Site icon Berita Kota Makassar

Adik Dikubur, Kakak Meninggal

Adik Dikubur, Kakak Meninggal

MAKASSAR, BKM — Korban keracunan usai menyantap makanan pallubasa, bertambah. Abi Syarwan (10) menjadi orang kedua yang meregang nyawa dalam kejadian ini.
Abi mengembuskan nafasnya yang terakhir, Senin (22/2). Ia menyusul adiknya, Muhammad Danis (3) yang meninggal sehari sebelumnya, Minggu (21/2) pukul 12.00 Wita.
Yang paling menyedihkan, sang kakak meninggal ketika prosesi pemakaman adiknya baru saja usai dilakukan di Pekuburan Beroangin, Tinumbu kemarin siang. Ketika itu pihak keluarga kembali mendapatkan informasi duka. Abi Syarwan meninggal.
Adik Dikubur,
Kakak MeninggalMendengar informasi itu, spontan keluarga korban yang berada di pemakaman langsung berteriak histeris, ”Allahu Akbar.” Abi mengembuskan nafas terakhirnya saat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo.
”Kami belum sampai di rumah, tiba-tiba mendengar kabar Abi meninggal. Kami langsung ke RS Wahidin untuk mengurus lagi jenazah Abi,” kata Ipa, tante korban yang ditemui di rumah duka Jalan Tinumbu 142, kemarin.
Pihak keluarga tidak sanggup menahan rasa duka yang mendalam. Sebab keduanya meninggal ketika ayahnya masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit UIT (Universitas Indonesia Timur) di Jalan Abdul Kadir, setelah mendapat rujukan dari RS Faisal.
”Kami belum menyampaikan kepada orangtuanya kalau Abi Syarwan meninggal. Karena ayahnya masih depresi. Sementara ibunya memaksa meminta untuk keluar, karena ingin melihat pemakaman putra bungsunya Danis dan juga Abi Syarwan. Rencananya, Abi juga dimakamkan di pekuburan Beroangin, samping kuburan adiknya.
Sementara Iskandar Nurdin, paman korban mengaku menyerahkan penanganan kasus ini kepada polisi. ”Ini jelas keracunan. Kami pihak kelurga tidak fokus pada makanan yang dikonsumsi. Sebab bisa saja ada hal lain yang membuat sekeluarga ini keracunan,” kata Iskandar Nurdin.
Diakui Iskandar, antara Qadri yang mengajak makan, dengan Megawati serta Heriyanto sudah saling kenal selama puluhan tahun. Bahkan mereka sudah seperti bersaudara.
”Tidak ada dugaan bila Qadri itu yang berbuat apa-apa kepada kelurga kami. Sebab kami sekeluarga sudah menganggap Qadri sebagai bagian dari keluarga kami,” terang Iskandar lagi.
Sebenarnya, menurut Iskandar, jenazah keponakannya akan diotopsi sebelum dikuburkan. Namun hal itu ditolak, karena tidak tega melihat jenazahnya terkatung-katung.
Terkait kejadian ini, pihak keluarga sudah melapor ke polisi pada hari Minggu (21/2). ”Saya sudah lapor ke Polsek Panakkukang. Namun ditindaklanjuti Polres Pelabuhan,” ucapnya.
Keluarga berharap polisi bisa segera mengusut tuntas kasus ini. Apalagi kondisi orang tua korban sudah membaik.
Pihak keluarga kembali mengenang Abi Syarwan dan Muhammad Danis. Abi yang terakhir duduk di bangku kelas V SD Athirah kerap melakukan salat berjamaah bersama adiknya.
”Keduanya selalu salat berjamaah. Abi Syarwan yang mengajak adiknya salat berjamaah,” terang Iskandar.
Kapolsek Wajo Kompol Achmad Yulias yang menangani kasus ini, ketika dikonfirmasi mengaku telah mengamankan sejumlah barang bukti dari rumah korban, yang diduga menjadi penyebab keracunan. Diantaranya roti, minuman mineral, pisang goreng kipas serta muntahan korban.
”Kita masih melakukan lidik. Rencananya besok (hari ini, Selasa, 23 Februari) akan dilakukan oleh TKP,” jelas mantan Kapolsek Tamalanrea ini.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Makassar mengambil langkah antisipatif menyusul kejadian ini. Seluruh kepala puskesmas dan kepala sanitasi puskesmas se-Kota Makassar dipanggil dan diminta untuk melakukan pengawasan terhadap rumah makan (RM) ataupun warung makan yang ada di kota ini.
Setiap bulan, para petugas puskesmas dan sanitasi diminta untuk turun melakukan pengawasan serta mengambil sampel makanan di setiap warung dan rumah makan. Selanjutnya, sampel tersebut diuji dalam laboratorium.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar dr Naisyah Tun Azikin menginformasikan hal itu ketika dihubungi, Senin (22/2). Ia mengimbau kepada semua pemilik warung makan ataupun rumah makan untuk segera mengurus dan mengantongi izin dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
”Nantinya, akan diberikan tanda khusus bagi warung makan dan rumah makan yang belum mengurus izinnya. Tempat itu akan dipasangi stiker oleh pengawas,” jelasnya.
Sebaliknya, bagi warung makan yang sudah lulus sampel dan telah mengantongi izin, akan diberikan sertifikat higienis dari Dinas Kesehatan. Ini menjadi dasar bahwa usaha warung dan rumah makan tersebut layak untuk beroperasi dan aman untuk masyarakat.
“Kami akan memberikan sertifikat higienis kepada pemilik usaha rumah makan setelah diuji dan terbukti terjamin untuk dikomsumsi. Karena itu kami imbau semua warung dan rumah makan melengkapi surat izinnya untuk mendapat sertifikat,” terang Naisyah.
Dinkes juga akan merekomendasi ke Badan Perizinan untuk tidak memberikan izin kepada pelaku usaha warung makan yang tidak punya sertifikat higienis.
Terpisah, Sekertaris Kota (Sekkot) Makassar Ibrahim Saleh telah menginstruksikan kepada Dinkes dan BPOM Makassar untuk intens melakukan koordinasi dan melakukan pengawasan terhadap rumah makan dan warung warung seperti sop saudara, coto ataukah pallubasa. Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir peristiwa keracunan. (ish-arf/rus/a)

Exit mobile version