SEMUA orang pasti menginginkan rezeki yang banyak untuk bisa mempertahankan hidup, dan meminta agar apa yang mereka impikan bisa terwujud.
LAPORAN: JUNI SEWANG
Harapan tersebut juga datang dari warga keturunan Tionghoa, I Chum Kem. Di Tahun Baru Imlek 2567, Senin (8/2) kemarin, I Chum Kem yang berprofesi sebagai tukang jahit berharap agar di Tahun Baru Imlek 2567 bisa diberikan kesehatan dan rezeki dari jahitan.
Dia juga berharap tahun ini bisa mendapatkan mesin jahit baru, untuk lebih meningkatkan penghasilannya. Apalagi, mesin yang dia gunakan merupakan mesin yang sudah tua.
“Saya berharap tahun baru ini bisa diberikan kesehatan dan rezeki yang banyak. Saya mencita-citakan bisa mendapatkan mesin jahit yang baru,” ujar I Chum sambil mengusap tetesan keringat di dahinya.
Dia juga mengaku, di Tahun Baru Imlek dia rayakan sangat sederhana, hanya berdoa di rumahnya tanpa bagi-bagi ang pao, dan berdoa untuk arwah para leluhur.
Saat ini, dia tinggal berdua dengan anak perempuannya di pinggiran Pasar Parang Tambung. Setahun lalu, suami I Chum Kem meninggal dunia.
Waktunya lebih banyak dihabiskan di dalam rumah. Jika anak perempuannya berangkat kerja di salah satu pabrik plastik, I Chum Kem otomatis sendirian di rumah. Untuk mengisi waktu, dia menerima order jahitan dengan penghasilan yang sangat minim, yakni Rp15 ribu sehari.
Namun, dia merasa cukup beruntung karena sang suami mewariskan rumah sehingga tidak perlu sewa-sewa rumah.
Untuk perayaan Imlek tahun ini, I Chum Kem tak bisa berharap banyak. Jika tahun lalu, dia dan anaknya masih bisa menyajikan menu masakan berbahan ayam, tahun ini hanya bisa dengan buah-buahan.
“Imlek tahun ini dirayakan sederhana saja, susah cari uang,” ujarnya.
Namun, wanita ini tidak merasa berkecil hati merayakan Imlek dalam kondisi yang sangat terbatas. Dia akan tetap melakukan ritual-ritual keagamaan seperti yang dilakukan setiap perayaan Imlek.
Rencananya, I Chum Kem akan melakukan sembahyang pertama yakni sembahyang nenek moyang di rumahnya yang terletak di kawasan Pasar Parang Tambung.
Diapun sudah menyiapkan beberapa perlengkapan untuk sembahyang. Seperti papan tulis, patung dewa, dan dupa. Ditempat yang telah disiapkan itulah nantinya I Chum Kem akan melakukan ritual sembahyang Tuhan (Tiensen) dan sembahyang Kwan Kong.
Dalam ritual persembahyangan itu, disiapkan pula sesaji berupa makanan dan aneka buah. Sesaji yang disiapkan tergantung kemampuan.
“Dilakukan seserahan kalau mampu beli ayam, kalau tidak beli buah buah saja untuk sembahyang,” tambahnya.(jun/b)