ADA banyak pengalaman yang bisa diceritakan oleh seorang palimbang-limbang (orang yang membawa perahu) penyeberangan. Mulai bagaimana dia menantang ombak sampai penghasilan yang dia peroleh.
Laporan: ARIF AL QADRY
Pagi, Minggu (28/2), seorang pria tegak berkaos kuning sedang berbaur di Dermaga Kayu Bangkoa. Dermaga yang beroperasi sejak puluhan tahun ini tidak pernah sepi.
Beragam aktifitas warga pulau maupun warga kota yang hendak ke pulau dan ke Kota Makassar silih berganti.
Begitupun aktifitas yang dilakoni pria berkaos kuning bernama Rahman (41) tahun. Rahman tidak asing di dermaga itu. Setiap pagi, Rahman sudah memulai berada di Dermaga kayu Bangkoa sekira pukul 06.00 Wita.
Sudah 20 tahun Rahman menjalani hidup sebagai seorang palimbang-limbang di dermaga yang berada di Jalan Pasar Ikan persis disamping Makassar Golden Hotal (MGH).
Sudah banyak pengalaman yang dia rasakan mulai dari perahu yang nyaris terbalik melawan ombak besar hingga memperbaiki perahu yang bocor saat ditengah laut.
Meski tidak memiliki satupun perahu atau skoci yang seringkali disebut warga pulau, Rahman tetap tegar dan bersemangat membawa perahu yang dia sewa dari kakak kandungnya sendiri.
Puluhan penumpang selalu dia bawa setiap harinya melintasi laut menuju sejumlah pulau yang masih masuk dalam kawasan Kota Makassar. Penumpang yang terdekat di Pulau Lae-lae dan terjauh di Pulau Samalona yang ditempuh hingga satu jam lebih dari Kota Makassar.
Warga yang tinggal di Pulau Lae-lae sebagian besar diantar menggunakan perahu yang memiliki mesin 1.100 CC.
Kapal yang memiliki ukuran panjang sekitar empat meter dan lebar dua meter, setiap hari menyebrangkan paling banyak 10 orang dalam sekali jalan. Perahu tersebut sudah didesain menggunakan atap dari terpal dan sentuhan warna cat yang cerah.
Dalam sekali perjalanan, Rahman tidak mematok harga yang tinggi, sekali jalan tarif Rp10.000. Apalagi, warga pulau selalu menggunakan perahu sebagai alat trasportasi mereka.
Pria kelahiran Makassar 8 Februari 1975 yang telah dikaruniai dua orang anak itu mengaku sangat menikmati pekerjaannya. Sejak pukul 06:30 wita, dia sudah meninggalkan rumahnya dan memulai menunggu penumpang di dermaga Kayu Bangkoa.
“Saya menyewa perahu kakak saya Rp50 ribu per hari. Setiap hari saya mengantar warga pulau hingga 40 orang dan dominan penumpang yang diangkut adalah warga Pulau Lae-lae yang ingin ke Makassar,” katanya.
Sambil meneguk kopi bersama penulis, ria yang bertubuh sedikit tambung ini mensyukuri pekerjaan yang dilakoninya. Setiap hari dia dapat membawa pulang uang rata-rata sebanyak Rp250 ribu atau sebesar Rp300 ribu.
Uang yang dia peroleh setelah seharian membawa perahu hingga pukul 18:00 Wita.”Uang saya sisihkan untuk membayar uang sewa perahu dan membayar bensin. Selebihnya biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah kedua anak saya di Makassar,” kata Rahman.
Meski pendapatan yang diterima setiap hari tidak cukup dibandingkan melawan kerasnya hantaman ombak, panasnya udara ditengah laut dan kencangnya angin, dia selalu menyukurinya.”Rezeki yang kita peroleh semuanya datang dari Allah dan kita harus syukuri,” ujarnya.
Dia juga mengakui, musim penghujan seperti saat ini, penghasilan palimbang-limbang sangat kecil, sebab banyak penumpang takut untuk menyeberang dengan alasan khawatir adanya angin kencang.
“Saya biasa sedih kalau seharian duduk di dermaga tak satupun penumpang yang akan menyeberang, karena kondisi cuaca yang buruk. Saya juga gunakan waktu sepi tersebut untuk membersihkan perahu,” ucapnya.(arf/b)