Site icon Berita Kota Makassar

Jadi Model Sosialisasi

BKM/PURMADI Septie Renarty Polwan

JIKA dilihat sepintas, tidak ada yang menyangka kalau polisi wanita (polwan) ini memiliki garis keturunan Tionghoa. Setelah diajak berbincang lebih jauh, barulah ketahuan jika Brigadir Satu (Briptu) Septie Renarty memiliki seorang ibu berdarah Tionghoa.
BKM/PURMADI
Septie Renarty
Polwan Memiliki paras cantik, sejak kecil Septie sebenarnya punya cita-cita menjadi model terkenal. Namun mimpi itu telah dikuburnya dalam-dalam. Ia kini berkarir menjadi abdi dan pelayan masyarakat.
Ditemui di sela-sela aktivitasnya sebagai Bintara Polri di Satuan Lalulintas Polres Sidrap, Briptu Seftie menceritakan perjalanan hidup bersama keluarganya.
Dia merupakan generasi keempat etnis Tionghoa dari buyutnya. Septie lahir di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), 12 September 1991. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang polisi seperti saat ini.
Ketika orang tua mengiklaskan anaknya menjadi bagian dari keluarga besar Polri, kisah hidup Septie berubah. Ia lulus dan diterima menjadi bintara Polri pada tahun 2009 silam. Ia mendapat tugas pertama di kampung kelahirannya Batam di Direktorat Sabhara Polda Kepri. Selanjutnya tahun 2011 ditugaskan di Direktorat Lalulintas.
Septie mengisahkan, dirinya masuk Polri karena dukungan keluarganya di Batam. Dia nekat melamar bintara Polri setelah kedua orang tua merestuinya.
BKM/PURMADI
Septie Renarty
Polwan “Sebenarnya keinginan saya mau jadi model. Tapi garis tangan saya jadi polisi,” kata ibu satu anak ini mengisahkan perjalanan karirnya di kediamannya, rumah dinas Polres Sidrap, Senin (8/2).
Menjadi seorang polwan, diakui wanita berhijab ini tidaklah mudah. Apalagi sebagai seorang wanita yang memiliki perasaan yang lemah lembut.
Namun, Septie kemudian mematahkan asumsi itu. Ia juga mampu menunjukkan bahwa etnis Tionghoa bisa menjadi bagian dari upaya mempertahankan keutuhan NKRI.
”Mama pernah cerita kalau saya merupakan generasi keempat dari buyut berdarah Tionghoa. Katanya, buyut kami itu hijrah ke Indonesia pada masa transisi penjajahan dan menjadi pengusaha. Tahunnya tidak diingat mama lagi. Sekarang semuanya sudah berbaur. Sudah banyak keluarga, baik dari mama maupun bapak yang menikah dengan orang pribumi di Batam,” papar anak pertama dari empat bersaudara ini.
Semula, ia berharap masuk bintara polisi bisa menjadi batu loncatan. Maklum, obsesi sebenarnya adalah menjadi model. Akhirnya, setelah sempat terpendam selama tujuh tahun karena menjadi anggota Polri, keinginannya untuk menjadi model bisa terwujud.
Sejak berpindahtugaskan di jajaran Polda Sulselbar, tepatnya di Satuan Lalulintas Polres Sidrap, Briptu Seftie kerap dipercaya jadi ikon pelayanan publik di Mapolres Sidrap. Fotonya menghiasi setiap sudut kota Sidrap. Informasi layanan masyarakat hingga sosialisasi pesan-pesan moral Polres Sidrap kerap dilakoninya.
Dia mengaku rela jauh dan meninggalkan kedua orang tuanya di Batam hanya demi mengikuti sang suami yang juga pelayanan masyarakat.
Sejak tahun 2013 silam, Septie yang kala itu berpangkat Brigadir Dua resmi menjadi anggota Polres Sidrap di bagian pelayanan SIM Satlantas.
Dia mengikuti suaminya yang juga putra asal Sidrap bernama Arjuna Sulistiyono, yang bertugas menjadi lurah di Kelurahan Ponrangae Sidrap. Suami Septi ini merupakan alumni IPDN tahun 2009, dan sama-sama memulai karirnya di Kota Batam, Kepri.
Selama berkarir, Briptu Septie telah mengukit sejumlah prestasi. Sebut saja juara umum modeling tingkat Provinsi Kepri dan Paskibraka tingkat Kota Batam.
Di tahun Baru Imlek 2567 ini, Septie tetap berada di Kabupaten Sidrap melaksanakan tugas. “Imlek tahun ini saya tidak pulang ke Batam kumpul bersama keluarganya. Saya cuma bisa komunikasi melalui telepon dengan papa dan mama disana dan menanyakan kondisinya. Alhamdulillah, semuanya kondisi baik,” lontar Septie yang hobbi travelling ini.
Diapun berharap, di tahun Monyet ini, dirinya bersama keluarganya selalu diberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah. (ady/rus/c)

Exit mobile version