Site icon Berita Kota Makassar

Sudah Tidak Ada Orang Yang Datang Berutang

PERJALANAN orang untuk berusaha tidak selamanya berjalan mulus. Tiba masanya orang akan terpuruk meski akhirnya bangkit kembali. Begitupun yang dilakoni para penjual kayu dan balok.

Laporan: JUNI SEWANG

Hingga era tahun 2000-an, penjual kayu masih merajai bisnis properti dan proyek pemerintah. Kayu seperti kebutuhan pokok yang harus ada, karena tidak mungkin suatu bangunan memiliki atap tanpa kayu dan balok.
Tapi diera sekarang ini, kayu dan balok bukan lagi menjadi kebutuhan pokok dalam bisnis properti. Baja ringan adalah alternatif baru sebagai bahan pengganti kayu dan balok dalam membuat atap. Bahkan baja ringan sudah menyatu dengan seng baja ringan yang dipesan bersamaan.
Muslimin, penjual kayu di Jalan Galangan Kapal membenarkan, jika bisnis penjualan kayu mulai lesu dan sangat mempengaruhi kehidupan mereka.
Yang lebih fatal lagi dengan kemunculan baja ringan, orang tidak lagi datang untuk mengutang kayu hingga mencicil kayunya.
“Dulu pemilik rumah bisa hutang dulu, rumah selesai dibangun, baru cicilan kayunya dibayar. Bahkan orang-orang ada yang menabung kayu, setelah bahannya semua siap baru mereka bangun rumah. Ini sangat menguntungkan penjual kayu,” terang Muslimin.
Selain itu, pola pemesanan kayu di tingkat pedagang juga berubah seiring pola permintaan masyarakat yang berubah, terlebih penjual tidak mampu mengambil persediaan terlalu banyak karena bisa menghabiskan modal.
Muslimin yang juga menyuplai kayu ke beberapa kota lain berharap adanya perubahan tren masyarakat dan dikuranginya persaingan dengan penggunaan baja ringan.
“Sudah sejak tiga bulan lalu saya sudah mengurangi pesanan kayu, papan dan balok dari somil di Kota Palopo. Saya khawatir jika mengambil banyak kayu modal akan habis dan pengembalian modal juga terlambat,” lanjutnya.
Dengan nada sedih, Muslimin menegaskan tetap akan berjualan kayu meski minat masyarakat menggunakan kayu untuk mendirikan bangunan menurun. Sebab kata Muslimin, kayu masih tetap akan dibutuhkan warga untuk membangun rumah seperti papan untuk digunakan pengecoran.
Dia juga mengaku, bisnis penjualan kayu sudah digelutinya lebih 10 tahun ini di Jalan Galangan kapal, dan baru dua tahun ini bisnis kayu mulai lesu.
“Memang sekarang tidak kayak dulu. Dulu orang masih menjadikan kayu sebagai bahan utama untuk membuat atap, tetapi sekarang banyak alternatif seperti rangka baja dan besi plat. Meski kondisi seperti itu, saya tetap bertahan untuk berjualan. Mudah-mudahan masih ada juga orang yang mau membeli kayu,” ujarnya sambil mengusap cucuran keringat di dahinya.(jun/b)

Exit mobile version