PEMERINTAH dan masyarakat Kabupaten Takalar memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-56 daerahnya hari ini, Rabu (10/2). Di usia ini, pemerintahan di bawah nahkoda Bupati DR H Burhanuddin Baharuddin,SE,MSi bersama Wakil Bupati HM Natsir Ibrahim,SE telah sudah memasuki tahun ketiga. Apa saja yang sudah dilakukan selama tiga tahun, dan yang akan dilaksanakan ke depan? Berikut petikan wawancara dengan Bupati Takalar yang dilakukan di ruang kerjanya, pekan lalu.
DALAM rangka HUT Kabupaten Takalar, sebenarnya apa lagi yang masih perlu dilakukan Bupati dan jajarannya?
DI ulang tahun Takalar kali ini, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Bagaimana membenahi infrastruktur, sumber daya manusia (SDM) hingga sektor pertanian. Termasuk bagaimana memanfaatkan potensi dominan yang dimiliki Takalar, seperti pertanian, perikanan dan pariwisata.
Untuk infrastruktur, Takalar ini kan menyebar di 100 desa dan kelurahan. Hampir sebagian besar infrastruktur jalannya dulunya menggunakan aspal lapen, yang penggunaannya dilakukan dengan cara dibakar. Seiring perkembangan teknologi pembuatan jalan, saya memperbaiki jalan dengan beton dan hotmix.
Panjang jalan di Takalar ini 800 kilometer. Yang baru kita perbaiki kurang lebih 40 persen. Berarti masih ada 60 persen jalan yang harus kita. Di tahun ketiga kepemimpinan kami di Takalar, sekarang sudah ada 60 persen yang telah diperbaiki. Berarti sisa 40 persen yang harus kita kerjakan.
Perbaikan jalan ini kita programkan terus, sehingga harus mendapat dukungan dari pemerintah pusat serta pemerintah provinsi.
Pertanyaannya pasti kenapa harus jalan yang jadi fokus perhatian? Karena Takalar ini dekat sekali dengan Makassar. Sementara Makassar kita lihat kondisinya sekarang. Kalau tidak ada penambahan ruas jalan, tidak ada pemekaran wilayah ke kota-kota interlandnya dan eksterlandnya, itu akan semakin padat. kian macet. Sehingga jawabannya Takalar ini harus dibenahi, sehingga daya tarik perkotaan itu jangan tertumpu di Makassar. Kita harus tarik keluar, sehingga keperluan orang-orang itu bisa menyebar ke daerah-daerah sekitarnya. Di Makassar masalah macetnya bisa diatasi.
Tentu dengan perbaikan pengaturan transportasi, terminal, halte kendaraan, khususnya bus. Walaupun sebenarnya kita dijanjikan kereta api, tapi itu dalam jangka waktu yang sangat panjang. Padahal jangka pendeknya yang harus diatasi.
Kemudian yang kedua adalah Takalar ini kan daerah pertanian, sehingga tidak bisa kita pungkiri bahwa pengembangan dan produktivitas pertanian bisa kita tingkatkan dengan air yang mencukupi. Di Takalar ini sumber air memang ada, cuma distribusinya yang tidak merata ke seluruh kecamatan. Sembilan kecamatan tidak mendapatkan porsi air yang sama, padahal lahan pertaniannya menyebar hampir di seluruh desa dan kelurahan.
Untuk itu gerakan yang saya lakukan untuk sampai terjadi pemerataan adalah bagaimana irigasi ini bisa kita bangun secara baik, jaringan-jaringannya ke desa dan kelurahan bisa berfungsi. Dengan demikian pengendalian banjirnya, yang selama ini di beberapa desa, di beberapa tempat-tempat tertentu yang sering terjadi genangan saat curah hujan yang sangat tinggi itu, bisa diatasi melalui drainase yang dibangun 60 kilometer.
Oleh karena itu kami juga berharap pemerintah bisa memberi dukungan pembangunan bendungan Pamukkulu, sehingga bisa dijadikan sebagai tempat penampungan air.
Khusus untuk infrastruktur jalan, tiap tahun berapa anggaran yang dialokasikan?
Tahun pertama saya masuk, APBD Takalar sangat sedikit, yaitu Rp600 miliar lebih. Dari jumlah itu, untuk sektor ke-PU-an hanya mendapat Rp40 miliar. Itupun harus dibagi empat bidang, yakni yakni keciptakaryaan, binamarga, sumber daya air dan tata ruang.
Porsi terbesar dialokasikan untuk bidang binamarga, yang jumlahnya kurang lebih Rp30 miliar. Kalau kita bagi rata-rata hanya bisa mengcover, kalau jalan semua kita bikin, kurang lebih 10 kilometer. Itupun dengan status peningkatan. Belum membuka jalan baru.
Karena itu, julai 2015 kemarin saya coba membuat sebuah rencana besar mengenai sistem transportasi jalan yang ada di Takalar. Juga upaya bagaimana memecahkan kebuntuan kemacetan jalan yang menghubungkan Makassar-Takalar, Takalar-Gowa dan Takalar dengan jalur-jalur besar ke Jeneponto.
Saya jelaskan ke kementerian bahwa untuk mengatasi ini, ruas jalan poros Takalar harus diperbaiki. Sehingga tahun lalu kami mendapatkan anggaran kurang lebih Rp120 miliar khusus untuk jalan. Bantuan itu memacu juga kenaikan APBD Takalar, yang tadinya dari Rp600 miliar tumbuh menjadi Rp900 miliar.
Di tahun 2016 kami lipatgandakan lagi. Rp200 miliar disiapkan untuk infrastruktur jalan, jembatan dan termasuk juga drainase sebesar Rp4,5 miliar. Sektor ke-PUan jadi prioritas. Kalau jalan sudah selesai, harus dibenahi lagi penerangan jalannya.
