SIAPA yang tidak kenal Lurah Tabaringan Kecamatan Ujung Tanah, Andi Saipul, SE, MM. Lurah yang boleh dibilang kayak akan inovasi. Bagaimana tidak, sebelum penataan lorong menjadi bersih, hijau dan produktif di ributkan oleh Masyarakat Kota Makassar, justru dia sudah melakukan panen dua kali hasil lorong produktif di wilyahnya.
Sebuah gebrakan atau terobosan yang orang lain belum lakukan. Pria yang murah senyum dan pembawaan santai tersebut itu tidak berhenti memunculkan ide kreatif dan inovasi diantaranya percontohan konsep garpola dengan tanaman produktif.
Rumah bibit seperti bibit labu Caboca dan labu Botol yang terhitung masih langkah, pembinaan kelompok tani dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang berorientasi pada pemeliharaan dan pengembangan serta pemasaran ikan hias.
Ikan nila dan ikan lele, rumah belajar masa depan yang diperuntukkan untuk anak-anak yang kurang mampu (tingkat SD dan SMP) dengan sistem on line.
Disisi lain, dirinya juga membuat terobosan baru dalam pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB), dimana dua tahun berturut-turut yakni 2014 dan 2015 melampaui target yang sebelumnya tidak pernah mencapai target.
Sebagai seorang pemimpin, Ipul nama panggilan akrabnya sangat lihai dalam melihat, menangkap bahkan menciptakan suatu peluang. Lorong sempit baginya merupakan suatu peluang besar dalam pemanfatkan lahan sempit menjadi lorong produktif bagi masyarakat.
Bukan hanya pemilik konsep tetapi juga sebagai contoh dalam menuangkan atau mengaktualisasikan konsep cemerlang yang dimilikinya. Melibatkan seluruh warganya merupakan cara dia menyukseskan program yang berpihak sama masyarakat kecil itu.
Pendekatan kepada masyarakat yang selama ini dilakukan adalah buah karakter merakyat yang dia milikikinya. Bagaimana tidak dikatakan merakyat, Walaupun dia lahir dari kalangan ekonomi menengah keatas, lahir dari keluarga berwibawa dan pejabat tidak membuatnya gensi dan sombong sebagaimana anak keluarga orang kaya yang lain.
Justru dengan seperti itu, dirinya belajar tentang hidup mandiri, baginya hidup mandiri adalah suatu ketenangan hidup. Kemandiriannya dia buktikan dengan menjadi tukang sapu jalanan.
Dalam bekerja, Pria yang suka dengar musik pop itu selalu mengutamakan pengabdian kerakyatan dan solidaritas. Dia juga berpikir global bertindak lokal dan tidak ingi dijadikan sebagai objek pembangunan melainkan sebagai subjek pembangunan.
Dia bercerita jika dirinya menjadi tukang sapu jalanan selama tujuh tahun dengan dua tempat yang berbeda. Hal ini dia lakukan semenjak berada di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kelas III hingga duduk dibangku perkuliahan (sementer III).
“Saya pernah menjadi tukang sapu selama 7 tahun, mulai SMP sampai kuliah,” tandas pria yang romantis itu.
Menurutnya, dalam perjalanan hidupnya sebagai tukang sapu jalan, satu pengalaman yang tidak terlupakan hingga sekarang. Pengalaman itu ketika dirinya dituduh sebagai pencuri saat dirinya masih bertugas di jalan KH. Wahid Hasyim.
“Yang tidak bisa kulupa waktu saya dituduh sebagai pencuri, kebetulan warga mengejar pencuri yang menggunakan sepeda. Seandainya tidak ada itu sepeda, selesaima. Karna alasanku logis ” Masa ada pencuri bawa sapu” sehingga masyarakat percaya,” Kenangnya.
Selain itu, juga 3 unit sepeda kesayangannya hilang saat menjalankan tugasnya. Dari pengalamannya itu, berbagai inovasi juga dilakukan saat dirinya dipercaya sebagai Pegawai Lepas Harian (PHL) pada Dinas Pertamanah dan Pemakaman saat itu.
Atas kesabaran dan ketabahan serta kerja kerasnya itu (23 tahun tenaga honorer), dirinya menyandang status Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2007. Atas prestasinya itu, dirinya pun dipercaya menjadi Lurah Tabaringan Kecamatan Ujung Tanah.
Sebelumnya juga, dia telah menunjukkan kebolehannya sebagai pejuang dengan memasuki organisasi besar seperti Mahasiswa KOSGORO, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan dan Majelis Pemuda Indonesia – Komite Nasional Pemuda Indonesia (MPI- KNPI) Sulawesi Selatan.
Kedapan, pria yang mendapatkan cintanya lewat musik itu ingin memfokuskan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) pemuda sebagai generasi pelanjut, menjadikan lorong garden (Longgar) menjadi kawasan wisata. Potensi tersebut terlihat dengan banyak pengunjung dari luar yang untuk study banding.
Apalagi Tabaringan ditangannya memiliki prestasi yang gemilang diantaranya Juara umum HUT RI 2 tahun berturut-turut pada tahun 2014-2015, Harapan II PHBS tk. Makassar, Juara umum lomba MTQ anak Lorong HUT kota Makassar 2015. Selain itu, Tabaringan juga menjadi titik penilaian adipura untuk pertahankan kota sehat tingkat nasional dengan memperebutkan piala SWASTI SABA WISTARA. (man/A)