BARRU, BKM — Kabupaten Barru kini ditetapkan sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat wabah Demam Berdarah Dengue (DBD). Sejak mewabah awal tahun ini, BKM mencatat sudah empat orang dilaporkan meninggal dunia karena serangan virus nyamuk aedes egypti ini.
Data tersebut berdasarkan pengakuan para keluarga korban.
Namun data tersebut dibantah oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Barru. Dinkes mengklaim baru dua korban meninggal dunia karena positif DBD. Dua korban tewas lainnya dinyatakan meninggal dunia karena memiliki riwayat penyakit lain. Dinkes juga merilis jumlah warga Barru yang mengalami positif DBD sudah mencapai 177 orang.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Barru H Udin yang dihubungi via ponsel Minggu (14/2) mengakui korban meninggal dunia karena positif DBD adalah dua warga. Meski begitu, kondisi demikian sudah dinyatakan KLB. Dinkes kini tidak bisa berbuat banyak dalam mengatasi DBD karena anggaran 2015 untuk kegiatan foging sudah habis. Ironisnya kata dia, pengajuan anggaran untuk 55 fokus foging di 2016 belum turun hingga kini.
“KLB dengan jumlah 177 positif sekarang sangat diluar dugaan karena pengajuan fokus tahun ini sudah tidak berimbang dengan angka positif DBD diawal 2016,” tambah H Udin.
Makanya saat Dinkes hearing dengan dewan, pihaknya membeberkan keterbatasan anggaran tersebut. Adapun anggaran fokus foging yang diajukan juga belum turun, sehingga desakan dewan untuk dinyatakan sebagai KLB, yah kita sudah iyakan dihadapan legislatif.
Tetapi secara resmi KLB itu belum ada rekomendasi dari penjabat Bupati untuk secara formal sehingga Barru dinyatakan KLB. Kendati demikian, seluruh pihak Puskesmas sudah diminta dalam setiap kegiatan foging yang hendak dilakukan harus berhati-hati dan selalu berkoordinasi dengan dinkes.
Foging itu bisa dilakukan jika sesuai dengan protap. Jadi foging bukan ditempuh karena permintaan masyarakat, tetapi didasarkan kalau fokus itu ada yang mengalami positif DBD. “Jadi kalau ada pihak Puskesmas menempuh foging dan menggunakan anggaran operasioanl dari BPJS, yah kita pesan saja supaya tetap secara prosedural memakai dana BPJS tersebut,” pungkasnya.
Hari Minggu kemarin pihak Puskesmas Padongko dipimpin langsung Kepala Puskesmasnya Titus, mengklaim sudah melakukan foging dilima titik di wilayah Kota Barru. “Dasar kami lakukan hal itu, karena sudah ada dua pasien DBD yang positif dan dirawat di Puskesmas Padongko. Makanya kita ambil kebijaksanaan untuk menggunakan dana operasional BPJS untuk dilakukan foging,” aku Titus.
Warga Kecamatan Mallusetasi dan Tanete Rilau melaporkan bahwa kedua puskesmas di Kecamatan ini masih dipadati pasien DBD. Beberapa ruang perawatan diruang bansal dijejali pasien akibat DBD. Saat BKM melalukan pantauan dua malam lalu di Ruang IGD Di Pusekesmas Pekkae di Tanete Rilau, rata-rata dipenuhi pasien DBD. Bahkan ada warga Pulau Puteanging mengaku dua anaknya positif DBD dirawat diruang sama di IGD.
“Meski jauh dari pulau dan hanya menempati ruang IGD, kami tetap setia menerima perawatan kedua putri ini di Puskesmas Pekkae,” aku warga Pulau Puteanging ini (udi/B)