Jadi secara totalitas untuk pembenahan infrastruktur jalan dan kebutuhan kebutuhan pelengkapnya tahun ini mencapai Rp250 miliar. Saya yakin ini bisa membangun jalan kurang lebih sampai 80 kilometer. Diperbaiki tahun ini. Menyebar di 100 desa dan kelurahan. Jalannya beton dan hotmix. Demikian juga irigasinya.
Untuk tahun 2016 ini, berapa panjang jalan yang jadi target diperbaiki?
Jalan itu memang tidak bisa langsung bagus semua. Karena usia aspal jalan hotmix itu paling lama 5 tahun. Beton 7 sampai 10 tahun. Sehingga dari periode ke periode, begitu selesai jalan akan ada yang rusak selama periodesasi lima tahun. Setelah itu direhabilitasi lagi. Pemeliharaan dan peningkatan status jalan.
Hingga tahun 2016 kita targetkan jalan yang diperbaiki sudah mencapai 75 sampai 80 persen. Tahun berikutnya, 2017 diharapkan semua jalanan yang menjadi tanggung jawab kabupatan sudah bisa diselesaikan.
Karena ada juga jalan yang menjadi tanggung jawab desa, sebab sudah mendapatkan alokasi dana desa.
Sehingga di tahun 2017 mendatang bukan hanya pembangunan jalan yang ada. Tapi sudah masuk pada pekerjaan jalan baru untuk perluasan kawasan perkotaan.
Bisa digambarkan apa saja yang telah dicapai dalam tiga tahun kepemimpinan Bupati?
Menurut saya ini bukan keberhasilan, tapi sebuah pencapaian dari cita-cita kita untuk mengantar Takalar menjadi lebih bagus. Kalau angka-angka jadi ukurannya, pertama-tama yang menjadi indikatornya adalah angka di APBD, yang tadinya di angka Rp600 miliar lebih, kita naik menjadi Rp1,2 triliun. Kemudian juga angka pertumbuhan ekonomi yang tadinya 6 persen, kini menjadi 9 persen.
Selain itu, Takalar yang tadinya masuk kategori kota kecil terkotor di Indonesia, kami sudah keluar dari situ dengan mendapatkan sertifikat Adipura tahun 2015.
Kemudian juga opini disclaimer untuk laporan keuangan selama 4 tahun berturut-turut, di tahun 2014 kita mendapatkan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Begitu juga dengan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang tadinya urutan 23, bergeser ke 22 menggeser Gowa. Target saya masuk 15 besar IPM. Karena ada beberapa daerah lain yang beda tipis, sehingga jika pergerakan ekonomi, semua industri, pariwisata berjalan dengan baik, target itu bisa kami capai.
Salah satu yang menjadi program Pemkab Takalar di tahun 2016 adalah bedah rumah. Bisa dijelaskan apa alasannya?
Pilihan kami kenapa bedah rumah, karena kemarin itu tingkat kemiskinan di Takalar waktu saya masuk angkanya mencapai lebih 10 persen. Artinya, dari 100 orang penduduk ada 10 orang miskin disitu.
Sekarang saya coba inventarisasi variabel-variabel yang berpengaruh terhadap tingginya angka kemiskinan itu. Orang miskin itu karena tidak adanya pekerjaannya, tidak ada sumber pendapatannya, rumahnya tidak layak huni.
Dari tiga ini yang paling cepat bisa kita tangani, rumahnya yang tidak layak huni kita perbaiki agar layak huni. Karena jika mereka yang kita tunggu untuk memperbaiki, kemungkinannya sangat kecil. Sehingga pemerintah perlu memberikan perhatian dengan melaksanakan gerakan bedah rumah total terhadap rakyat miskin. (Program ini sudah dDilauching, 2 Februari 2016 di Maradekaya).
Sumber pembiayaan dari pemerintah daerah itu melalui Dinas Sosial, PU yang jumlahnya kurang lebih 100 rumah akan dibedah. Dari swadaya masyarakat, seperti sumbangan sukarela dan partisipasi lainnya bisa membedah 50 rumah. Belum lagi PKK, pengusaha yang ada di Takalar, BUMN seperti BRI, BNI, PDAM, serta BAZnas sebanyak 10 rumah.
Sehingga totalnya ada 1.250 rumah yang akan kita bedah tahun 2016. Karena ada dana pusat barupa imbal swadana sebanyak 1.000 rumah.
Investasi yang masuk di Takalar selama ini, seperti apa gambarannya?
Takalar ini menjadi salah satu daerah yang cukup banyak peminatnya untuk berinvestasi. Proses perizinan dipercepat. Namun fakta di lapangan, ada izin-izin tertentu yang memang butuh waktu untuk diselesaikan. Seperti Amdal.
Untuk itu kita sudah mempersiapkan kawasan ekonomi khusus (KEK). Kawasan ini sengaja kita buat untuk menciptakan efisiensi. Lokasinya di Kecamatan Mangarabombang.
Alasan memilih tempat tersebut, karena lahannya cuku luas, kesuburan tanahnya tidak sama dengan daerah lain, harga tanahnya juga masih murah. Selain itu, jaraknya dari Takalar tidak terlalu jauh, serta dekat dari laut.
Industri rumput laut juga dibikin. Hasil-hasil bumi dan industri pengalengan ikan serta udang bahkan sudah diekspor.
Semua ini merupakan cita-cita besar yang butuh keberanian besar untuk mewujudkannya. Bersama masyarakat Takalar, semoga semuanya bisa tercapai. (*/rus)
