GOWA, BKM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa akan memfokus peningkatan produksi kopi di wilayahnya. Salah satu komoditi yang diandalkan Pemkab Gowa ini adalah kopi jenis Arabica serta Robusta yang diberi nama Kopi Karaeng.
Kadis Kehutanan dan Perkebunan Gowa, HM Yusuf mengakui potensi Kopi Karaeng. Bahkan, produksinya mencapai 800 ton lebih per tahun. Jumlah tersebut, kata Yusuf diperoleh dari luas lahan sekitar 1.641 hektar dengan rata-rata produksi kopi asal daerah ini mencapai 529 kg per hektarnya.
Yusuf mengatakan, sejauh ini lahan perkebunan kopi di Gowa masih dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Umumnya lahan tersebut tersebar di berbagai wilayah dataran tinggi seperti di Kecamatan Tompobulu, Tombolopao, Parigi dan Tinggimoncong.
Diakuinya, selama ini pola pengelolaan tanaman kopi di kalangan masyarakat masih sangat jauh dari optimal. Kualitas kopi yang dihasilkan masih sangat rendah. Hal itu disebabkan karena petani cenderung memetik kopi sebelum masa panen. “Jadi wajar kalau hasil kopi petani dibeli dengan harga rendah. Selain dpetik sebelum waktunya, petani kita juga kerap menjual secara langsung ke pengumpul, sehingga pasarannya pun tetap dalam lokalan saja seperti Sinjai dan Toraja dan rata-rata pengumpulnya berasal dari dua daerah itu,” jelasnya.
Padahal, lanjut kadis, kopi yang ditanam di dataran wilayah Gowa juga tidak lalah dengan kwalitas kopi Toraja. Kopi asli Gowa, kata dia, sudah sempat diekspor ke berbagai negara di wilayah Eropa dan Amerika pada tahun 2008 lalu. Tapi ekspor tidak berlanjut dikarenakan belum ada investor yang mau mengelola lahan perkebunan kopi di wilayah Gowa.
Kopi Karaeng kata Yusuf, bebas fermentasi. Aromanya pun tak kalah dengan kopi Toraja. Karena itu ke depannya nanti pihaknya akan berupaya untuk mendongkrak hasil produksi dan kualitas kopi asli Gowa.
“Kita sudah siapkan berbagai langkah seperti intensifikasi, pemberian pupuk secara gratis dan penyuluhan kepada petani. Kami juga rencananya akan menyebar puluhan ribu bibit kopi untuk peremajaan,” jelasnya lagi.
Menurut dia, yang paling penting ke depan Kopi Karaeng dapat dikembangkan secara profesional dan dipasarkan ke berbagai wilayah, baik dalam maupun luar negeri. “Tentu ini bisa mendongkrak perekonomian petani kopi secara khusus dan masyarakat Gowa secara umum,” kuncinya. (sar-ril/c)