Site icon Berita Kota Makassar

Tak Pakai Ajudan, Media Jadi Mitra Keberhasilan

TANRIBALI LAMO menjadi Penjabat Gubernur Sulsel mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan Gubernur HM Amin Syam. Sebelum dilantik, ia menjabat sebagai Asisten Personel Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).

TIDAK ada yang menduga jika suami dari Rustina Dewi ini akhirnya dipilih menjadi Penjabat Gubernur Sulsel. Karena ketika itu, santer diberitakan bahwa Departemen Dalam Negeri (Depdagri) akan menunjuk mantan Pangdam V Brawijaya Mayjen Syamsul Mappareppa dan Dirjen Otonomi Daerah (Otda) DR Sodjuangon Situmorang.
Ayah dari tiga anak ini merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1974. Ia adalah putra mantan Gubernur Sulsel Letkol Inf H Achmad Lamo, yang memimpin daerah ini pada periode 1966-1978. Selain itu, Achmad Lamo juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 1977-1982 bersama Mashuri, Isnaeni, Raden Kartidjo dan Majskur dengan Ketua MPR pada saat itu Adam Malik.
Karir militer Tanri diawali di Kodam Siliwangi tahun 1975. Setelah itu, dia kembali ke kampung halaman ketika ditugaskan di Kodam Hasanuddin, mulai tahun 1976 hingga 1982.
Tahun 2001, Tanri naik pangkat menjadi brigadir jenderal dan menjabat sebagai wakil asisten personel KSAD. Tahun 2003, ia menjabat menjabat sebagai asisten personel KSAD dengan pangkat mayor jenderal.
Tugas utama Tanri sebagai penjabat gubernur Sulsel adalah memulihkan ketertiban dan keamanan di Sulsel, yang kala itu terusik dengan aksi massa terkait sengketa pilkada. Tugas penting lainnya adalah menjadi mediator perdamaian bagi kubu pendukung Amin Syam dan Syahrul Yasin Limpo.
Usai melaksanakan tugasnya sebagai Penjabat Gubernur Sulsel, Tanri kembali ditunjuk untuk posisi yang sama di Provinsi Maluku Utara. Jabatan Thaib Armayn sebagai Gubernur Maluku Utara berakhir 29 September 2013. Selanjutnya, Madjid Husain yang juga Sekretaris Provinsi (Sekprov) ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Gubernur Maluku Utara dan bertugas sampai dengan hari Rabu, 23 Oktober 2013 bersamaan dengan dilantiknya TanriLamo sebagai Penjabat Gubernur Maluku Utara oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi.
Pelantikannya berlangsung di Aula Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Jakarta oleh Mendagri Gamawan Fauzi. Tanribali Lamo yang juga Direktur Jenderal (Dirjen) Badan Kesbangpol Kemendagri ini menjalankan tugasnya di Malut hingga adanya pelantikan gubernur terpilih dalam pemilihan gubernur Maluku Utara yang berlangsung 31 Oktober 2013.
Tanribali kemudian dilantik menjadi Penjabat Gubernur Sulawesi Tengah, setelah masa jabatan Gubernur Sulteng HB Paliudju berakhir 24 Maret lalu. Ia menduduki posisi tersebut untuk menjaga kelancaran pemerintahan daerah. Selain itu, juga untuk memfasilitasi proses pemilukada yang sedang berlangsung dan bersikap netral dalam proses tersebut.
Yang menarik selama proses menjalankan tugas sebagai penjabat gubernur di empat provinsi, Tanri sama sekali tidak pernah didampingi ajudan. Kalaupun ada yang menemaninya, itu adalah sopir yang memang selama ini menemaninya melaksanakan tugas-tugas di Kemendagri.
Alasannya cukup sederhana. ”Kalau kita bisa melakukannya sendiri, kenapa mesti orang lain yang disuruh,” ujarnya.
Salah satu kunci sukses selama menjadi penjabat gubernur di empat provinsi berbeda, diakui Tanribali berkat media. Alasannya juga sederhana.
”Masa tugas saya di satu provinsi itu tidak lama. Hanya dalam hitungan bulan. Sementara ada program dan tugas yang harus saya laksanakan. Tidak mungkin dalam waktu singkat program serta tugas itu bisa saya jelaskan kepada masyarakat dan aparat pemerintah. Medialah yang memungkinkan untuk itu. Saya selalu bermitra dengan media,” jelasnya.
Tidak heran jika ketika menjadi penjabat gubernur, Tanri banyak melakukan kunjungan ke media. Salah satu misinya adalah menjelaskan program yang akan dilaksanakannya, untuk kemudian diberitakan media dan sampai ke masyarakat.
Seharusnya, sesuai ketentuan di institusi TNI, Tanri sudah memasuki masa pensiun di usia 58 tahun. Atau tepatnya pada tahun 2010 lalu. Namun karena beralih status menjadi PNS, umur pensiunnya bertambah menjadi 60 tahun, atau seharusnya pensiun di tahun 2012.
Tapi karena tenaganya masih dibutuhkan di Kemendagri, oleh Presiden SBY ketika itu memperpanjang masa aktifnya sebagai PNS selama dua tahun. Akhirnya, Tanri memasuki masa purna bakti di usia 62 tahun. Pada Desember 2014 lalu ia resmi berstatus sebagai seorang pensiunan. Pangkat terakhirnya di TNI adalah mayor jenderal.
Lalu apa yang dilakukan kakek dari lima cucu ini setelah pensiun? ”Saya masih biasa di Kemendagri. Tapi saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri. Setelah 40 tahun lebih melaksanakan tugas, saatnya saya menikmati waktu bersama keluarga,” tuturnya.
Setelah satu tahun dua bulan menjalani masa-masa pensiunnya, Tanribali ternyata mendapat dorongan untuk maju pada pemilihan gubernur Sulsel yang akan dihelat 2018 mendatang. Bahkan ayah dari Adriantito, Dade Aryanto dan Nisa Wulandari ini bahkan jauh-jauh hari sudah mendeklarasikan dirinya akan maju berkompetisi di pilgub.
Ditanya apa posisi yang diincarnya, calon gubernur atau calon wakil gubernur, Tanribali menjelaskannya secara diplomatis. ”Menjadi cagub atau cawagub itu urusan kemudian. Yang terpenting adalah saya ini orang yang mau bekerja,” tandas Tanri, yang ketika masih duduk di bangku SMA sering disapa Gito oleh teman-temannya.
Sukses mengantarkan empat provinsi pada pilgub yang aman dan lancar, apakah Tanribali juga akan sukses memenangkan pilgub Sulsel 2018 mendatang? Kita tunggu hasilnya. (*/rus)

Exit mobile version