskan di dalam rumah. Jika anak perempuannya berangkat kerja di salah satu pabrik plastik, I Chum Kem otomatis sendirian di rumah. Untuk mengisi waktu, dia menerima order jahitan dengan penghasilan yang sangat minim, yakni Rp15 ribu sehari.
Namun, dia merasa cukup beruntung karena sang suami mewariskan rumah sehingga tidak perlu sewa-sewa rumah.
Untuk perayaan Imlek tahun ini, I Chum Kem tak bisa berharap banyak. Dia harus menjalani hari sakral itu apa adanya.
Jika tahun lalu, dia dan anaknya masih bisa menyajikan menu masakan berbahan ayam, tahun ini hanya bisa dengan buah-buahan.
“Imlek itu satu tahun satu kali. Tahun lalu saya masih bisa rayakan Imlek pake ayam, namun untuk tahun ini rayakannya sederhana saja, susah cari uang. Dirayakan cukup pake buah buahan saja,” ujarnya.
Namun, wanita ini tidak merasa berkecil hati merayakan Imlek dalam kondisi yang sangat terbatas. Dia akan tetap melakukan ritual-ritual keagamaan seperti yang dilakukan setiap perayaan Imlek.
Rencananya, I Chum Kem akan melakukan sembahyang pertama yakni sembahyang nenek moyang di rumahnya yang terletak di kawasan Pasar Parang Tambung.
Diapun sudah menyiapkan beberapa perlengkapan untuk sembahyang. Seperti papan tulis, patung dewa, dan dupa. Ditempat yang telah disiapkan itulah nantinya I Chum Kem akan melakukan ritual sembahyang Tuhan (Tiensen) dan sembahyang Kwan Kong.
Dalam ritual persembahyangan itu, disiapkan pula sesaji berupa makanan dan aneka buah. Sesaji yang disiapkan tergantung kemampuan.
“Dilakukan seserahan kalau mampu beli ayam, kalau tidak beli buah buah saja untuk sembahyang,” tambahnya.(rhm-jun/b)
