SEBAGAI sebuah kota metropolitan, Makassar menyediakan berbagai jenis lahan untuk mengais rezeki. Tak terkecuali sampah.
Laporan: Aria Alqadri
HARI masih pagi. Tapi suasana di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Antang sudah ramai. Mereka terdiri dari para pemulung dan para sopir mobil angkutan sampah.
Ada yang membuang sampah. Ada pula yang memungutnya kembali. Silih berganti perputaran bak roda ini berlangsung di tengah aroma yang cukup menyengat. Sebagian orang memang telah menjadikan TPA Antang yang berada di Kecamatan Manggala sebagai tempat mencari nafkah.
Setiap hari, sedikitnya ada 800 ton yang dihasilkan warga Makassar dibuang ke tempat ini. Mobil Tangkasaki (Truk Angkutan Sampah Kita) dan tongkang milik Pemerintah Kota Makassar yang setiap hari mengangkut dan membuang sampah di TPA, oleh warga sekitar yang bekerja sebagai pemulung, merupakan kendaraan pembawa rezeki.
Ketika mobil pengangkut sampah masuk ke dalam TPA Antang yang telah menyerupai bukit sampah, para pemulung langsung berlarian menghampiri kendaraan tersebut. Bermodalkan karung dan capit, mereka memilah sampah yang telah dibongkar dari atas mobil, seperti sampah plastik, besi, alumunim dan juga alma.
Mereka sudah tidak risih lagi dengan pekerjaan seperti ini. Bau yang menyengat tak dihiraukan. Semua itu sudah menjadi hal yang biasa di keseharian mereka.
Sittiama Dg Tene (65), warga yang tinggal hanya beberapa meter dari gerbang masuk TPA Antang, tepatnya di Jalan HMD Borong Jambu, Kecamatan Manggala, mengaku sudah 15 tahun ia menetap di daerah ini.
Awalnya ia mengaku tidak bisa menahan bau menyengat yang dihasilkan dari pebukitan sampah. Ditambah lagi dengan mobil pengangkut sampah yang parkir di depan rumahnya setiap hari. Namun lama kelamaan dia dan keluarganya sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.
Menurut Dg Tene, pada tahun 1999 ia bersama suaminya membangun sebuah rumah semi permanen di Jalan HMD Borong Jambu, yang hanya berjarak 10 meter dari gerbang masuk TPA Antang. Rumah yang dibangun cukup sederhana itu ia jadikan sebagai tempat berteduh bersama lima anaknya.
“Saya sudah lamami tinggal disini, Nak. Dari tahun 1999 sampai sekarang saya masih betah tinggal disini. Kalau menurut saya, tinggal disini fisik harus kuat dan tidak jijik. Memang kalau kita bicara sampah pasti terkesan kotor dan bau. Tapi kalau kondisinya mendesak mau diapa lagi,” ujarnya.
Saat ini, Dg Tene yang terbilang tidak muda lagi mengisi kesehariannyan dengan memulung dibantu oleh anak dan cucu cucunya. Menjadi pemulung di TPA dengan mengumpulkan gelas plasti, besi dan tembaga yang dapat dijadikan uang adalah pilihan untuk menambah penghasilan yang ia gunakan untuk biaya hidup.
Dengan bermodal karung, tang dan capit, Dg Tene bersama anak-anaknya setiap hari menyusuri bukit sampah di TPA Antang, dengan harapan bisa menapatkan sampah yang dapat diuangkan. Setiap minggu, sampah berupa botol atau gelas plastik, besi, tembaga, aluminium yang dikumpul di dalam karung berukuran besar dari hasil memulung, ia timbang dan menukarnya menjadi uang. Biasanya, ia mengaku bisa mendapatkan uang sebesar Rp200 ribu per minggu. Uang tersebut kemudian ia kumpulkan bersama anak anaknya.
“Masih ada juga cucu cucu saya yang masih sekolah. Ada yang masih kelas 4 dan kelas 6 SD. Jadi cucu saya biasanya kalau sudah pulang sekolah, mereka lanjut pergi memulung untuk tambah uang jajan. Lumayan mereka bisa dapat Rp200 ribu per minggu. Untuk sampah seperti gelas dan botol plastik dihargai Rp1.000 per kg,” jelasnya.
Sementara Tamrin (52) salah seorang pekerja mobil Tangkasa yang ditemui di sekitar gerbang TPA Antang, mengaku belum cukup satu tahun bekerja sebagai petugas mobil pengangkut sampah. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mengaku sering memilah sampah-sampah yang dapat diuangkan, seperti sampah plastik dan besi di atas mobil tangkasa. Hal itu ia lakukan untuk menambah pendapatan sehari-hari.
“Saya juga biasa kumpul sampah plastik di atas mobil sebelum dibongkar di TPA Antang. Itu saya lakukan untuk mendapat uang tambahan beli kopi dan uang rokok dengan teman teman. Apalagi biasa kita disini sampai malam mengantre membongkar muatan,” terangnya.
Upah yang ia dapat menjadi sopir mobil pengangkut sampah setiap bulan sebesar Rp1,7 juta. Namun terkadang upah setiap bulan yang ia dapatkan menunggak sebulan. Kondisi ini membuat Tamrin pusing dan harus mengutang ke tetangganya untuk dapat tetap makan bersama keluarganya. Tiga anaknya yang masing-masing sudah berkeluarga masih tinggal bersamanya.
“Kalau gajiku menunggak, saya biasanya cuma utang sama tetangga atau anakku yang bantu beli ikan, sayur atau nasi untuk makan sama-sama. Tapi mudah-mudahan gajiku tidak menunggakji lagi,” imbuhnya.
Sebelum bekerja menjadi pengangkut sampah di mobil Tangkasa, Tamrin dulunya bekerja sebagai tukang becak. Awalnya ia mengaku cukup jijik mencium bau sampah di dalam box mobil tangkasa, yang sering bikin perutnya mual.
Tetapi demi menghidupi keluarganya, ia mengaku harus berjuang dan membiasakan dengan semua itu agar tetap bertahan berkerja. (*/rus/b)
