Site icon Berita Kota Makassar

Lumpuh, Heriyanto Sempat Cium Jenazah Putranya

ist

MAKASSAR, BKM — Cerita pilu nan mengharukan dari keracunan satu keluarga di Jalan Pelita Raya terus mengalir. Yang terbaru adalah kisah Heriyanto, sang kepala kepala keluarga.
Ternyata, ketika anak sulungnya Abi Syawan meninggal dunia pada hari Senin (22/2), Heriyanto sempat pulang ke rumah keluarganya di Jalan Tinumbu guna melihat jenazah putranya itu untuk yang terakhir kalinya.
Tapi Heriyanto tidak sendirian. Ia harus ditemani petugas medis dan dokter Rumah Sakit Universitas Indonesia Timur (UIT). Sebab kondisinya saat itu masih kritis. Anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan dan mengalami kelumpuhan, serta tak bisa berbicara. Ia terserang stroke.
Hingga kemarin, Heriyanto dan istrinya masih mendapat perawatan intensif di RS UIT Jalan Abdul Kadir. Kondisinya mulai membaik, dibanding hari-hari sebelumnya, meski masih diberi bantuan pernafasan. Ia juga sudah bisa berbicara dengan normal.
Apa yang dialaminya, diceritakan Heriyanto kepada kerabat dekatnya. Salah satunya Iskandar Nurdin, kakak iparnya.
”Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik dibanding dua hari lalu. Kata dia, semua ini berkat doa keluarga, kerabat dan warga yang bersimpati. Dia sangat bersyukur diberi pelayanan yang luar biasa di RS ini. Semua itu menjadi sugesti baginya untuk bisa kembali normal seperti dulu,” kata Iskandar yang ditemui di RS UIT, kemarin.
Dengan membaiknya kondisi Heriyanto saat ini, pihak keluarga berusaha untuk tidak terlalu mengulang cerita kematian kedua putranya, Abi Syarwan dan Muhammad Danis. Sebab jika itu dibahas, menurut Iskandar, adik iparnya tak tahan mendengarnya.
”Setelah mendengar kematian kedua anaknya, Heriyanto tidak tahu mau bagaimana. Badannya terasa kaku, lumpuh dan mulutnya tak bisa berkata-kata. Dia depresi berat waktu itu,” ujar Iskandar
Dokter yang paham akan kondisi psikologis Heriyanto saat itu, kemudian berinisiatif mengantarnya ke rumah Iskandar di Jalan Tinumbu 142, tempat Abi Syarwan disemayamkan.
”Waktu itu dia (Heriyanto) hanya datang sejenak. Sekejap ia menoleh lalu mengecup jenazah putranya. Setelah itu dokter membawanya kembali ke rumah sakit. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan setelah dua anak meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan akibat keracunan,” ujar Iskandar yang selama ini menjaga adik iparnya itu di rumah sakit.
Saat hendak mengecup jenazah sang putra, Heriyanto terpaksa dibantu oleh tim medis yang menyertainya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tubuhnya dalam kondisi lumpuh.
Terpisah, dr Indra Gunawan,SpAN yang menangani Heriyanto, mengakui kondisi pasiennya sudah mulai membaik. Jari tangan serta kaki kiri dan kanan yang sebelumnya tidak bisa bergerak, dengan penanganan secara bertahap, kondisinya terus mengalami perubahan.
“Syukur Alhamdulillah, kondisi Heriyanto yang keracunan gas carbon monoksida (CO) terus membaik. Dengan pelayanan dan penanganan secara bertahap, pasien yang sebelumnya dirawat di bagian ICU (Intensive Care Unit), kini sudah dipidahkan ke ruang perawatan. Tangan, kaki kiri dan kanan yang sebelumnya tidak bisa bergerak, kini sudah bisa digerakkan. Khusus untuk kaki kanan masih dalam tahap pemulihan,” terang dr Indra.
Begitu pula Megawati, istri Heriyanto, kondisinya juga sudah mulai membaik. Meski begitu, masih ada sedikit keluhan yang baru saja disampaikan kepada dokter. Ia masih biasa merasakan nyeri pada bagian perut.
”Kami masih melakukan perawatan terhadap Megawati yang masih merasakan nyeri pada perutnya. Kita akan lakukan pemeriksaan radiologi untuk mengetahui apakah masih terserang carbon monoksida atau tidak,” terangnya
Dijelaskan dr Indra Gunawan, carbon monoksida atau CO adalah gas yang tidak berbau, sehingga kadang kita tidak menyadari ketika menghirupnya. Selain itu, gas ini juga tidak berasa dan tak terlihat. Karenanya sering disebut silent killer (pembunuh diam-diam).
“Di saat kita bernafas dengan menghirup karbon monoksida, maka carbon monoksida akan masuk ke paru-paru dan mengikat hemoglobin pada sel darah merah. Permasalahannya adalah hemoglobin lebih mudah terikat pada carbon monoksida dibanding oksigen. Sehingga jika jumlah carbon monoksida meningkat akan mengakibatkan jumlah oksigen yang terikat berkurang, dan akan terjadi kekurangan oksigen atau hipoksia,” jelasnya.
Dikatakan, gejala keracunan carbon monoksida mirip dengan gejala flu, sakit kepala, mual dan kelelahan. Kemudian bisa membuat tidur, bahkan terus tidur hingga membuat fisik lemah hingga pikiran tak konsentrasi. Lebih tinggi dapat menyebabkan kebingungan, pusing, lemah, mengantuk, sakit kepala parah, dan pingsan.
Jika otak tidak lagi memperoleh oksigen yang cukup, carbon monoksida akan menyebabkan tidak sadarkan diri, koma, kerusakan otak permanen bahkan kematian.
“Jadi efeknya dapat mematikan menyebabkan kerusakan organ, penyakit, dan kematian lebih lambat. Bayi, anak-anak, dan hewan peliharaan lebih rentan terhadap efek dari carbon monoksida daripada orang dewasa. Mereka berada pada risiko yang lebih besar untuk keracunan dengan akibat adalah kematian. Paparan jangka panjang, tambahnya, dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf dan peredaran darah,” terangnya.
Menurut dr Indra Gunawan, pihaknya sudah menjelaskan bahaya carbon monoksida kepada Heriyanto. Kepada Heriyanto disampaikan gas CO dihasilkan dari pembakaran tidak lengkap bahan bakar, seperti propana, bensin, minyak tanah serta gas alam. Termasuk asap knalpot kendaraan bermotor, asap tembakau/rokok, cerobong asap yang tersumbat/rusak, pembakaran bahan bakar dalam ruang tertutup misalnya gencet (mesin diesel), peralatan gas yang tidak berfungsi dengan baik, serta tungku kayu.
”Makanya, jika kita menggunakan peralatan elektronik, seperti AC di dalam rumah, pembuangannya jangan disimpan di dalam rumah. Harus di luar rumah agar gas COnya tidak dihirup,” kunci dr Indra.
Dihubungi terpisah, pemilik warung makan pallubasa Samalona, Abdul Rahman meminta agar brand usahanya bisa dipulihkan. Sebab ternyata penyebab keracunan satu keluarga bukan karena makanan pallubasa.
”Kami hanya meminta media untuk meluruskan, sebab penyebab keracunan bukan karena pallubasa. Omzet penjualan kami menurun akibat kejadian ini,” kata Abdul Rahman.
Rahman tidak ingin menyalahkan siapa-siapa dalam peristiwa ini. Dia hanya ingin bagaimana tempat usahanya bisa tetap mendapat kunjungan seperti sebelumnya. (ish/rus/b)

Exit mobile version